Senin, 23 Sep 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Sinetron Sukses di Layar Kaca Indonesia Diangkat dari Kisah Nyata

Sinetron Sukses di Layar Kaca Indonesia Diangkat dari Kisah Nyata

admin Minggu, 21 Juli 2019 14:41 WIB
SIB/Dok
Milenial: Ls Drs Naurat Silalahi bersama kaum milenial di Singapore Expo Convention and Exhibition Centre, Juni 2019.
Medan (SIB) -Masih ingat 'Sayekti dan Hanafi' yang menjadi tontonan wajib pirsawan televisi Indonesia era 1990-an? Sinetron tersebut diangkat ke layar kaca berdasar kisah nyata penyanderaan bayi dari pasangan kurang mampu ekonomi di Medan, Sumut.

Kisah nyata tersebut bersumber dari laporan Idris Pasaribu yang terbit di majalah Kartini. Karena menjadi isu nasional, diangkat menjadi tontonan, diperankan oleh Neno Warisman. Hasilnya share ratting serial tersebut paling tinggi.

Selepas dari itu, banyak lagi laporan sastrawan kelahiran Oktober 1952 di Delitua, Sumatera Utara tersebut dipublikasi. Idris kemudian melahirkan novel laris 'Acek Botak' diproduksi tahun 2009 dan 'Picalang' (2012).

Sama seperti kerja kreatifnya terdahulu, tulisan pria idealis yang didokumentasikan National Library of Australia itu berisi latar belakang sosial dan sejarah di Sumut. Juli 2019, Idris Pasaribu meluncurkan 'Mangalua'. Beda dengan 'Acek Botak' dan 'Picalang' yang diluncurkan dengan seremoni dihadiri massa, 'Mangalua' belum melalui proses tersebut tapi sudah menjadi perbincangan. "Aku bersyukurlah kalau sudah jadi perbincangan. Memang, novel karya Idris Pasaribu selalu hit," ujar pria berambut perak yang belakangan fokus pada pembinaan mental nasionalis kaum milenial lewat gerakan Marhaenis tersebut.

Proses serupa sedang dilakukan Ls Drs Naurat Silalahi. Bedanya, jika Idris Pasaribu lewat novel atau karya publikasi, mantan Ketua Pemuda Methodist itu memasakan pengalaman spiritualnya dari satu podium ke pertemuan eksklusif berisi dialog interaktif!

Sabtu (20/7), Ls Naurat Silalahi menjadi pembicara utama dalam testimoni kesehatan tubuhnya pasca divonis dokter menderita gagal ginjal kronis (GGK) yang diadakan PT Riway Internasional di Sudirman Ballroom Hotel Lee-Polonia Jalan Sudirman - Medan.

GGK membuatnya meninggalkan aktivitas bersastra. Ia diopname berbulan-bulan dan ditangani dokter terkemuka, harus cuci darah bahkan hendak transplantasi ginjal. "Hampir saja nyawaku terbang," ujarnya.

Sembuh karena mengonsumsi Purtier Placenta Riway, kemudian masuk dalam Tim Galaxy Diamond 36 di bawah kendali Tukiran Simon, Ls Naurat Silalahi menjadi pembicara, di dalam dan luar negeri.

Terakhir ia bertestimoni dalam Gala Dinner with Bigbos di Singapore Expo Convention and Exhibition Centre, Juni 2019 dan di SICC Bogor pada Juli 2019.

Mengikuti Ls Naurat Silalahi berbicara di podium, hampir sama membaca karya-karya cerpen, novel dan esai yang berisi humor tapi mencucuk jiwa sosial. Bahkan kadang 'nakal' khususnya bila berhadapan dengan yang 'bening-bening' hijau. "Orang-orang muda harus paham akan hidup sehat," ajaknya.

Selain itu, ia tetap mengutip nats Alkitab. Ketika di masa kritis, doa-doa dipanjatkan para pemuka lintas agama, khususnya dari koleganya. "Putraku, Abraham Partogi yang memintaku untuk terus mengandalkan Tuhan. Saat aku sekarat, saat berdiri di sini dan selamanya," ujarnya sambil mengingat dukungan rekan kerjanya seperti Pdt Bennet Sihombing MTh, Drs Alex Silalahi MSi dan permaisurinya, Cerolina Sintauli Simanjutak.

Ia berniat membukukan perjalanan religi, yang membuat Ls Naurat Silalahi semakin dekat denganNya. "Tetapi, waktu belum ada. Kala ada kesempatan mood masih dangkal. Tapi talenta yang ada padaku harus untuk memuliakanNya" tutupnya. (T/R9/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments