Senin, 17 Feb 2020
  • Home
  • Headlines
  • Virus Corona Merajalela, Pabrik iPhone dan Mobil Ikut Bikin Masker

Virus Corona Merajalela, Pabrik iPhone dan Mobil Ikut Bikin Masker

* China Ciptakan Robot Khusus untuk Kurangi Penularan Virus
Jumat, 14 Februari 2020 09:40 WIB
Foto Ant/M Risyal Hidayat

ELEKTRONIFIKASI: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kanan) bersama Mendagri Tito Karnavian (kanan), Menkeu Sri Mulyani Indrawati (kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) menunjukkan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama Koordinasi Percepatan dan Perluasan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (13/2). Perjanjian tersebut bertujuan utuk meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara serta meminimalisir potensi kebocoran keuangan pemerintah daerah. 

Beijing (SIB)
Demi memenuhi kebutuhan masker yang mendesak di China saat virus corona terus merajalela, sejumlah pabrik melakukan produksi lintas sektor. Mulai dari pabrik popok, pabrik mobil, pabrik garmen hingga pabrik perakitan smartphone kini memproduksi masker dan pakaian pelindung yang diperlukan dalam memerangi wabah virus corona.

Seperti dilansir AFP, Kamis (13/2), hanya dalam dua hari, pabrik popok bernama New Yifa Group mengubah jalur produksinya di Provinsi Fujian untuk membuat masker wajah. Pabrik itu memanfaatkan sejumlah material yang biasanya digunakan untuk menghasilkan produk-produk higienis. "Seluruh pegawai kami sedang mengerjakan masker sekarang," ucap Wakil Presiden New Yifa Group, Shen Shengyuan, kepada AFP dalam wawancara via telepon. Dia menambahkan bahwa pabrik di Provinsi Fujian mampu memproduksi hingga 600 ribu masker setiap harinya. Menurut Shen, perusahaannya akan mengubah jalur produksi popok lainnya.

Di sisi lain, keputusan New Yifa Group memproduksi masker memiliki risiko, yakni perusahaan ini terpaksa menunda pesanan senilai US$ 6 juta demi fokus pada produksi masker. Shen meyakini bahwa otoritas kota Putian, ibu kota Provinsi Fujian, akan membantu perusahaannya nanti.

Di kota lainnya seperti di Ningbo, Provinsi Zhejiang, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua, sedikitnya 14 pabrik garmen setempat berniat memproduksi satu juta masker dalam waktu 20 hari. Perusahaan-perusahaan lain di wilayah China yang melakukan hal serupa, antara lain Foxconn yang merakit iPhone, kemudian produsen mobil BYD hingga General Motors Venture di China, yakni SAIC-GM-Wuling, dan Korporasi Petroleum dan Chemical China (Sinopec).

Pabrik mobil China, BYD, menyatakan pihaknya sedang memeriksa desain dan produksi perlengkapan pelindung, untuk memproduksi masker dan disinfektan. BYD mengharapkan pihaknya bisa memproduksi hingga 5 juta masker dan 50 ribu botol disinfektan setiap harinya hingga akhir bulan ini.

BYD telah memulai proses produksi massal pada Senin (10/2) waktu setempat. Disebutkan juga oleh BYD kepada AFP bahwa masker hasil produksinya akan disalurkan kepada rumah-rumah sakit dan area-area terdampak serius wabah virus corona. Secara terpisah, Sinopec menyatakan pihaknya akan membentuk 11 jalur produksi dengan para mitranya dan menargetkan 1 juta masker bisa diproduksi setiap harinya pada 10 Maret. Raksasa teknologi Taiwan, Foxconn, yang merakit produk Apple, juga menyatakan via media sosial bahwa pihaknya mulai memproduksi masker di salah satu pabriknya yang ada di Shenzhen. Foxconn mengharapkan bisa memproduksi dua juta masker per hari pada akhir Februari.

Sejauh ini, total 1.363 orang meninggal akibat virus corona secara global, dengan sebagian besar kasus ada di wilayah China daratan dan khususnya Provinsi Hubei. Lebih dari 60 ribu orang lainnya di sedikitnya 20 negara positif terinfeksi virus ini. Bulan ini, otoritas China mengumumkan kebutuhan mendesak untuk masker, khususnya di Provinsi Hubei, di mana banyak dokter menghadapi kekurangan pasokan masker yang memadai. Pada kapasitas penuh, pabrik-pabrik di China hanya bisa memproduksi 20 juta masker setiap harinya.

Sebanyak 76 persen produsen masker dan 77 persen produsen pakaian pelindung telah mulai bekerja pada 10 Februari lalu di 22 wilayah, masih ada kekurangan masker dan pakaian pelindung di wilayah China. Para dokter di garis terdepan di Wuhan terpaksa merawat pasien tanpa masker atau pakaian pelindung yang layak, dengan beberapa harus menggunakan kembali perlengkapan yang sama.

China Ciptakan Robot Khusus
Sementara itu, para peneliti di China telah mengembangkan robot khusus untuk mengurangi penularan virus corona atau Covid-19 di area perkotaan yang padat penduduk. Robot khusus itu akan menyemprotkan cairan disinfektan ke lingkungan setempat. Seperti dilaporkan kantor berita China, Xinhua News Agency dan dilansir The Star, Kamis (13/2), mesin penyemprot tersebut, merupakan kendaraan yang dilengkapi dengan rantai besi atau caterpillar track, sebelumnya digunakan untuk penyemprotan lahan pertanian.

Para peneliti dari Universitas Soochow di Provinsi Jiangsu merenovasi sistem semprotan pada mesin itu dan menjadikannya lebih cocok untuk cairan pembersih disinfektan. "Kami telah bereksperimen dengan penyemprotan cairan disinfektan, yang membuktikan bahwa kandungan klorin di udara meningkat dan kemungkinan penularan aerosol berkurang," ujar anggota tim peneliti tersebut, Geng Changxing.

Robot penyemprot tersebut bisa dioperasikan dari jarak jauh. Jangkauan alat penyemprot pada robot ini bisa mencapai 30 meter. Menurut para peneliti, robot tersebut bisa bergerak dengan kecepatan 7 kilometer per jam dan membunuh virus di area seluas lebih dari 40 ribu meter persegi.

Robot ini cukup kecil untuk bermanuver di area permukiman warga, halte bus, lokasi konstruksi dan area parkir bawah tanah. Robot ini telah dikerahkan ke sejumlah area perkotaan di wilayah Suzhou. Para peneliti mengatakan bahwa robot ini akan lebih banyak digunakan di sekolah-sekolah dan lingkungan setempat.

China Ubah Metode Diagnosis
Lonjakan drastis jumlah kasus virus corona atau Covid-19 dilaporkan terjadi di wilayah China daratan, khususnya Provinsi Hubei yang menjadi pusat wabah. Lonjakan drastis ini terjadi setelah otoritas Provinsi Hubei mengubah metode diagnosis untuk kasus virus corona yang terkonfirmasi di wilayahnya.

Seperti dilansir AFP dan media nasional China Global Television Network (CGTN), Kamis (13/2), otoritas Provinsi Hubei melaporkan adanya 242 kematian dalam sehari pada Rabu (12/2) waktu setempat. Tambahan itu menjadikan jumlah korban tewas akibat virus corona di Provinsi Hubei sejauh ini mencapai total 1.310 orang. Jumlah kasus baru di Provinsi Hubei dilaporkan mencapai 14.840 kasus hanya dalam sehari, pada Rabu (12/2) waktu setempat, yang merupakan jumlah kasus baru terbesar dalam sehari sejak virus ini muncul pada Desember tahun lalu. Jumlah itu termasuk 13.332 kasus klinis yang didiagnosis melalui CT scan. Dengan demikian, total saat ini ada 48.206 kasus virus corona yang terkonfirmasi di Provinsi Hubei.

Lonjakan tajam jumlah kasus baru terjadi setelah otoritas kesehatan setempat mengubah metode diagnosis untuk kasus virus corona yang terkonfirmasi di wilayahnya. Komisi Kesehatan Provinsi Hubei menjelaskan bahwa 13.332 kasus klinis itu sebenarnya awalnya merupakan kasus 'suspect' virus corona. Namun kemudian didiagnosis sebagai kasus virus corona terkonfirmasi setelah metode diagnosis diperluas, termasuk dengan melibatkan CT scan.

Metode baru ini, sebut CGTN, diberlakukan dalam versi kelima rencana diagnosis dan perawatan yang dirilis oleh Komisi Kesehatan Nasional China (NHC). Tidak dijelaskan lebih lanjut soal versi kelima tersebut oleh CGTN. Tidak dijelaskan juga apa alasan yang mendasari pengubahan metode diagnosis ini dan mengapa baru diterapkan sekarang.

Secara terpisah, seperti dilaporkan AFP, keputusan otoritas setempat memperluas metode diagnosis ini berarti otoritas medis bisa menggunakan rontgen paru-paru pada pasien 'suspect' virus corona untuk mendiagnosis virus ini, bukan hanya menggunakan tes nucleic acid yang selama ini dijadikan standar pemeriksaan.

Data terbaru NHC pada Kamis (13/2) waktu setempat menyebut total 59.651 kasus virus corona terkonfirmasi di wilayahnya dan 445 kasus lainnya di luar China. Jumlah korban tewas di wilayah China daratan mencapai 1.361 orang. Dua orang lainnya meninggal di Hong Kong dan Filipina. Total secara global ada 1.363 orang meninggal akibat virus corona.

Sementara itu, di sisi lain, lonjakan drastis jumlah kasus di Hubei ini semakin memicu spekulasi bahwa parahnya wabah virus corona ini telah dilaporkan secara tidak semestinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memuji China atas transparansi dalam menangani wabah virus corona, yang bertolak belakang saat wabah sindrom pernapasan akut berat (SARS) muncul tahun 2002-2003 lalu.

Namun tetap ada pandangan skeptis secara global, dengan dugaan mungkin ada kemiripan dalam cara otoritas China menangani wabah SARS dulu. Terlebih, otoritas Provinsi Hubei pernah dituduh menutup-nutupi kegawatan wabah virus corona pada awal Januari lalu karena mereka menggelar pertemuan politik penting saat itu.

Zhong Nanshan, seorang ilmuwan terkemuka Komisi Kesehatan Nasional China, menyatakan bahwa dirinya memperkirakan wabah ini akan mencapai puncak pada pertengahan hingga akhir Februari. Namun di Jenewa, pejabat WHO memperingatkan untuk tidak mencapai kesimpulan prematur pada data otoritas China. "Saya pikir masih terlalu dini untuk memprediksi awal, pertengahan atau akhir wabah ini sekarang," tegas Kepala Program Darurat Kesehatan WHO, Michael Ryan. (AFP/dtc/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments