Minggu, 17 Nov 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Ludwino Dominika Menginspirasi Catholic Funeral Song

Ludwino Dominika Menginspirasi Catholic Funeral Song

Selasa, 04 Februari 2014 14:47 WIB
SIB/ist
Ludwino Dominka Lumbanbatu
Medan (SIB)- Ludwino Dominika Lumbanbatu sempat gusar karena kidung kemuliaan untuk mengiringi orang yang berduka, khusus untuk kaum Katolik, minim. “Selama ini Catholic Funeral Song kan diadaptasi dari sono. Sementara untuk warga lokal dengan penekanan lagu etnik, minim. Padahal, bagi warga yang berduka, dengan lagu etnik, berasa lebih mengenalah,” ujar perempuan yang dikenal sangat dekat dengan kidung pujian tersebut di Medan, Senin, (3/1/2014), usai rapat bersama sejumlah tokoh Katolik seperti fungsionaris Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Sumut Drs Gregorius Maninga Lumbanbatu.

Perempuan yang kerap menjadi pembawa acara dan penyanyi di acara Katolik itu mengatakan, lagu Latin untuk kematian sudah demikian familiar di telinga dan hati seperti Requiem Aeternam atau Requiem Sequence bahkan Dies Irae.  “Tapi setelah Konsili Vatikan II, penekanan pada pemakaman  bergeser dari kesedihan kematian dengan sukacita surga. Itu sebabnya Dies Irae menghilang. Lalu, bagaimana dengan warga etnik seperti kerabat saya. Di sinilah diperlukan inspirasi,” tandas Ludwino Dominika Lumbanbatu, yang di dunia maya mengubah jati dirinya dengan Lidwina. “Soalnya, orang luar menduga saya ini dari Italiano. Padahal, asli Batakliano lho hahaha...”

Dengan pemikiran itu, Ludwino ikut terlibat dari menginspirasi lagu etnik seperti lagu Puji Syukur dan Sorak Haleluya. “Tapi tolong dong, saya bukan menciptakan lagu itu dan sesuai kesepakatan, lagu tersebut no name saja karena melibatkan banyak pihak,” ujar perempuan yang kini mengabdi di bawah yayasan Katolik di Medan tersebut.

Ketertarikan Ludwino pada seni sejak kecil ketika masih sekolah di SDN Dolok Sanggul. Ketika melanjut ke SMPN 20 di Medan, perempuan kelahiran Dolok Sanggul pada  4 Agustus 1969 putri pasangan Justin lumbanbatu - Tiur Simatupang tersebut makin terasah jiwa seninya. Apalagi tatkala masuk SMKN 11 Medan dan melanjut ke PGTK, jiwa seninya makin terasah termasuk tatkala sharing ide dengan Lambert Simamora. Satu kekuatannya dalam berempati di dunia seni untuk paling menghibur adalah dari Mazmur 23. "The King of Love My Shepherd termasuk melodi tradisional Gaelic - Adoremus Hymnal,” tutup perempuan yang memeriahkan Christmas Seasson 2013  bersama Putri Ayu Silaen yang diketuai Gregorius Maninga Lumbanbatu tersebut. (t/r9/w)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments