Sabtu, 16 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Wara Sinuhaji: Jalan Tol Batal Dibangun, Rakyat Karo Kecewa

Wara Sinuhaji: Jalan Tol Batal Dibangun, Rakyat Karo Kecewa

admin Senin, 12 Agustus 2019 12:57 WIB
Wara Sinuhaji
Medan (SIB) -Orang-orang Karo di lembah pedalaman Bukit Barisan, di kaki Sibayak dan Sinabung, sikap dan rasa nasionalismenya tidak usah lagi diragukan. Gak usah didatangipun, mereka sudah paham memilih siapa yang layak menjadi presiden di republik ini.

"Kecintaan mereka terhadap Bung Karno luar biasa, sikap nasionalismenya terhadap NKRI harga mati, karena itu tidak heran ketika PDIP ikut mengusung Jokowi, saya pastikan di atas sembilan puluh persen pemilih, pastilah suaranya untuk Jokowi",kata pengamat sosial politik USU Drs H Wara Sinuhaji MHum di Medan, Sabtu (10/8).

Dikatakan Wara ,prediksinya tidak meleset, kenyataan membuktikan, Jokowi mendulang suara 93 persen dari jumlah total pemilih di Karo .Demikian juga lima tahun lalu, karena Jokowi dianggap mereka sebagai "penjelmaan" diri Bung Karno, Jokowi jugalah mereka pilih.Calon presiden lain hanya diberi sedikit suara supaya kelihatan adil, kan tidak bagus juga kalau tidak diberi suara.

"Setelah hampir 5 tahun, dan baru saja terpilih menjadi presiden periode kedua, meraup suara signifikan di Karo, apakah kemudian, rakyat Karo meminta dan mengemis ini dan itu segalanya ? seingat saya kok tidak pernah ya .Beda , orang Karo itu gigih, bermental pejuang.Mereka bukan "tikus coro" bermental pengemis dan menghamba terhadap penguasa", katanya.

Buktinya, beberapa kali Presiden Jokowi sudah berkunjung ke gunung, melihat dan menyaksikan bagaimana pengungsi Sinabung, bertahun -tahun mereka hidup di gubuk-gubuk pengungsian, namun mereka tetap hidup bertahan, masih mampu untuk makan dan menyekolahkan anak-anaknya. Sebentar lagi sepuluh tahun , Sinabung tak berhenti erupsi", kata Wara.

Dunia sudah lama tahu, sejak jaman kolonial Belanda, wilayah Karo ini, terutama Berastagi sudah menjadi tujuan destinasi wisata dunia. Tidak ada pernah perhatian pemerintah.

Dikatakan Wara, gubernur dan bupati sejak era reformasi sudah berkali-kali ganti dan dipilih atas usulan partai politik, tapi belum pernah ditemukan untuk dipilih yang punya pengertian untuk itu.

"Air minum untuk kebutuhan rumah tangga di ibu kota kabupaten saja sangat sulit diperoleh.Jangankan untuk minum, maaf kata mereka pada saya, untuk "cebok" saja sulit," kata Wara.

Jarak Medan - Kabanjahe lewat Berastagi hanya 65 km, tapi kalau terjebak macet bisa enam sampai delapan jam nyangkut di hutan Bukit Barisan sambil menahan rasa haus dan lapar. Jumlah pertambahan kendaraan bermotor sudah lama tidak sebanding dengan ruas jalan yang stagnan, hingga sewaktu waktu rawan macat.

Sementara jalan raya yang dilewati sepanjang tahun hanya itu ke itu, dan selamanya masih jalan buatan kolonial.Banyak jalan alternatif buatan kolonial Belanda sebenarnya bisa dikembangkan mengatasi kemacetan.Tapi gubernur dan bupati sejak dari dulu belum berbuat, demikian juga wakil -wakil di legislatif, semua mereka tidak mau tahu atas kesulitan rakyatnya,kata Wara.

"Setelah pilpres memenangkan Jokowi ada secercah harapan memecahkan permasalahan kesulitan infrastruktur ini.Kami sangat berbahagia mendengar berita dan wacana di surat kabar.Tentang adanya niat pemerintah untuk membangun jalan tol ke arah Berastagi.

Semua kaum intelektual, yang merasa cendekiawan dan para akademisi.Demikian juga para politisi di legislatif, berwacana ria dan merasa paling berjasa terhadap sesuatu yang baru direncanakan ini", ujarnya.

Baru beberapa bulan saja kegembiraan belum hilang, beberapa waktu kemudian rencana pembangunan tol belum bisa dilaksanakan, karena anggaran belum memadai.Berita yang didengar menjadi berubah.Pemerintah pusat tahun depan akan menggantinya dengan membangun dua jembatan tiang pancang yang indah untuk mengatasi kemacetan, seperti di Sumatera Barat dan Riau.

"Rakyat Karo di gunung sana, tetap saja adem hatinya.Mereka menerima, sudahlah, kalau belum bisa direalisasikan jalan tol , mau apa kita, tiang pancangpun jadilah", kata mereka.

Begitulah rakyat Karo, nrimo saja apa yang mau dibangun pemerintah bagi kebutuhan urgennya.Tetapi kemudian di surat kabar dan media sosial, rakyat Karo sangat menjadi terusik membacanya. Jangankan jalan tol dan dua tiang pancang, tetapi tahun depan ternyata hanya di bangun sistem kantilever atau beton bertulang dengan biaya Rp80 M.

Dalam renunganku,kata Wara, rakyat Karo yang nasionalistik ini memang terlalu baik.Coba buka dan hayati lembaran sejarah bangsa ini.Hanya beberapa etnik yang setia dan tidak pernah berontak terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, salah satu adalah rakyat Karo.

"Apakah warga Karo kecewa? Mungkinlah, tapi kalaupun jalan tol dibangun untuk semuanya.Gak banyak yang diminta, hanya infrastruktur jalan raya," kata Wara.(M01/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments