Sabtu, 19 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Tidak Hanya TNI, Paham Radikalisme Juga Jangkiti PNS dan Pelajar

Tidak Hanya TNI, Paham Radikalisme Juga Jangkiti PNS dan Pelajar

admin Senin, 12 Agustus 2019 12:54 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) yang menyebutkan ada sekitar 3% anggota TNI yang terpapar radikalisme harus menjadi perhatian serius semua pihak. Mengingat, anggota TNI yang memiliki doktrin yang cukup kuat saja bisa terpapar.

Ketua Umum Yayasan Solusi Pemersatu Bangsa, Baskara Sukarya di Jakarta, Rabu (7/8) memaparkan, saat ini tidak hanya 3% prajurit TNI yang sudah terpapar ideologi radikal. Namun, dari laporan yang diterima, ada banyak elemen masyarakat lain, mulai dari pegawai BUMN, PNS, hingga pelajar dan mahasiswa.

"Kalau dari data Kementerian Pertahanan, radikalisme sudah masuk bahkan 3% ke tubuh aparatur TNI. Selain itu juga ada 18% pegawai swasta menolak ideologi Pancasila," kata Baskara Sukarya dalam Diskusi Kebangsaan IP-KI & UNITi "Quo Vadis Indonesia".

Selain prajurit TNI dan pegawai swasta, ada sekitar 19% lebih pegawai BUMN dan Pegawai Negeri Sipil menolak ideologi Pancasila. Namun, yang lebih mencengangkan, ada sekitar 23% pelajar juga terpapar pemikiran yang sama.

"Yang paling kami sedihkan lebih dari 23% pelajar, generasi penerus kita dan mahasiswa tidak peduli dengan Pancasila. Bahkan mendukung agar negara Indonesia menjadi negara khilafah," ucapnya.

Fakta-fakta tersebut tentunya harus disikapi dan dicermati dengan seksama karena tentunya tidak bisa dituntaskan oleh pemerintah semata. Namun, harus dicarikan solusi bersama antar seluruh elemen masyarakat.

"Tentunya ini fakta yang harus kita cermati bersama dan mencari solusinya. Generasi penerus yang akan memegang estafet keberlanjutan bernegara tentu harus kita bekali kembali dengan pendidikan. Yakni bagaimana menghidupkan kembali pendidikan, penghayatan pengalaman Pancasila," ucapnya.

Untuk mencegah meluasnya penolakan ideologi Pancasila di kalangan pelajar, salah satu langkah efektif yang bisa dilakukan yaitu dengan membuat kurikulum yang membangkitkan rasa nasionalisme, rasa cinta bela terhadap negara dan menghormati budaya serta kearifan lokal.

Menurut Baskara, diskusi bertema "Quo Vadis Indonesia" kali ini sekaligus memiliki makna yang cukup dalam. Mengingat, saat ini bangsa Indonesia masih terjebak dalam situasi keprihatinan karena lunturnya pemikiran dan ideologi Pancasila.

"Semua berangkat dari satu rasa keprihatinan terhadap situasi bangsa akhir-akhir ini, agar bisa menjadi renungan kita bersama dan kita bisa menyatukan visi melangkah menuju misi bersama-sama mencari solusi untuk mempertahankan republik tercinta," kata Baskara. (SP/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments