Sabtu, 04 Apr 2020
  • Home
  • Hiburan
  • Sepenggal Syair KemuliaanNya Gubahan Martha Pasaribu

Sepenggal Syair KemuliaanNya Gubahan Martha Pasaribu

Senin, 24 Februari 2020 19:00 WIB
Foto: SIB/Dok

Martha Pasaribu - Pdm EM br Aritonang

Medan (SIB)
Martha Pasaribu hadir dalam pertemuan tokoh marga dan agama di acara Punguan Borbor Padangbulan dan Medan Baru, Minggu (23/2). Mantan pengurus inti KNPI Sumatera Utara (SU) itu bergabung dalam kelompok worship leader bersama Ketua Umum (Ketum) Persatuan Wanita (PW) Gereja Pentakosta (GP) Pdm EM br Aritonang STh. Selain berkidung, ia menutori hadirin yang mengikuti kegiatan. "Kita berkidung, wajib sebagai maksud memuliakanNya. Dalam doa, kita meminta berkatNya. Mulai dari kesehatan sampai rezeki, tapi kita juga harus berusaha.

Kita minta kesehatan, tapi harus pula menjaga asupan untuk tubuh," papar Martha Pasaribu sambil menunjuk Yesaya 5: 11 yang mengingatkan soal kehidupan sehat tanpa minum beralkohol. "Saat usia sudah banyak, bolehlah minum kopi tapi gulanya harus dikontrol. Kopi yang nikmat itu kan yang tanpa gula!"

Diiringi musisi Hotman Parulian Sinaga, mengalunlah 'Hidup Ini Adalah Kesempatan' yang dimaknai Martha Pasaribu sebagai momentum memperbaharui kehidupan dalam melayaniNya. "Kita berkidung melayaniNya. Itu bukan berarti cuma berdoa, tapi juga memerhatikan sesama, mulai dari asupan rohani hingga bimbingan untuk jasmani," tegasnya.

Perempuan yang dijuluki Trio Kwek Kwek (bersama mantan anggota Paskibra Nasional Purnama Sitompul dan ahli pertanian perikanan Nora Limbong) di organissi kepemudaan Sumut itu pun menggubah sepenggal syair yang berhubungan dengan kemuliaanNya. "Ucapan dan berkidung adalah doa. Karenanya, kita harus menyempurnakan kehidupan sesuai doa-doa," tambah Martha Pasaribu yang mantan Wakil Ketua PD Bhayangkari Jawa Timur itu.

Pdm EM br Aritonang menambahkan, kidung yang terbaik adalah memuliakanNya tapi lebih ideal bila syairnya menyertakan hal-hal terkait bangsa dan negara. "Cara itu untuk menumbuhkan cinta pada bangsa dan negara," tegas putri mantan Bupati Dairi tersebut.
Menurutnya, para tokoh dalam memberi contoh dan mengajarkan kaum muda untuk menebalkan iman harus memerhatikan nasionalisme kebangsaan. Alasannya, bila hanya menitik-beratkan pada iman maka dapat membuka kemungkinan fanatisme sempit. "Tidak baik fanatisme sempit. Jika dalam agama, fanatisme sempit dapat menjadi radikal," tutup Pdm EM Br Aritonang. (R10/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments