Jumat, 19 Jul 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Korea Ekspor KPop, di Negerinya Lestarikan Industri Etnik

Korea Ekspor KPop, di Negerinya Lestarikan Industri Etnik

admin Kamis, 18 April 2019 15:02 WIB
SIB/Dok
ETNIK KOREA: Dra Ernawati Ginting MPd MKes bersama Elvina Ginting SKeb Ners MKes dan Suratmi Ginting Ant III/ SE MM di Korea Selatan. Semuanya serba etnik bahkan sangat jarang menemui KPop yang melanda dunia
Seoul (SIB) -Dra Ernawati Ginting MPd MKes bingung. Di banyak negara di dunia yang dikunjungi, budaya KPop sangat digandrungi massa, khususnya kaum milenial. Tetapi ketika awal April 2019 menjejakkan kaki di Negeri Ginseng, budaya pop dari Korea Selatan justru jarang dijumpai di tanah kelahirannya. Panggung-panggung hiburan justru diisi dengan hal-hal etnik. Bahkan, masuk ke dalam bus menuju ke destinasi wisata, yang dipromosikan adalah terkait warisan tradisional. "Saya sempat berpikir, kelompok milenial global termasuk Indonesia kurang beruntung jika memrioritaskan KPop. Soalnya, di negaranya saja yang digembar-gemborkan hal etnik, lalu kenapa menggemari Hallyu?" ujarnya, Rabu (17/4), sekembali dari Korea Selatan dan sejumlah negara Asia Timur.

Pendidik di Institut Kesehatan Medistra Deliserdang tersebut mengetahui bahwa industri KPop menghasilkan devisa negara hingga Rp35 triliun. Pemahaman soal ekspor budaya itu diperolehnya sebagai referensi ketika hendak menyelami lebih dalam Negeri Ginseng.

Beda dengan Hollywood, misalnya. Amerika Serikat mengekspor budaya popnya ke seluruh negara dunia dan ketika berkunjung ke Los Angeles nyata-nyata didapatkan hal tersebut. "Lalu, gimana dengan Hallyu Korea Selatan," papar Ernawati Ginting.

Dengan kenyataan itu, ia berharap otoritas di Tanah Air pun melakukan hal serupa. Mengekspor kearifan lokal demi penyebaran budaya Indonesia ke tingkat global. "Jika demikian, unsur kearifan lokal Nusantara dapat lestari sekaligus mendatangkan devisa bagi negara," tambahnya.

Ia bersama keluarga kandungnya yakni Elvina Ginting SKeb Ners MKes dan Suratmi Ginting Ant III/SE MM tak sekadar menjadi wisatawan di Korea Selatan, tapi mempelajari hal yang dapat dijadikan pengembangan. "Sama seperti dengan pendidikan di Korea Selatan yang sangat amat maju, khususnya bidang teknologi," tambahnya.

Ernawati merinci sejumlah destinasi wisata. Everland, contohnya. Taman hiburan terbesar di Everland Resort di Yongin itu tak hanya mewah dengan hal etnik tapi glamour dengan hal-hal takjub. Pusat hiburan di Gyeonggi-do itu menerima 7,5 juta pengunjung setiap tahun dan menduduki peringkat keenam belas di dunia untuk kehadiran taman hiburan global. "Indonesia mampu, minimal menyamai apa yang disuguhkan di Everland Resort tersebut," tambah Ernawati Ginting.

Sama halnya dengan destinasi Provinsi Jeju, yang secara resmi adalah Provinsi Pemerintahan Sendiri Khusus Jeju. Provinsi yang terletak di pulau terbesar di negara Jeju tersebut menawarkan hal-hal etnik searoma Korea. "Padahal, industri etnik Korea itu sepertinya seragam. Kalau ke Korea Utara, pun begitu. Indonesia pasti lebih kaya. Itulah alasan kenapa saya optimistis Indonesia bisa lebih maju dalam industri kreatifnya," tambahnya sambil menambahkan dari sisi budaya.

Karo, lanjutnya, memiliki kekayaan yang beda dengan puak serumpun yang ada di sekitaran Danau Toba. Belum lagi jika menyeberang ke wilayah Nusantara lainnya. "Di Korea, sama saja!" tutupnya. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments