Kamis, 21 Nov 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Piano Akordion Wariskan Lagu 'Hallelujah 12' Nathanael Mariepan

Piano Akordion Wariskan Lagu 'Hallelujah 12' Nathanael Mariepan

redaksi Kamis, 07 November 2019 15:49 WIB
Sib/Doc
Pdt Dr Nathanael Mariepan STh MA - NY Natalina Nawema
Medan (SIB)
Pendiri Gereja Elim Kristen Indonesia (GEKI) Pdt Dr Nathanael Mariepan STh MA mewariskan satu lagu, 'Hallelujah 12'. Kidung tersebut kerap dibawakan dalam ibadah gereja tradisional tapi melalui pria yang wafat pada 17 Oktober 2009 di Medan itu menjadi satu kontemplasi. Saat memeringati hari lahir ke-77 sang tokoh Tamil Indonesia, kidung dimaksud didengungkan putranya, Pdt Dr Octavianus Nathanael MMin.
Menurutnya, 'Hallelujah 12' menjadi kidung paling difavoritkan orangtuanya karena yang bersangkutan tidak punya suara merdu seperti warga Tamil lainnya. "Tetapi, dalam misi, almarhum sangat memiliki empati hingga kabar suka yang disampaikannya cepat diterima jemaat," ujarnya di Medan, Selasa (5/11) didampingi panitia Nathanael Cup I seperti Ketua Tommy Manotar Parulian Sitorus, Sekretaris Chandra Partogi Aritonang dan Bendahara Roni Vinty Suryani Ritonga.
Sejak dini, Pdt Nathanael Mariepan suka bernyanyi tapi tak memiliki suara merdu. Padahal, orangtuanya musisi. Ayahnya, Wirya menikahi Maria Magdalena yang mahir bermain sejumlah alat musik. Satu di antaranya adalah perkusi 'langka' di Tanah Air yakni piano akordion. "Bukan akordion yang ditarik ke kiri dan kanan, tapi dihembus. Hembusannya berada di depan piano akordion," kenangnya.
Meski darah seni orangtuanya tinggi, tapi tak terturun pada Pdt Nathanael Mariepan. Ketika menikah dan memiliki 4 putra-putri, justru anak-anaknya 'terwariskan' jiwa seni istimewa. "Melompat ke cucu, tapi ibu saya yang kemudian suka nyanyi," cerita Pdt Octavianus.
***
Lahir dari keluarga berlatar ragam, Nathanael Mariepan terpanggil untuk menggembala. Sejak muda sudah paham dengan isi Alkitab hingga membawanya melanjut ke STT HKBP di Pematangsiantar. Selesai di kota pelajar tersebut, melanjut ke STT SU dan melanjut S2 di STTI Yogyakarta serta menyelesaikan pendidikan S3 di Vision University Amerika Serikat.
Ketika muda, ia bergabung dengan gereja tradisional dan merintis dengan mengumpulkan warga Tamil di Medan untuk ibadah persekutuan. Dimulai di Jalan Muara Takus berpindah ke rumah penduduk di Gang E Kampung Anggrung, Polonia. Ketika jemaat makin banyak, pertentangan dari warga muncul hingga ia berurusan dengan aparat tapi kemudian dilepas karena tujuannya tetap mengabarkan kesukaan.
Menikah dengan Nathalina Nawema, dua putranya sangat dekat dengan gereja tradisional. "Saya dan abang, David tardidi di HKBP Sudirman Medan," kenangnya.
Bersama anak-anaknya, Nathanael Mariepan terus menggembala. Dengan cara itu, anak-anaknya tahu cara menyampaikan nats Alkitab dengan menempatkan empati pada jemaat. "Termasuk ketika ibadah yang dipimpin berpindah-pindah hingga Prof Dr RS Parhusip Sppk memfasilitasi rumah menjadi lokasi ibadahnya," kenangnya.
Setelah ditahbiskan menjadi Ketua Sinode GKEI, ia membuka dan fokus mengembangkan Misi 'William Carey' (MWC) dan Sekolah Tinggi Theologi (STT) dengan dewan pendiri antara lain Saur Hasugian dan Albert Saragih. "Tapi bedakan antara STT dengan MWC," jelasnya.
Apa yang dilakukan Nathanael Mariepan terus berkembang. "Buahnya, sudah banyak gereja terbangun dengan puluhan penyampai firmanNya hingga ke pelosok Nusantara dan negara tetangga di antaranya Evarianus Gea dan Nobeda Gulo yang kini di Gunung Bintang, Papua," ingat Octavianus.
Gereja GKEL yagn dikenal sebagai Gereja Elim pun berkembang. Mulai dari Berastagi, Kabanjahe, Pekanbaru, Jambi, Toraja, Parepare hingga Parepare. "Yang paling membahagiakan, keturunannya dan lingkungan terus berkidung," tutupnya. (R9/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments