Rabu, 13 Nov 2019

Tapi Jangan Mengganti Babi dengan Ternak Lain

redaksi Jumat, 08 November 2019 14:30 WIB
sib/dok
Sanggam SH Bakkara, dkk
Medan (SIB)
Mewabahnya virus kolera babi selain merugikan peternak juga sudah mengganggu "paradaton" (adat) Batak, khususnya di Sumatera Utara terkhusus Kota Medan. Banyak ternak babi milik peternak lokal maupun perusahaan yang mati, konsumen pun jadi takut sehingga berimbas kepada restoran masakan khas Batak maupun pihak catering.

Hal itu dikemukakan tokoh-tokoh marga seperti ketua Umum DPW Siraja Oloan Sumut Sanggam SH Bakara, Ketua Umum Tuan Maruji Hutagaol Kota Medan Jumongkas Hutagaol dan Ketua Umum Raja Sigodang Ulu Sihotang, Benny Sihotang.

Sanggam Bakara meminta Pemrov Sumut melalui Dinas Peternakan segera turun tangan agar kasus kolera babi ini tidak berkepanjangan, karena rakyat sudah mengeluh. Kalau perusahaan ternak yang jadi korban, bisa saja modal usaha tersebut sudah kuat tapi bagi rakyat kecil, ternak babi merupakan tabungan untuk menyekolahkan anak mereka.

"Persoalan ini jangan dianggap sepele, Pemprov Sumut maupun Pemda di Sumut harus turun segera tanpa menunggu waktu. Harus jelas tindakannya, bagaimana terapi babi, bagaimana cara mengatasi ternak yang sudah terkena virus dan vaksinnya harus sudah didapat. Begitu juga para stakeholder harus ikut membantu pemerintah mengatasi persoalan ini, anggaran harus dialokasikan untuk membeli vaksin dan dibentuk kelompok kerja guna mencari jalan keluarnya," kata Sanggam yang juga Wakil ketua Kadin Sumut ini kepada wartawan, Selasa (6/11).

Hal senada diungkapkan Benny Sihotang anggota DPRD Sumut ini meminta Dinas Peternakan segera mengambil langkah mencari solusi karena politisi Gerindra ini merasa kasihan terhadap para peternak lokal. Terlebih menyangkut adat istiadat Batak sangat mengganggu.

"Tidak semua adat Batak yang mengharuskan pakai daging kerbau dan sapi. Ada acara adat seperti martumpol contohnya (pra nikah). Tidak mungkin "tudu-tudu sipanganon" menggunakan kerbau atau sapi yang lengkap dengan kepala utuh. Tentu harus menggunakan babi," terang mantan Dirut PD Pasar Medan dan Pasar Horas P Siantar ini.

Sementara Jumongkas Hutagaol mengingatkan kepada pemerintah jangan mengalihkan ternak babi menjadi ternak lain dengan dalih mewabahnya virus kolera. Peternak yang sedang dirundung rugi jangan makin dibebani, tapi vaksin untuk mengobati babi tersebutlah yang segera harus didapatkan pemerintah.

Selaku orang Batak, lanjut Jumongkas di adat Batak, khususnya pernikahan dan acara adat kematian orangtua (Saurmatua atau Sarimatua) harus menggunakan hewan kaki empat. Apakah itu babi, kerbau atau sapi. Bagi keluarga yang ekonominya mampu, tentu tidak masalah menyiapkan "sigagat duhut" (kerbau dan sapi).

"Semua itu tergantung kemampuan ekonomi yang melaksanakan pesta. Dalam kondisi seperti ini rakyat kecil jadi korban, seperti simalakama bagi mereka. Membeli kerbau atau sapi harganya terlalu mahal, sementara babi sedang dilanda virus, kalau dipaksakan menyediakan daging babi, takut undangan tidak mau makan," ungkapnya.

Bagi pengusaha bidang angkutan umum ini, penyakit apapun pasti ada obatnya jika serius mencarinya. Untuk itu dia meminta agar Pemrov Sumut serius mencari jalan keluarnya sebelum wabah ini makin berkembang dan meluas. "Tapi jangan mencari jalan keluar mengganti ternak babi dengan ternak yang lain," tuturnya. (M10/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments