Kamis, 19 Sep 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Athan Siahaan 'Selimuti' Candi Prambanan dengan Gaun Ulos Sibolang dan Perkusi Batak

Athan Siahaan 'Selimuti' Candi Prambanan dengan Gaun Ulos Sibolang dan Perkusi Batak

admin Kamis, 12 September 2019 14:20 WIB
SIB/Dok
Berbahan Ulos : Athan Siahaan dan para model mengisi Festival Payung Indonesia di kompleks Candi Prambanan, Minggu (8/9). Dalam peraan, rancangan berbahan Ulos Sibolang itu diiringi perkusi Batak.
Yogyakarta (SIB) -Athan Siahaan mengisi Festival Payung Indonesia (FPI) di kompleks Candi Prambanan, Minggu (8/9). Perancang busana yang fokus pada gaun berbahan dasar tenun ulos itu menurunkan karya-karya terakhirnya berbahan Ulos Sibolang. Ketika berparade, perkusi Batak melingkupi kompleks candi.

Festival dimulai Jumat (6/9) yang dipusatkan di Lapangan Garuda Mandala tersebut dipenuhi payung-payung putih. Athan menampilkan karya berbahan ulos dengan warna indigo. Perpaduan warna tersebut dipilihnya untuk menambah kesakrealan Candi Prambanan. "Haen ini biasanya digunakan di acara kematian oleh Bangso Batak. Dengan eksplorasi, ulos indigo menjadi fashion yang elegan," ujarnya.

Perancang asal Balige, Sumut itu mengatakan, adibusana dalam Athan Brand dan ready to wear tersebut sebagai bagian upayanya memasyarakatkan ulos. "Saya tidak menggunakan sirat dalam koleksi ini. Kalau ulos disebut sakral dalam adat istiadat itu harus penuh dengan siratnya. Dalam koleksi ini saya tidak menggunakan sirat, tidak menggunakan salah satu bagian badan ulos," kata Athan.

Dalam pergelarannya, indigofera menjadi fashionable. Yang menghentak keingintahuan publik, Athan tidak memakai zat kimia untuk meracik busana berbahan ulos tersebut. Misalnya warna dari tumbuhan indigofera yang menghasilkan warna biru. Bahannya tercipta dari penenun etnik. Kainnya juga dibuat dari kapas dan dipintal menjadi sebuah karya dengan kain motif Sibolang.

Tema suguhannya adalah The Mistical of Sibolang. Meski sama seperti ketika dipergelarkan di Rusia, kali ini gaunnya lebih pada sesuatu yang mistis dalam balutan fashion elegan dan menarik. Di ibu kota negara Beruang Merah Athan menampilkan dominan warna merah berasal dari buah ketapang.

Yang menambah eksotik, para model menampilkan karya yang ditambah dengan payung sesuai dengan tema kegiatan. "Kalau baju saya diproduksi dengan mesin, tidak nyambung dengan baju (karya) saya. Sementara baju saya mengangkat kearifan lokal, misal saya gabungkan dengan caping dan tambah. Itu bisa meningkatkan karya para perajin," kata Athan seperti disiarkan Tempo.Co.

Penampilan di Yogyakarta adalah yang kelima. Saat fashion show di Candi Prambanan, Athan mengeluarkan sepuluh outfit. Bahan untuk membuat busana minimal 8 ulos yang harganya Rp 750 ribu - Rp 1,5 juta seunit ulos. "Tidak disebutkan nominal pun orang bisa tahu harganya berapa. Belum biaya jahit, desain dan lain-lain, ya... Rp 25 juta ke atas," kata pemilik nama asli Pandapotan Siahaan tersebut.

Direktur Program Festival Payung Indonesia 2019 Heru Mataya menyatakan fashion show dipadukan dengan payung untuk mengangkat para perajin dari seluruh Indonesia. (T/R9/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments