Selasa, 19 Nov 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Musik dan Lagu Milenial dalam Pelayanan Samuel Ghozaly Dalimunthe

Musik dan Lagu Milenial dalam Pelayanan Samuel Ghozaly Dalimunthe

admin Kamis, 27 Juni 2019 12:32 WIB
SIB/Dok
Pdt Samuel Ghozaly Dalimunthe STh SE bersama pendeta milenial, Ps Donny Wakkary.
Medan (SIB) -Pdt Samuel Ghozaly Dalimunthe STh SE terobsesi merangkul kaum milenial untuk semakin banyak bersekutu denganNya. "Yang paling menakutkan dalam hidup saya, ketika membayangkan gereja sepi dari anak-anak muda. Seperti di banyak negara maju, gereja seperti 'untuk' kaum tua," gusarnya di tengah Musyawarah Kerja Daerah (Rakerda) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Grand Antares Hotel Medan, Rabu (26/6).

Untuk merangkul kaum milenial, bersama gembala jemaat di dua provinsi tersebut, pria yang menjabat Ketua Majelis Daerah (MD) GPdI Sumut Aceh itu melakukan penyesuaian dengan taste anak muda. Caranya dengan melakukan pembaruan, mengadopsi teknologi digital serta berpendekatan apa yang trend dan jadi perhatian kaum milenial. "Khusus di lagu, gerak tari dalam penyembahan, mendapat setuhan hingga menjadi on fire," paparnya.

Menurutnya, perkembangan global membuat semua pihak harus berbenah. Cara itu tak semata tetap membimbing generasi muda dalam rel penguatan moral agama, tapi dalam maksud menjaga negara dari kemungkinan rongrongan sikap dan pikir yang kontraproduktif. "Cara demikian juga sebagai bagian dari penyaluran bakat dan minat kaum milenial," tambahnya.

Menuangkan ide, ia terus berkonsultasi dan menyatukan gagasan dengan kaum muda brilian seperti Ps Daniel Palit, Ps Moody Tambuwun, Ps Dondy Wakkary, Binsar Simatupang dan lainnya. Pada sesama pengurus seperti Pdt Yosua Sinukaban, Pdt Oloan Batubara, Pdt Endi Malau dan Pdt Faane Mendrofa, ia menggodoknya.

Ia menyebut sejumlah artis yang lahir dari altar gereja hingga populer di kelompok sekuler atau sebaliknya. Seperti Nikita, Sari Simorangkir, Eka Deli, Herlin Pirera, Nafa Urbach, Asmirandah, Lukman Sardi, Eri Suzan serta Agnez Mo. "Dengan melibatkan anak-anak muda, niscaya gereja menjadi bagian dari upaya penempahan masa muda yang baik," tambahnya.

***
Terlahir di Pematangsiantar pada 21 Mei 1954, Samuel menikmati masa indah hanya dari ibunya, Sarah. Itu pun, karena keterbatasan ekonomi, setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kota kelahirannya, ia ikut kakaknya (kini Pdt Hanna van Der). Selesai pendidikan SMA, putra kelima dari 5 bersaudara itu kembali di Medan tahun 1974 dan bertemu dengan Ny Pdt Ny Sorongan Wakkary dan ikut melayani di GPdI Maranatha Medan bersama Pdt Dr MD Wakkary.

Mendapat didikan langsung dari tokoh pergerakan tersebut, tahun 1975 disekolahkan ke Pematangsiantar dan 1977 melanjut studi di Batu Malang. Selesai studi, melayani di GPdI Tangerang dan dimutasi menjadi staf STT Alkitab Purbasari Simalungun pimpinan Pdt DW Peterson.

Di sana, keinginan menjadi gembala tak dapat ditekannya hingga kembali ke GPdI Maranatha Medan. Akhir 1979 mendapat tugas merintis GPdI Eben Haezer Kampung Lalang yang saat itu masih sepi dari penduduk. Ketika melayani pertama, dengan 4 anak tapi kemudian berkembang menjadi lebih 100.

Tahun ketiga pelayanan, terjadi turbolensi. Anak-anak binaannya 'menghilang' karena posisi gereja beda jarak. Ketika menikahi Pdt Tiurlan Debora Ritonga (+), pasangan pengantin baru tersebut hampir meninggalkan pelayanan. Menutupi kebutuhan keseharian, sang istri menjadi penjahit dan Samuel menjadi Guru Agama di Free Methodist Helvetia sampai 1985.

Saat-saat goyah itu, ia meneguhkan kembali panggilan sebagai gembala. "Aku Berserah," ingatnya. Keberserahannya tersebut sejalan dengan kidung yang bertajuk serupa. Menguatkan langkahnya menjadi pengembala dengan memedomani nats Filipi 4:13, ...segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Dengan berserah dan terus mengikutiNya, ia meneguhkan diri menjadi pelayanNya sampai raga terpisah dari jiwa. (T/R9/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments