Minggu, 17 Nov 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Rose Lumbantoruan, Dari Eksekutif Swasta Asing Menjadi Penulis Sastra-Budaya Batak

Rose Lumbantoruan, Dari Eksekutif Swasta Asing Menjadi Penulis Sastra-Budaya Batak

* Pesan Retrospeksi dan Titipan Energi Srikandi Batak dari Buku: ‘Hita Na Mardongan’ * Oleh Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
Minggu, 10 Desember 2017 23:21 WIB
Rose Lumbantoruan
Pada acara penyerahan piagam penghargaan dan hadiah Rancage 2017 dari Kebudayaan Rancage pimpinan Ajib Rosidi kepada seorang penulis Batak Tansiswo Siagian di Jakarta baru-baru, terungkap bahwa tahun-tahun sebelumnya ada juga penulis sastra Batak yang sudah terlebih dahulu (2016) menerima piagam dan hadiah di bidang sastra dan budaya tingkat nasional tersebut, yaitu Manguji Nababan SS, Kepala Pusat Dokumentasi Batakologi Medan dan Rose Lumbantoruan seorang wiraswasta dan aktivis pelestari sastra dan budaya Batak, di Jakarta.

Tansiswo Siagian mendapat piagam Rancage 2017 dari bukunya berjudul 'Iluni Dainang', Manguji Nababan mendapatkannya atas penulisan buku 'Torsa Hombung' (2016) dan Rose mendapatkannya dari penulisan buku 'Ulos Sorpi'. Rose adalah seorang eksekutif perusahaan swasta asing di Jakarta, yang kini beralih menjadi penulis sastra-budaya Batak, sambil mendampingi suaminya seorang wiraswasta mandiri.

Namun, topik yang menarik dan mengemuka dalam satu acara dialog pasca penyerahan piagam dan hadiah itu, justru buku karya Rose pada tahun 2015 lalu yang berjudul 'Hita Na Mardongan'. Buku novellet dengan 12 bab ini tampil sebagai cerita pop yang terkombinasi antara kisah fiksi namun termodifikasi secara khas atas kisah-kisah nyata yang dialami Rose semasa hidupnya, terutama di masa remaja atau gadisnya di kampung halaman, Tanah Batak, Bona Pasogit.

"Ada misi majemuk yang terkandung dalam atau dari buku 'Hita Na Mardongan' ini. Pertama, Rose sebagai perempuan Batak ingin menunjukkan bahwa perempuan Batak dengan dasar kesahajaannya juga bisa tampil sebagai sosok srikandi atau pahlawan untuk solusi yang dihadapi atau terjadi antarpihak. Kedua, Rose sebagai wanita intelektual mengajak kaum wanita atau siapa saja dengan profesi dan pendidikannya untuk rela bertindak peduli dan kasih  kepada kalangan yang kurang mampu atau kurang pendidikan. Ketiga, Rose sebagai penulis dengan total bahasa Batak juga mengingatkan penting nya penggunaan bahasa Batak dalam kehidupan lintas zaman, baik sebagai pelestarian nilai budaya maupun sebagai pelestarian Bahasa Ibu di kalangan masyarakat Batak," ujar  Manguji Nababan dan Nestor Rico Tambunan, keduanya sastrawan Batak populer, kepada penulis di Medan, belum lama ini.

Reuni di Balik Cinta Srikandi
Alkisah, Lidia, dalam buku itu, seorang gadis bersahaja namun sudah tampil sebagai wanita karir di satu perusahaan besar, menjadi sosok idola di kalangan rekan sekerja dan sepondokan. Dalam pergaulan dia terbilang luwes dan terbuka. Hingga suatu hari, di antara sejumlah pemuda atau pria yang suka padanya, Lidia tergusar ketika akan dilamar Bungaran, seorang duda beranak dua yang ditinggal mati istrinya. Lidia, memang suka pada Bungaran dan kedua anak Bungaran pun suka dan akrab padanya.

Masalah memuncak ketika keluarga dan para teman sebayanya protes penuh prihatin (Hal 26): "Ingkon tu duda ma ho hape muli? Gabe ina panoroni? Hape so hurang rupam, singkolam pe timbodo, master ho. Karejom pe so tanggung...!" (Harus dengan seorang duda-kah kau menikah, sehingga kau jadi ibu tiri? Padahal bukan kurang cantik kau, pendidikanmu pun tinggi dan sudah bergelar master bahkan kerjamu sudah lebih dari lumayan), ujar kakak ipar (eda)-nya, mewakili para pihak yang protes, ketika itu.

Betapa tidak, Lidia, seorang perempuan cantik dan cerdas bergelar master plus berkarir bagus dengan masa depan cemerlang, dinilai terlalu bodoh kalau akhirnya kawin dengan duda dan menjadi ibu tiri dua anak yang juga sudah menginjak usia remaja.

Dalam kegusarannya, antara cinta pada Bungaran dan protes keluarga dan para teman, Lidia minta cuti dari kantor untuk pulang kampung. Lidia kebetulan memang pernah berjanji pada teman-teman sekampungnya untuk datang atau pulang kampung sebagai reuni dengan para teman satu sekolahnya. Hanya saja, kegusaran yang timbul atas lamaran Bungaran sang duda yang kebetulan pria Batak, dalam rencana reuni itu muncul pula wajah Parlinggoman, pemuda Batak sekampungnya yang pernah dicintai sebagai cinta pertamanya, dulu, yang akhirnya membuat Lidia terluka karena tak kunjung menikah.

Betul, kepulangannya ke kampung halaman ternyata mengukir kembali luka dari cinta lama. Apalagi didapatnya kabar bahwa Parlinggoman, yang dipanggil Linggom, sedang opname serius dan menjalani operasi jantung di salah satu rumah sakit di Singapura. Sejak tamat sekolah, Lidia dan Parlinggoman sempat melanjut rajutan cinta dan berjuang di Jakarta melalui profesinya masing-masing, dengan cita-cita akan menikah setelah berhasil dalam karir dan pekerjaan.
Namun, Parlinggoman berkhianat ketika tergoda pada Diana, anak pimpinannya di kantor. Menikah dengan Diana, agaknya menjadi jaminan karir bagi Parlinggoman ketika itu, dan Lidia ditinggalkan dengan hati terluka.

Entah kenapa Lidia langsung penasaran setiba di kampung. Dia berangkat ke Singapura bersama kegusaran yang berbaur rindu cinta pertama. Bertemu Linggom di Singapura, air mata Lidia mengungkap cinta lama mereka tercipta kembali. Linggom ternyata menderita karena merasa tak pernah dihargai oleh istrinya, bahkan istrinya itu akhirnya ketahuan berselingkuh dengan pria lain. Lidia pun kian gusar.

Kegusaran Lidia, kemudian, baru terasa lenyap ketika berkumpul kembali dengan teman-teman masa lalunya di kampung. Di sela-sela kisahnya dengan Bungaran dan cinta lamanya dengan Linggom, Lidia dalam reuni itu menunjukkan jiwa besarnya sebagai seorang wanita. Terlebih, ketika Lidia mampu mendamaikan temannya selama ini bermusuhan karena kesalahpahaman. Ia mengajak teman-temannya yang selama ini hidup minder dan mengucilkan diri, misalnya karena pendidikan rendah atau tak punya pekerjaan, untuk kembali ke lingkaran sesama teman (pardonganon). Bersama temannya itu mereka menjalin 'pardonganon' lanjut mengunjungi para sahabat yang hidup menjanda atau miskin, di Samosir.

Reuni sederhana di kalangan sesama teman bersahabat (mardongan) itu, agaknya telah memunculkan sosok Lidia sebagai perempuan tegar, yang bermodal kesahajaan tapi kemudian bergelar srikandi mandiri atas kemampuan majemuk dalam satu perjalanan hidupnya: menghadapi kontroversi ketika akan dilamar seorang duda, bertindak konfirmatif menemui pria yang pernah dicintainya, dan menjadi sosok alternatif untuk solusi di tengah-tengah orang yang tampak lemah.

Titipan Energi dan Retrospeksi
Kisah sosok Lidia yang diungkap Rose ini, menurut Nestor Rico Tambunan dan Manguji Nababan, juga merupakan babak kehidupan yang mengandung titipan energi dan pesan retrospeksi. Titipan energi itu tertuang dalam babak interaksi Lidia yang telah sukses sebagai wanita karir, mampu bertransformasi kekuatan kepada para temannya yang dulu bersamanya ketika masih hidup bersahaja, kemudian percaya diri dan bergabung dalam satu barisan sosial, untuk berbagi kasih dan berbagi daya kepada orang lain.

"Unsur atau pesan restropeksinya adalah, buku novellet Hita Na Mardongan ini adalah medium dan produk pengenalan kembali bahasa tulis Batak yang baik dan orisinil dalam sendi kehidupan sehari-hari. Rose Lumbantoruan si 'Boru Hombing' ini juga menunjukkan kepada kita penulisan bahasa Batak yang baik dan banyak kosa kata yang mungkin selama ini tak lagi biasa dipakai. Awas, di antara sepuluh persen dari 700-an bahasa daerah di Indonesia, jangan sampai bahasa Batak termasuk yang terancam akan punah," ujar mereka serius.

Hal lain yang tak kalah nilainya dari buku ini adalah pesan eksistensi Habatahon. Bahwa lewat plot-plot flashback dalam cerita Hita Na Mardongan, kita diingatkan lagi pada banyak tradisi dan nilai-nilai kehidupan Batak dahulu, dalam hubungan na mardongan, martondong, sahuta, dan lainnya. Rose melalui buku novellet berkategori pop itu juga ingin menunjukkan bahwa perempuan Batak yang berangkat dari kesahajaan lalu menanjak sukses, wajib terpanggil untuk menjadi srikandi pembawa energi, kalau bukan di kalangan kolega besar atau kaum elit-sosialita, ya di kalangan keluarga sekampung pun jadi.

Lalu, bagaimana akhir kisah Lidia dengan Bungaran dan Linggom itu? Buku dengan judul Hita Na Mardongan itu tentu menjadi pesan tersendiri pula: baca bukunya, molo mardongan do hita. (h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments