Sabtu, 11 Jul 2020
  • Home
  • Hiburan
  • Industri Kreatif Bermuatan Kearifan Lokal Hiou Butuh Perhatian Khusus di Masa Pandemi Covid-19

Industri Kreatif Bermuatan Kearifan Lokal Hiou Butuh Perhatian Khusus di Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 03 Juni 2020 20:17 WIB
Foto: Dok/St Radiapo Sinaga

Budaya Simalungun: St Radiapo Hasiholan Sinaga SH dan sebagian kecil produk budaya Simalungun. 

Simalungun (SIB)
Industri hiou butuh perhatian khusus. Di masa pandemi Covid-19, produksi benda bermuatan kearifan lokal tersebut harus mendapat perhatian lebih. Di satu sisi penenun diupayakan terus berproduksi dan hasil kerajinan, di sisi lain, harus beroleh pasar. Caranya dengan tetap memberi ruang kreatif dan terus membuka pasar.

Demikian diuraikan St Radiapo Hasiholan Sinaga SH yang dihubungi dari Medan, Selasa (2/6). Putra asli Simalungun yang sukses di bidang properti di Riau itu memastikan, hiou harus tetap ada bersama tumbuh dan berkembangnya Simalungun. “Gotong dan bulang, adalah bagian kecil dari produk budaya tapi menyimpan filosofi kehidupan Simalungun,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki Hari Ulos pasca ditetapkan sebagai warisan budaya nasional tak benda pada tanggal 17 Oktober 2014 dengan nomor register 0010000708. Di dalamnya Hari Ulos termasuk hiou. “Tantangan ke depan, tiap generasi Simalungun mengenal dan mencintai warisan leluhurnya hingga lestari,” tekadnya.

Secara rinci St Radiapo Sinaga menunjuk ragam hiou. Mulai Hiou Nanggar Soeasah, Hiou Ragi Tinaboer, Hiou Ragi Panei, Hiou Ragi Sapot, Hiou Ragi Siattar, Hiou Ragi Sattik, Hiou Hati Rongga, Hiou Gobar dan Hiou Boelang-boelang. “Sebagai putra asli Simalungun, meski di rantau, minimal menggunakan di acara tertentu. Selain sebagai upaya melstarikan pun menunjukkan jati diri sebagai putra Simalungun,” tambahnya. “Mambere hiou itu bagian dari upaya melestarikan tradisi. Juga untuk mendukung produksi!”
Ia mengatakan, di satu produk tersebut, penenun dapat menunjukkan kreativitas dalam memroduksi benda budaya tersebut.

“Penenun Simalungun harus diberi dukungan. Mulai dari modal hingga bahan memroduksi. Sesuai ketetapan UNESCO, minimal disediakan 10 hektare untuk produksi bahan baku agar budaya lokal diakui sebagai warisan budaya dunia. Simalungun punya lahan yang luas dan di lahan tersebut dapat dibudidayakan bahan dasarnya,” paparnya.

St Radiapo Sinaga meminta, generasi muda memahami fungsi hiou hingga timbul rasa cinta. Misalnya untuk kaum perempuan mengoleksi suri-suri, ragipanei atau jabit. “Secara umum Hiou melambangkan kekerabatan Simalungun!” (T/R10)


T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments