Minggu, 18 Agu 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Robinhood Tampubolon Inginkan Lagu Religi yang Lestarikan Tradisi

Robinhood Tampubolon Inginkan Lagu Religi yang Lestarikan Tradisi

admin Rabu, 19 Juni 2019 16:28 WIB
Pnt Robinhood Tampubolon SPd
Medan (SIB) -Pnt Robinhood Tampubolon SPd mengapresiasi perkembangan industri kreatif Indonesia. Menurutnya, musisi Tanah Air mengisi dan berkarya sesuai dengan tren global tapi harus tetap mempertahankan dan melestarikan seni tradisi. "Bahkan sangat indah jika di dalam karya-karya tersebut diisi moral religi," ujarnya didampingi rekan sependidikan di SD Parulian Medan seperti Jonto Simamora, Ny Rita Pasaribu di Ian Ulos Jalan Pelajar Ujung Medan, Selasa (18/6).

Ia mencontohkan lagu-lagu etnik Batak yang sudah merakyat. Selain tetap memberi spirit bagi pendengar juga berisi filosofi kehidupan yang dapat diteladani. Untuk era kini, ia menunjuk lagu 'Poda' yang tak hanya enak di telinga tapi memberi ketenangan hati. "Ketika dunia semakin riuh dengan hiruk-pikuk duniawi, tiap individu memerlukan pendamai. Lagu-lagu bernuansa religi tersebut satu di antara penyejuk hati tersebut," tegasnya.

Bersama putranya, Josua Tampubolon, lahir sejumlah lagu sesuai kriterianya. "Tapi tak cukup hanya seorang Josua Tampubolon. Sebagai orangtua, saya berterima kasih padaNya. Puji Tuhan, anak itu dibimbing Pdt Jack Marpaung mengisi industri hiburan dengan lagu religi dan etnik," tambahnya.

Josua, sejak usia 4 tahun, go public. Melanglang dan ikut dalam industri hiburan, namanya kian mencorong. Bahkan ketika duet dengan Jack Marpaung, Josua menjadi satu dari sangat sedikit rocker remaja yang membawakan lagu pujian dalam genre rock, pop dan etnik. "Puji Tuhan," tegasnya.
***

Terlahir dari putra pasangan JK Tampubolon - R Manurung di Medan pada 19 April 1968. Ia menimba ilmu di SD Parulian, berlanjut ke SMPN 3 dan SMA Parulian - Teladan Medan kemudian melanjut ke FMIPA Kimia Unimed dan menjadi pendidik di Wiyata Dharma Jalan Dr Wahidin di ibu kota Sumut. Memiliki dua putra yang seluruhnya mengabdi dalam pemulianNya. Putra sulung, Yan Sandy menimba ilmu theologia di Filipina. Sang bungsu, Josua juga studi yang sama di Jakarta.

Sebelum sampai di posisi seperti sekarang, ia melalui kehidupan penuh kasih tapi diajarkan menaklukkan tantangan duniawi. Ibunya, R Manurung menjadi panutannya. "Saya tak pernah disuruh ke gereja, tapi ibu saya berhasil mengembalakan saya ke gereja sejak kecil. Misalnya, ketika pulang gereja, ibu saya bercerita betapa indahnya choir naposo. Artinya, ia ingin anaknya ikut dalam paduan suara untuk memuliakanNya," ceritanya.

Ketika remaja, ia tak kenal kata gengsi. Misalnya, ikut memungut sisa nasi untuk memberi makan peliharaannya. Bahkan, hal tersebut dilakukannya di rumah kekasihnya. "Saya memisahkan sisa nasi dari kotoran disaksikan perempuan yang (waktu itu) punya hubungan spesial... luar biasalah!"

Merasakan kebaikan-kebaikanNya, ia membalaskan dengan menyerahkan kedua putranya padaNya. Tetapi, cobaan tetap saja ada. Jangan menyerah apalagi putus asa. "Jika manusia dan tiap individu menyerahkan seluruhnya padaNya, pasti ada jalan," tegasnya.
Berdasarkan perjalanan batin itulah membuatnya ingin tiap individu menyembahNya. Sama seperti ketika Josua ingin fokus sebagai artis sekuler, ia menuntun aktor remaja yang bermain dalam 'Si Bolang' itu menjadi artisNya. "Saya justru lebih bahagia ketika Josua yang diberi talenta bermusik dan bersuara indah, memuliakanNya," tegasnya.

Pengalaman batin itu yang menuntunnya mengetuk hati semua pekerja seni untuk semakin kreatif tapi tetap berpegang padaNya. (R9/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments