Rabu, 20 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Tiga Orang Batak jadi Korban Pembantaian KKB di Papua

Tiga Orang Batak jadi Korban Pembantaian KKB di Papua

* Keluarga Korban Tolak Santunan Rp24 Juta
admin Minggu, 09 Desember 2018 12:28 WIB
SIB/Eduwart MT Sinaga
MEDAN (SIB) - Dari 16 orang karyawan PT Istaka Karya yang menjadi korban pembantaian Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bukit Kabo Distrik Yigi, Kabupaten Nduga ternyata tiga di antaranya merupakan warga dari Sumatera Utara.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, Jumat (7/12), membenarkan tiga orang asal Sumut turut menjadi korban dalam penyerangan di Papua Barat.

"Polda Sumut akan koordinasi seperti masalah ambulance atau pengawalan penjemputan korban. Intinya kita siap apabila dibutuhkan oleh keluarga korban," kata Tatan kepada wartawan.

Ketika disinggung apakah pihak Polda Sumut akan mengirimkan BKO pasukan ke Papua, mantan Wakapolrestabes Medan ini mengaku sampai saat ini belum ada perintah.

"Kalau ada perintah BKO, pasti akan kita lakukan. Tapi sampai saat inibelum ada perintah. Pada intinya kita bekerja untuk keamanan dan keselamatan warga kita, di Sumut pastinya,"jelas Tatan.

Ditambahkan Tatan, kemarin pihak TNI sudah ada yang di BKO kan ke Papua Barat. Namun, bukan itu yang menjadi korbannya. "Saya mendengar ada yang menjadi korban dari berita di media online dan kejadian itu menjadi perhatian bagi kita,"ujarnya.

Ditambahkan Tatan, pihaknya siap untuk melayani masyarakat, sepertiapabila keluarga korban butuh ambulance pasti akan diluncurkan segera.
"Termasuk pengawalan pengantaran jenazah keluarga korban ke rumah duka. Intinya kita siap,"tegas Tatan.

Tiga warga Sumut yang menjadi korban adalah Jepri Simaremare warga Tebingtinggi, Rikki Cardo Simanjuntak dan Effendi Hutagaol, keduanya warga Balige.
 
Isak Tangis
Isak tangis mewarnai kedatangan jenazah Jefri Simaremare (26) warga Dusun I Desa Seibelutu Kecamatan Seibamban Serdangbedagai (Sergai) yang merupakan korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, Sabtu (8/12).

Raut kesedihan terlihat jelas dari wajah ibu Jefri, Sonti Br Sirait (55). Ia seakan tak percaya atas kepergian anak kedua dari 4 bersaudara itu. "Siapalah yang menembakimu, Jefri. Cepat kali kau pergi, nak," ucapnya terisak.

Sonti sempat meminta agar para petugas pengantar jenazah yang dipimpin Kapolres Sergai AKBP H Juliarman EP Pasaribu SSos SIK MSi mau membuka peti jenazah supaya dapat melihat wajah anaknya terakhir kali. "Tolong Pak, buka petinya. Aku mau melihat muka anakku sebentar," pintanya.

Namun, karena kondisi mayat sudah 6 hari serta dikhawatirkan mengeluarkan bau tak sedap, dengan berat hati Kapolres Sergai tidak mengizinkan peti jenazah dibuka."Maaf inang, bukannya kami tak mengizinkan. Namun, kondisi mayat sudah beberapa hari. Sekali lagi mohon maaf inang, peti tidak bisa kita buka," tutur Kapolres.

Sebelumnya, seperti dituturkan kakak kandung Jefri bernama Tetty Br Simaremare (43), tidak ada firasat apapun yang menghampiri keluarga terkait kepergian Jefri yang dikenal berperangai baik serta periang itu."Jefri sempat bilang mau merayakan Natal dan Tahun Baru 2019 di kampung. Dia juga berjanji menikah di usia 30 tahun," katanya kepada sejumlah awak media di rumah duka.

Dikatakannya adiknya yang dikenal selalu menyisihkan gajinya untuk kedua orangtuanya itu sempat membuat senang para keluarga. Pasalnya, sejak 5 tahun adiknya pergi merantau, mereka belum pernah merayakan Natal dan Tahun Baru bersama."Kami senang sekali mendengar dia mau merayakan Tahun Baru di sini. Namun takdir berkata lain. Adikku pulang dalam kondisi seperti ini," bilang Tetty seraya menyebut, jenazah Jefri rencananya dimakamkan di belakang rumah.

Sementara itu, menurut keterangan warga sekitar, Jefri dikenal sebagai pemuda yang rajin, sering menolong serta berprilaku baik dalam bergaul. "Dirinya memang senang merantau karena memang perangainya yang tak kenal lelah. Kami merasa kehilangan sosok pemuda yang tangguh di kampung kami," sebut warga sekitar A Sinaga saat diwawancarai SIB usai melayat.

Pantauan SIB, penandatanganan serah terima jenazah disaksikan Kapolres Sergai, perwakilan Kementrian BUMN dan perwakilan PT Istaka Karya tempat Jefri bekerja. Hingga berita ini dikirimkan, Ibu Jefri belum bisa diwawancarai awak media.

Sementara itu, sekira pukul 16.00 WIB, jenazah Jefri Simaremare dimakamkan secara agama Kristen di belakang rumahnya dipimpin Pdt Bisro Rumapea.
Dimakamkan Di  Balige 

Sementara itu, jenazah Efrandi Hutagaol, korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dimakamkan di   kampung halamannya, Dusun IV Sosor Dolok , Desa Hutagaol Peatalun, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sabtu (8/12).

Jenazah tenaga ahli  Balai Besar Pembangunan  Jalan Nasional (BBPJN) wilayah XVIII Papua ini, tiba melalui Bandara  Udara Internasional Sisingamangaraja XII Silangit Siborong borong Kabupaten  Tapanuli Utara.

Setibanya di rumah duka, jenazah almarhum disambut isak tangis kedua orang-tuanya, adik, mertua dan kerabat yang sudah lama menunggu.

Selain peti jenazah, wanita muda yang turun dari ambulance tidak luput dari  perhatian pelayat. Ternyata, wanita itu adalah Okta S Br Manik, istri almarhum yang baru dinikahi 30 Desember 2017 lalu. Belum genap satu tahun lamanya berkeluarga, wanita asal Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah itu pasrah menerima kepergian suaminya.

Ratusan  kerabat  serta pelayat mengantarkan jenazah pria berusia 28 tahun itu, ke tempat peristirahatannya.

Hadir juga Perwakilan  Kementerian  PUPR  dalam hal ini BBPJN Wilayah  XVIII Ferdinan Siagian, mewakili  BBPJN Wilayah II Sumut Bambang Pardede,  Bupati Toba Samosir Darwin  Siagian, Kapolres Tobasa AKBP Agus Waluyo. 

Bupati Tobasa Darwin Siagian dan juga perwakilan Kementerian PUPR, menyampaikan turut berdukacita kepada seluruh pihak keluarga besar alamarhum Efrandi Hutagaol.

Menurut rekan almarhum seperti yang disampaikan Ferdinan Siagian, semasa hidupnya selain sosok pekerja yang rajin dan ulet, almarhum juga  sosok yang baik, ramah dan mudah senyum. Walau kurang lebih 7 tahun bergabung dengan BBPJN XVIII Papua, banyak kenangan almarhum dengan rekan - rekannya yang tidak bisa dilupakan.

Anak Kedua Dari 5 Bersaudara
Efrandi merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Sabar Hutagaol (55) dengan Junnaida br Gultom. Sejak bekerja di Papua, almarhum selalu membantu kedua orangtuanya di kampung. Hal itu diakui ibu almarhum yang diwawancarai di rumah duka sebelum jenazah Efrandi tiba.

Diterangkan, sejak tamat dari SMKN 1 Balige tahun 2009 lalu, almarhum merantau ke Papua dan bekerja di BBPJN Wilayah XVIII Papua 2011 lalu.

Setelah mendapat pekerjaan itu, Efrandi selalu menghubungi kedua orangtuanya di kampung. "Terakhir kami masih berbicara lewat telepon dua minggu sebelum kejadian," tutur Junnaida.

Almarhum terakhir pulang ke kampung halamannya Desember 2017 saat melangsungkan pernikahannya dengan istrinya. 

Tolak Santunan Rp24 Juta
Dibagian lain negosiasi antara PT Istaka Karya (Persero) dengan keluarga dari karyawan tewas akibat dibunuh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) berlangsung ricuh dan alot. Keluarga korban menolak besaran santunan Rp24 juta yang diberikan perusahaan pelat merah itu.

"Rincian santunan yang disanggupi Istaka Karya tersebut yaitu uang duka sebesar 16,2 juta rupiah, santunan sebesar 4,8 juta rupiah dan penggantian biaya pemakaman sebesar tiga juta rupiah," kata Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Papua, Osman Marbun, dalam pertemuan antara pihak Istaka Karya dengan keluarga korban, di Hanggar Bandara Mozes Kilangin Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (7/12).

Keluarga korban marah ketika mendengar penjelasan perwakilan perusahaan bahwa jumlah tersebut sesuai dengan peraturan yang mana peristiwa itu tidak masuk dalam kategori kecelakaan kerja. Pasalnya, peristiwa tersebut terjadi ketika pekerja sedang beristirahat.

Kemarahan keluarga semakin memuncak bahkan sempat terjadi adu mulut ketika Osman mempertanyakan status peserta negosiasi. Bahkan dalam adu mulut, Osman mengatakan bahwa pihaknya yang sudah payah mengambil "barang" (jenazah) dari dalam hutan. "Itu bukan barang, itu manusia. Kenapa kau bilang itu barang?" kata keluarga korban.

Untuk meredam suasana, Osman kemudian dibawa keluar dari tempat negosiasi. Negosiasi yang berjalan hampir dua jam tersebut terpaksa dihentikan. Perwakilan keluarga korban tetap bersikeras bahwa peristiwa yang terjadi masuk dalam kategori kecelakaan kerja.

"Besar santunan yang disanggupi PT Istaka Karya sangat minim bahkan tidak wajar," kata Samuel, salah satu keluarga korban.

DIKAJI ULANG
Menanggapi kericuhan itu, Dirut PT Istaka Karya, Sigit Winanto mengatakan akan memperhitungkan kembali jumlah santunan kepada keluarga korban, termasuk mendefinisikan apakah peristiwa tersebut sebagai kecelakaan kerja atau tidak.

"Akan dikaji lagi sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Kita belum bisa sampaikan seperti itu (termasuk kecelakaan kerja atau tidak). Yang jelas sekarang pihak keluarga sepakat untuk mengantar para korban ke tempat asal," ujarnya.

Dirut PT Istaka memohon maaf atas keributan yang terjadi pada saat negosiasi yang menyebabkan perang mulut antara keluarga korban dengan Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional Wilayah Papua, Osman Marbun. "Semua dalam kondisi lelah termasuk lamanya proses evakuasi. Saya pikir masih dalam batas wajar," ujarnya. (PK/KJ/MRF/H01/l)
Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments