Sabtu, 11 Jul 2020
  • Home
  • Hiburan
  • Riduan Rajagukguk Bawa Kidung SM Methodist ke Praha

Riduan Rajagukguk Bawa Kidung SM Methodist ke Praha

Jumat, 05 Juni 2020 20:32 WIB
Foto: Dok/Delima Simamora
Praha: Riduan Rajagukguk bersama istri serta buah hati di Praha, Cheko.  Meski mengikuti olimpiade choir tapi tetap membawakan ‘Dari Terbit Matahari’ lagu yang diketahuinya ketika menjadi peserta Sekolah Minggu Methodist Aekkanopan, Labuhanbatu Utara. 

Jakarta (SIB)
Lagu gerejawi Sekolah Minggu (SM) Methodist menginspirasi banyak orang untuk kreatif dan kritis tapi jujur serta idealis. Satu di antaranya ‘Dari Terbit Matahari’ yang familiar. “Ketika masih kanak-kanak, lagu itu dinyanyikan dengan ekspresi sesukanya. Ada yang berteriak ke luar dari solmisasinya. Tapi banyak yang membawakan dengan sikap sempurna,” kenang Riduan Rajagukguk, Kamis (4/6) mengenai lagu wajib yang dibawakan di SM Methodist Aekkanopan - Labuhanbatu Utara, setengah abad lampau.

Saat masih kanak, orangtuanya membimbingnya untuk rutin ke SM. Rekan sesama kanak-kanan waktu itu di antaranya Ls Drs Naurat Silalahi dan adiknya, Pdt AM Rajagukguk yang mengembala di Gereja Methodist Desa Securai Utara Kec Babalan - Langkat.

Liriknya sederhana tapi menyimpan filosofi kehidupan religi. Seperti ‘Fajar Dinihari’ yang berisi kepastian dari-Nya memenuhi permohonan semua orang yang percaya pada-Nya, ‘Dari Terbit Matahari’ pun demikian. Ketika dewasa dan berada jauh dari kampung halaman, makna syair lagu tersebut tetap diamalkan. “Harus berdoa sebelum matahari terbit,” kenangnya.

Lagu tersebut bahkan dibawanya ke mana saja. Satu di antaranya ketika ikut dalam rombongan paduan suara Indonesia di kompetisi dunia di Praha, Cheko. Tim yang dipimpin Delima Simamora membawakan lagu sesuai kategori festival tapi Riduan Rajagukguk menyemangati dirinya dengan ‘Dari Terbit Matahari’ hingga menguatkan. “Atas tuntunan-Nya, choir dari Indonesia meraih posisi terhormat. Tetapi, syair kidung religi dari kampung halaman tersebut memberi penguatan ekstra,” ujarnya.

Merantau dari kampung halaman, Riduan disekolahkan orangtua ke Medan. Di ibu kota Sumatera Utara, ia masuk ke pusaran aktivis yang mengharuskan pindah ke banyak institusi.

Ketika seorang diri hijrah ke Jakarta, meski bergaul dengan aktivis, Riduan Rajagukguk tetap memegang teguh idealisme dan keyakinan religinya. Kenyang dengan organisasi, ia mengenal Delima Simamora. Meski semakin dekat bahkan berniat memperistri perempuan pendidik asal Medan tersebut, ia tak tahu bahwa pendampingnya tersebut seorang penyanyi religi, yang secara langsung mengaktualisasikan pengamalan rohaniah dari kidung pujian.

Delima pun bukan sekadar penyanyi tapi seorang soprano jempolan dengan segudang prestasi. Ketika menikah, semakin genap pengamalan filosofi religinya. Bersamaan dengan itu, ia ikut dalam tim paduan suara yang dibina sang istri.

Bersama Delima, Riduan terlibat kegiatan internasional mengikuti olimpiade choir seperti di Jerman, China, Austria dan Amerika. Selepas perlombaan, Delima menggelar konser diberbagai negara Eropa. “Saya ikut sebagai bagian tim. Tidak menyanyi, tapi berdoalah,” papar Riduan.

Berada di lingkungan global tak menjadikannya tercerabut dari akar budaya. “Saya tetap pria Indonesia, yang bangga sebagai bagian dari Bangso Batak,” tegasnya. (R10/p)


T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments