Senin, 20 Mei 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Consolatio Choir Medan Pukau Publikdi 'WarNoSingYes'

Consolatio Choir Medan Pukau Publikdi 'WarNoSingYes'

admin Kamis, 04 April 2019 20:23 WIB
SIB/Dok
CONSOLATIO CHOIR MEDAN: Consolatio Choir Medan memukau publik di Festival Musik dan Tari bertajuk 'War- NoSingYes' di Auditorium RRI Jakarta, Jumat - Sabtu (29-30/3).
Jakarta (SIB) -Consolatio Choir Medan memukau publik di Festival Musik dan Tari bertajuk 'WarNoSingYes' di Auditorium RRI Jakarta, Jumat - Sabtu (29 - 30/3). Kegiatan yang diadakan Kementerian Politik, Hukum dan HAM itu yang pertama diadakan dan melibatkan sejumlah negara di dunia seperti Vietnam, Kuba dan Iran. Dari Indonesia, ada 16 grup yang berpartisipasi.

Meski tidak menyertakan personel inti, Consolatio Choir yang didapuk memeriahkan opening ceremony menyuguhkan yang terbaik. "Saat yang sama, Consolatio Choir tampil di acara perbankan. Team A Consolatio Choir di sana, Team B tampil di prosesi awal 'WarNoSingYes'," ujar konduktor Ir Tony Siagian.

Talenta yang ditampilkan sesuai dengan tema etnik yakni Tapanuli. Meski dalam jumlah relatif mini, namun Consolatio Choir memberi yang terbaik. Sama seperti ketika mengisi acara dalam live streaming di Taman Resort Simalem - Karo, Consolatio Choir 'menguasai' panggung. Dari Aceh tampil Gita Swara Tamiang yang berasal dari Aceh Tamiang.

Menkopolhukam Wiranto dalam sambutan pembukaan mengatakan, orang menyanyi itu pasti gembira, tidak mungkin berkelahi sambil bernyanyi, menyenangkan orang lain juga menyenangkan diri sendiri. "Kalau nyanyinya bagus, tepuk tangan karena hebat, yang nyanyinya jelek juga tepuk tangan karena jelek. Karena menyanyi itu yang bermasalah yang mendengarkan, bukan yang menyanyi. Jadi menyanyi itu menyenangkan. Oleh karena itu, saya sepakat dengan judulnya 'WarNoSingYes' sederhana tapi maknanya bisa sangat dalam bagi kehidupan kita sebagai bangsa," katanya.

Ketua Steering Comite Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi mengatakan acara yang diprakarsai oleh Menkopolhukam sebagai gong untuk menyerap nada sumbang menjelang Pemilu. Bentuk kegiatan berupa Festival Musik dan Tari kolaborasi putera daerah dengan Keluarga Besar Kedutaan Besar sejumlah negara sahabat merupakan pola baru untuk mengelola politik, hukum dan keamanan, yaitu dilakukan dengan penuh kegembiraan. Di era sekarang, politik dan keamanan tidak lagi identik dengan perang senjata. Tapi lebih cenderung perang asimetris, terkait dengan budaya, ideologi dan lainnya. "Perhelatan memastikan bahwa kebhinekaan budaya, agama, suku, ras dan golongan bukanlah sumber malapetaka. Kebhinekaan dalam bentuk dan dimana pun adalah sebuah keniscayaan," tegasnya sambi menambahkan kegiatan di Indonesia menjadi referensi bagi dunia internasional.

Selain melibatkan negara sahabat, kegiatan pun bekerja sama dengan masyarakat adat daerah-daerah Nusantara.

Ketua OC Yustini Liem mengungkapkan, acara dimaksud membuka pintu untuk memperkenalkan potensi daerah-daerah yang ada di Nusantara mulai dari falsafah spiritual, alam, kriya, herbal, kuliner dan lainnya ke dunia. Kegiatan pun merespon assymetric war 7F (Food, Film, Fashion, Fun games, Fantasy, Free Sex, Free Thinking) yang akhir-akhir ini sangat menonjol. (T/R10/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments