Senin, 16 Sep 2019

Seni Lintasgenre Isi TCWM Festival 2019

admin Minggu, 09 Juni 2019 10:44 WIB
Ilustrasi
Tobasa (SIB) -Sejumlah seni lintasgenre mengisi Toba Caldera World Music (TCWM) Festival 2019 , 14-16 Juni di Lapangan Bukit Singgolom-Lintong Ni Huta, Tampahan-Toba Samosir. Para penampil di antaranya Field Players dari Malaysia; Jade School Guzheng Ensemble feat Prof Xiaoxin Xiao (China); Daniel Milan Cabrera-Deva Baumbach (Mexico); Community Creative (UNP Padang); Communal Primitive (USU Medan); Ensamble Musik Univ HKBP Nommensen Medan; Ensambel Gendang Kampung (UNIMED Medan); dan sejumlah talent lokal lainnya.

Direktur Pemasaran Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT) Basar Simanjuntak mengatakan, kegiatan dikemas di dekat Bandara Silangit di Balige dimaksudkan agar pengunjung dapat secara lebih mudah mengakses seluruh kegiatan. "TCWM Festival 2019 merupakan bagian dari kalender kepariwisataan di Danau Toba. Festival diharapkan juga menjadi satu model pengembangan pariwisata berbasis kegiatan (event-based tourism development) yang berkelanjutan di Danau Toba, dan juga diharapkan dapat menjadi ajang berkumpulnya para komunitas world music dunia," sebutnya.

Ia merinci, selain para pesohor global seperti disebutkan di atas, TCWM Festival juga diramaikan beberapa kelompok musisi bergenre world music populer di Indonesia, di antaranya SuaraSama (Irwansyah Harahap) dan Kua Etnika (Jaduk Ferianto); Mataniari (Toba roots music) feat "Si Raja Seruling" Marsius Sitohang. "Festival juga akan menghadirkan kelompok world/roots music dari luar negeri," paparnya.

Director of festival TCWM Festival 2019 Irwansyah Harahap mengatakan, festival merupakan sebuah tantangan baru. "Kalau tahun lalu kami mengadakannya dalam format indoor di TB Silalahi Center selama satu hari saja, TCWM Festival 2019 diadakan outdoor selama tiga hari.

Co-director dan Manager Produksi TCWM Festival 2019 Rithaony Hutajulu mengatakan, perhelatan kali ini dengan penekanan world music yang ngetren di dunia. "Karya-karya world music umumnya merepresentasikan musik-musik tradisi dunia yang sudah berakar di masyarakatnya (roots music) dan juga musik-musik baru yang memiliki unsur tradisi dunia, sering disebut 'world fusion'. Di Indonesia, festival world music pertama dibuat di Bali (Bali Wolrd Music Festival) tahun 2002, kemudiaan diikuti beberapa kota-kota lain seperti, Bandung (Jabar), Pekanbaru (Riau), Sawahlunto, Padang (Sumbar), dan Banda Aceh (NAD)," jelasnya.

Ia mengatakan, kegiatan ini didukung berbagai lembaga, di antaranya Kementerian Pariwisata RI, BOPDT, Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), Pemkab Toba Samosir, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koperasi-UKM, dan beberapa lembaga lainnya.

Rithaony Hutajulu menambahkan, selain kegiatan pertunjukan musik, perhelatan diramaikan dengan berbagai eksibisi pameran, mulai dari kerajinan, kuliner dan workshop tentang tenun dan world/roots music. "Di acara pembukaan pada 14 Juni disuguhkan satu pentas kolaborasi 'Lintas Bunyi' dari beberapa etnis, Toba-Simalungun-Nias, China, Pakpak dan Mandailing; menggambarkan tema festival, 'Earth Vibaration.' Di penutup acara dihadirkan kolaborasi musik antarmusisi," tutupnya. (Rel/R29/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments