Selasa, 07 Apr 2020
  • Home
  • Hiburan
  • Pahatan Capt Tagor Aruan untuk Lestarikan Warisan Leluhur

Pahatan Capt Tagor Aruan untuk Lestarikan Warisan Leluhur

Kamis, 27 Februari 2020 20:26 WIB
Foto: SIB/Dok

Pahatan Tunas : Capt Tagor Aruan memegang pahatan bertajuk ‘Tunas’ yang kemudian menjadi maket Tugu Raja Sisangkalan Aruan yang futuristik, kemudian direalisir dalam bentuk utuh di Tanah Partaiman Huta Aruan Laguboti,  Tobasa.  

Jakarta (SIB)
Capt Tagor Aruan menuangkan ide-ide kreatifnya melalui sejumlah media. Mulai dari kalkir hingga pahatan. Satu karyanya adalah maket Tugu Raja Sisangkalan Aruan yang kemudian direalisir dalam bentuk utuh di Tanah Partaiman Huta Aruan Laguboti, Tobasa yang pembangunannya dimulai medio Februari 2020.

Sebelum mendapat persetujuan dari keluarga besar Raja Sisangkalan Aruan untuk dibangun, pria keturunan generasi nomor 18 Aruan itu terlebih dulu melewati proses panjang.

Mulai presentasi terbuka, seperti public hearing sampai menjelaskan filosofi serta prediksi kebudayaan ke depan. “Pahatan maket dibawa ke Jakarta. Memresentasikannya di hadapan pengurus pusat yang nota bene ahli-ahli dan para raja adat seperti Drs Herbert Aruan MM AK CA, St Monang Aruan dari Bandung, St Hadjuluan Aruan dan Bonton Aruan dari Jakarta termasuk Kades Huta Aruan Laguboti Bintang Aruan. Hal serupa pun dilakukan di hadapan para tokoh di bona pasogit. Tak gampang mempertemukan individu jempolan beda era, lintasgenerasi,” ujar Capt Tagor Aruan via pesan singkatnya dari Jakarta, Minggu (23/2).

Ia tidak menduga ide-ide yang dituangkan diapresiasi. Soalnya, awalnya hanya ditugasi mengonsep satu tugu. Pengalaman menyinggahi sejumlah negara di dunia, seperti kala ke museum dan mengunjungi monumen populer, dipadukannya. Satu kunci yang direalisir bahwa konsep yang dituangkan tak hanya menyimpan keunggulan tapi memiliki keunikan spesifik. Itulah alasannya kenapa tidak melukis tugu seperti kebanyakan yang ada. “Saya ingin yang futuristik hingga tak lapuk dimakan zaman dan tak tercerabut dari filosofi kehidupan Bangso Batak,” kenangnya.

Setelah merenung dan membuka kenangan kehidupan sebagai putra Batak sejak kanak-kanak hingga menjadi ketua komunitas Batak seperti Ketua Komite Independen Batak (KIB), Capt Tagor Aruan menetapkan konsep tema tunas.

Menurutnya, filosofi tunas adalah tumbuh dan berkembang sebagaimana keturunan Raja Aruan yang terus berkembang. Tetapi, agar kekinian dan Instagramable, harus unik. “Kids era now kan gemar selfie. Hobi tersebut pun menjalar pada kelompok dewasa. Jadi, harus mempertemukan generasi era old dan kini,” paparnya.

Setelah mendapat polesan sana-sini, pahatannya diterima. “Saya berterima kasih pada Ketua Umum Punguan Raja Sisangkalan Aruan yang punya konsep futuristik. Juga Ketua Umum Punguan Raja Aruan,” jelasnya.

Di luar unsur adat yang tetap direkatkannya dalam nafas kehidupannya, ia ingin agar generasi muda dari seluruh etnis di Indonesia memahami bahwa Tanah Air tercinta ini kaya dengan kearifan lokal. “Agar warisan terpelihara dan tidak mati, harus dilestarikan. Caranya gampang kok, adopsilah dalam kehidupan,” usulnya.

Capt Tagor Aruan memastikan, di era globalisasi yang disatukan kemajuan teknologi, tak ada lagi ‘batas’ negara. “Yang membedakan satu individu dengan lainnya adalah budayanya. Itu sebabnya, lestarikan warisan leluhur sebagai kekayaan intelektual yang eksklusif,” tutupnya. (T/R9/f)


T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments