Sabtu, 24 Agu 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Eurovision 2019 Digelar di Tengah Tekanan Boikot pada Israel

Eurovision 2019 Digelar di Tengah Tekanan Boikot pada Israel

admin Kamis, 16 Mei 2019 15:41 WIB
Tel Aviv (SIB) -Eurovision 2019 dimulai di Tel Aviv, Israel. Tidak seperti dibayangkan publik di mana festival untuk penyanyi sekawasan Eropa yang sepi karena boikot pekerja seni, pembukaan kompetisi pada Rabu (15/5), berlangsung semarak.

Ada puluhan superhero hadir yakni para pesohor dari sejumlah negara Eropa yang sebelumnya berjaya di kompetisi tersebut. Pemenang Eurovision 2018 Netta Barzilai berada di panggung kehormatan. Artis Israel itu memberi sensasi sendiri.

Madonna dijadwalkan tampil. Kehadiran sang pesohor AS itu menuai kecaman, khususnya dari organisasi pendukung Palestina, Maan News, tapi si Material Girls tetap hadir dan bernyanyi.

Kampanye Palestina untuk Akademik dan Boikot Budaya Israel (PACBI), membuat cuitan di Twitter dengan tagar #MadonnaDontGo.
Jauh-jauh hari, lebih dari 171 seniman dan selebritas menandatangani surat terbuka untuk memboikot kontes Eurovision 2019 di Tel Aviv.

Penyeruan boikot datang dari musisi, penulis, aktor, sutradara, novelis, dan penyair. Pemboikot menuduh Israel terus melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia Palestina sejak puluhan tahun. Seniman Israel pun ikut menandatangani petisi itu seperti Aviad Albert, Michal Sapir, Ohal Grietzer, Yonatan Shapira, Danielle Ravitzki dan David Opp. "Kami, seniman yang bertandatangan di bawah ini dari Eropa dan sekitarnya, mendukung seruan tulus dari seniman Palestina untuk memboikot Kontes Lagu Eurovision 2019 yang diselenggarakan oleh Israel," bunyi petisi tersebut.

Eurovision adalah kompetisi tahunan yang diadakan di antara negara anggota Uni Penyiaran Eropa yang aktif. Setiap negara anggota memasukan lagu untuk ditampilkan langsung dan lalu memilih lagu untuk menjadi lagu paling populer.

Sejumlah artis dunia lahir dari kompetisi tersebut. Sebut ABBA (wakil Swedia yang menyanyikan 'Waterloo' dan memenanginya pada 1974) dan Celine Dion (perwakilan Swiss, 1988).

Bukan hanya musisi. Lagu pun abadi dari pencarian bakat ini. 'Volare' yang dibawakan Frank Sinatra dan Dean Martin di lounge bar selama beberapa dekade berasal dari entry Eurovision. 'Nel Blu, Dipinto di Blu' membawa perwakilan Italia Domenico Modugno juara pada 1958.

Meski aturan menyebutkan, lagu semestinya bebas dari unsur politik, tapi drama geopolitik tak dapat dilepaskan begitu saja dari Eurovision. Pada 2016, lagu hits Ukraina yang merujuk pembasmian etnis Tartar Crimea 1944 menjadi statement politik kuat-menyusul aneksasi Crimea oleh Rusia dua tahun sebelumnya.

Ukraina bukan yang pertama. Lagu yang dilantunkan musisi Portugal pada ajang 1974 juga mencirikan sinyalemen serupa. Ini membuktikan bahwa ajang pencarian bakat seperti ini pun dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, termasuk revolusi.

Tahun 2019, delegasi 41 negara berkompetisi melewati dua sesi semifinal, Selasa - Kamis (16/5). Seleksi dua hari akan menyisakan 26 kontestan yang memperebutkan tiket grand final, Sabtu (18/5). (T/R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments