Kamis, 18 Jul 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Koor 'Bengawan Solo' Klimaksi Resital Piano Wouter Bergenhuizen di Medan

Koor 'Bengawan Solo' Klimaksi Resital Piano Wouter Bergenhuizen di Medan

admin Rabu, 15 Mei 2019 15:37 WIB
SIB/Dok
RESITAL PIANO: Wouter Bergenhuizen bersama tim dari Belanda dan pengurus PAPPRI Semut Ridwan Manurung seusai resital piano pada Senin (13/5) di Aula Gereja Wesley Methodist Jalan Sultan Agung No 9 Medan.
Medan (SIB) -Wouter Bergenhuizen menggelar resital piano pada Senin (13/5), di Aula Gereja Wesley Methodist Jalan Sultan Agung No 9 Medan. Penampilan musisi yang pernah menimba ilmu di jantuk musik klasik dunia, Vienna itu membuat takjub massa yang memenuhi ruangan. Kenikmatan yang dirasa pengunjung ketika semifinal Kompetisi Franz Liszt Internasional di Utrecht, Belanda tersebut membawakan 'Bengawan Solo'.

Ia bahkan mengulangi lagu ciptaan Gesang itu setelah mendengar teriakan 'more' pengunjung. Tatkala permintaan dipenuhi, massa pun ikut bernyanyi hingga 'koor' dadakan mengantar Wouter menyudahi penampilannya. "Luar biasa," komentar Pengurus Pengurus Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Drs Ridwan Manurung MSi yang bersisian dengan aktivis Oclim Silitonga.

Wouter tampil di Medan dalam rangka tur resital yang diadakan lembaga musik dari Negeri Kincir Angin. Di Indonesia, dimulai dari Erasmus Huis Jakarta pada Sabtu (11/5) dan berlanjut ke sejumlah kota di Tanah Air.

Dalam industri musik global, Wouter adalah musisi klasik kontemporer. Sejumlah penghargaan diraihnya termasuk mencatatkan diri sebagai musisi cilik (di usia 12 tahun) yang diterima di departemen bakat muda Conservatory of Maastrich untuk biola, klarinet dan piano berkat keterampilan bermusiknya yang luar biasa. Ia bahkan pernah berkolaborasi dengan Orkestra Philharmonic Belanda Selatan.

Dalam penampilannya, sejumlah nomor lagu dari musisi klasik dibawakan, seperti nomor sulit karya Beethoven.

Penampilan dimaksud diapresiasi PAPPRI Sumut. "Dalam kepengurusan dipimpin ketuanya, Erucakra Mahamehu, di sini sudah 2 kali ditampilkan resital. Meski tontonan 'berat' namun telah memberi nuansa dan meninggalkan makna positif bagi musisi daerah, khususnya yang hadir di sini," tutup Ridwan Manurung. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments