Kamis, 17 Okt 2019

Syarat Agar Caleg Tak Stres Saat Kalah Pemilu

*Kamar VIP RS Jiwa Rp570 Ribu Semalam
Selasa, 21 Januari 2014 09:56 WIB
SIB/int
Jakarta (SIB)- Stres memang bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali para caleg yang hendak berlaga di ajang pemilihan umum pada April mendatang. Bahkan kemungkinan caleg terkena gangguan kejiwaan sangat tinggi karena ambisi mereka yang sangat kuat untuk jadi wakil rakyat.

"Sebetulnya, stres itu bisa menyerang manusia mana saja. Kalau caleg kemungkinannya bisa lebih tinggi karena mereka punya ambisi kuat untuk jadi calon wakil rakyat," kata Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, Adi Wirachjanto kepada detikcom Kamis (16/1) pekan lalu.

Menurut Adi untuk menghindari stres atau gangguan jiwa, seorang caleg disarankan memeriksakan kondisi jasmani dan psikologisnya sebelum berlaga.

"Dari analisa psikologinya itu, kalau mereka rutin periksa, nantinya bisa dipantau. Jadi nanti kalau ada apa-apa, kami langsung tahu penyebabnya dan penyembuhannya," papar Adi.

Pemeriksaan kesehatan jiwa memang perlu dilakukan di poli spesialis. Adi menyebut, tidak cukup jika hanya menggunakan surat sehat yang didapat dari Puskesmas-puskesmas setempat.

Berkaca dari pengalaman pemilu 2009 lalu, sejumlah caleg yang sempat ngamar di RSJ Menur adalah mereka yang tidak pernah memeriksa kondisi kejiwaannya terlebih dahulu.

"Mereka sih tidak ada rekam medik tentang kondisi kejiwaannya, karena tidak pernah memeriksakan diri begitu. Tapi beruntung, mereka tidak mengalami gangguan jiwa yang parah," ujarnya.

Sebastian Salang, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Independen (FORMAPPI) mengatakan, tes kejiwaan penting dilakukan untuk melihat kemampuan caleg dalam mengendalikan stres.

Melalui tes kejiwaan, tak hanya kemampuan emosional mengendalikan stres yang bisa diketahui. Namun kemampuan untuk kerjasama, tingkat inteligensia, kepemimpinan, kecenderungan ego, hingga ketelitian seseorang juga bisa terbaca.

Namun, sayangnya, tes tersebut tidak bisa digunakan untuk mencegah budaya korup di kalangan anggota dewan.

Padahal, masalah korupsi adalah salah satu ‘penyakit’ yang sangat banyak menjangkiti anggota DPR. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang dibongkar KPK.

“Saya bukan orang psikologi, saya enggak tahu apakah budaya korupsi bisa dicegah (lewat tes psikologi), kalau bisa begitu bagus sekali, saya setuju banget kalau ada itu. Tapi kayaknya enggak ada tuh ketahuan ini orang bakal korup atau tidak,” kata Sebastian.

Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (PERLUDEM) Titi Anggraini, tes kejiwaan ini tidak banyak maknanya bagi publik. Apalagi, hasil psikotes juga bukanlah persyaratan mutlak dalam seleksi pencalonan.

“Jadi dalam sistem rekrutmen dan pencalonan caleg yang tidak transparan, sulit berharap kuntribusinya bagi kemaslahatan publik,” kata Titi.

Kamar VIP Rumah Sakit Jiwa
Tangan perawat di kamar Ruangan Paviliun Puri Anggrek Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, Jawa Timur, itu tampak terampil. Dengan cekatan, suster berjilbab putih tersebut memasang seprai di atas ranjang pasien.

Sembari membenahi posisi bantal, mata sang perawat sesekali memandangi seluruh isi kamar VIP 1 itu untuk memastikan semuanya sudah beres.

Di Paviliun Anggrek sendiri terdapat 35 kamar dengan berbagai tipe kamar dan fasilitas yang diinginkan oleh para calon pasien. Mulai dari Ruang Utama 1, Ruang Utama 2, VIP 1, dan Juga VIP 2.

Selain menyediakan fasilitas pemeriksaan dini kepada para calon legislator, ternyata RSJ Menur juga punya ruangan yang digemari caleg jika harus "ngamar" setelah kalah dalam pemilihan umum.

Menariknya, kamar mereka bak hotel berbintang tiga dengan ruangan yang cukup besar. "Sebenarnya kamar-kamar ini selalu ada setiap hari kok. Kebetulan memang para caleg ini memilih kamar-kamar ini kalau harus ngamar di Menur," papar Kepala Ruangan Paviliun Puri Anggrek RSJ Menur, Abdul Habib.

Berdasarkan pengalaman pemilu 2009 lalu, ungkap Habib, kebanyakan para caleg yang gagal memilih tipe kamar VIP 1 dan VIP 2. "Karena ini kan untuk kalangan menengah ke atas ya. Jadi harganya juga lumayanlah. Jaranglah yang pilih Utama 1 atau 2, bahkan tidak ada caleg yang milih itu," jelas Habib.

VIP 1 dibandrol dengan Rp 570 ribu per malamnya. Di ruangan yang cukup lebar, yakni 8x5 meter, terdapat satu kasur untuk pasien, satu kasur untuk keluarga pasien, kamar mandi, kulkas besar, AC, dan tak ketinggalan televisi.

Dari jendela kamar pasien di ruangan ini, terdapat taman yang dipenuhi tanaman hijau. Kesan sejuk akan didapat ketika dirawat di kamar ini.

Lain lagi dengan VIP 2 yang punya harga Rp 435 ribu per malamnya. Meski fasilitas hampir sama, namun kulkas di kamar ini lebih kecil dibanding VIP 1. Juga tak ada tempat tidur untuk keluarga pasien yang ingin menunggui.

Adapun kalau yang Kamar Utama 1 dan 2 semuanya pakai kipas angin dan kamar mandi di luar. Bedanya Utama 1 dan 2, kalau di Utama 1 hanya ada satu tempat tidur. Sedangkan kalau Utama 2 bisa menampung 2 pasien dengan 2 tempat tidur. "Harganya, Rp 305 ribu untuk Utama 1 dan Rp 215 ribu untuk Utama 2," ujar Habib.

Menurut Habib, ruangan VIP yang kerap digunakan caleg mirip dengan hotel bintang tiga yang menjamur. "Kamar mereka ini setara hotel bintang tiga lah ya."
Habib menyebut 23 orang tenaga perawat di Puri Anggrek juga tergolong sangat cukup jika memang semua kamar di paviliun ini terpenuhi. "Mereka jaga di tiga shift, pagi, siang, dan malam," jelasnya. (detikcom/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments