Jumat, 13 Des 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Saurma Siahaan Optimistis Medan Fashion Trend Angkat Industri Etnik

Saurma Siahaan Optimistis Medan Fashion Trend Angkat Industri Etnik

admin Kamis, 20 Juni 2019 15:42 WIB
Fashion: Advidory Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Medan Saurma MGP Siahaan MIKom MIPR dan Pimpinan Dolling School of Fashion Design Nilawaty Iskandar mengapit Konsul Jenderal Singapura di Medan Richard Grosse sebelum Medan Fashion Trend 2019 di Hotel JW Marriot, Medan, Sabtu (15/6).
Medan (SIB) -Advidory Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Medan Saurma MGP Siahaan MIKom MIPR optimistis Medan Fashion Trend (MTF) dapat mengangkat industri etnik di wilayah ini. "Meski bertajuk Medan Fashion Trend (MFT) tapi mencakup seluruh wilayah di Sumut bahkan di Sumatera," ujar perempuan inisiator MFT di Medan, Rabu (19/6). Bersisian dengannya Ketua Parfi Sumut Murni Huber-Tobing.

Sebagaimana diketahui MFT sudah lima kali digelar di Medan. Tahun 2019, dipusatkan Hotel JW Marriot, Medan, Sabtu (15/6), yang diisi penampilan 15 desainer pemula dan profesional, termasuk karya Pimpinan Dolling School of Fashion Design Nilawaty Iskandar dan Nasional Chairman IFC Lelly Agustine yang sudah berkiprah secara internasional.

Saurma Siahaan mengatakan, setiap fashion show, ada lompatan di luar ekspektasi. Untuk 2019, tema yang ditampilkan 'Garden Paradise'. "Begitu menariknya rancangan tersebut. Meski satu tema tapi karya yang diparadekan beragam, sangat jamak dan istimewa," tambah perempuan aktivis sosial tersebut.

Ia menunjuk tema yang ditekankan. Pada 2010, bertema 'Fashion Tendance', tahun 2014 'Heritage Culture', MTF 2015 'Once Upon a Time' dan MTF 2017 'Aquatic Fantasia'. "Semua berbeda tapi muaranya tetap istimewa," tambahnya.

Menurutnya, fashion sebagai bagian dari industri kreatif harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, termasuk dari berbagai SKPD terkait. Juga dari pihak Bekraf, BUMN, BUMD, dan lainnya. "Apalagi Medan sebagai kota besar ketiga di negeri ini, sangat riskan jika industri kreatifnya di bidang fashion tidak mendapat dukungan. Perlu dukungan semua pihak menjadikannya sebagai agenda wisata tahunan untuk kepariwisataan yang layak untuk terus dikembangkan di Sumut, termasuk untuk busana muslim," simpul Saurma Siahaan sambil menyaluti langkah Nilawaty Iskandar yang memberi ruang dan waktu pada perancang muda.

Nilawaty Iskandar mengatakan, dari Medan banyak sekali ide-ide istimewa untuk pengembangan fashion. Menurutnya, tiap pergelaran pihaknya menekankan pada industri etnik Sumut. Langkah tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Sumatera Utara dan para perajin kain khas di daerah ini. "Pada MTF kelima kali ini, turut ditampilkan aneka karya rancang dengan menggunakan kain khas Sumatera Utara, selain busana modern," tambah perempuan yang menjabat Chairwomen IFC Chapter Medan tersebut.

Selain pada pekerja seni busana, acara itu dihadiri Kadis Perindag Sumut Zonny Waldi, Konjen Singapura di Medan Richard Grosse dan pihak terkait. Mereka yang menampilkan karyanya adalah Luciana Kosidin (The Charm of Batak's Gorga), Fadillah Zuhri Purba (Blooming Flower), Karen (Enchanted Garden), Violetta Salim (Fancy Starry Night Garden), Henny (Flor Unica), Novita Sari (Goddess Inside The Hidden Garden), Debora BO Sianturi (Jardin de Mariposas), Claudia Joanna (Fairy Tale Garden), Callyn (Libelle), Roulina Gurning (Serenauli), Selly Ervina (The Orchidaceae), Andreas Lim (The Chinoiserie Garden), Vera Santika (Lumen Noctis), Fenny Salim (Timeless Beauty). (R9/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments