Selasa, 22 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Silaturahmi dengan Presidium Alumni 212, Menhan: Tak Ada Islam Keras-Moderat

Silaturahmi dengan Presidium Alumni 212, Menhan: Tak Ada Islam Keras-Moderat

admin Jumat, 28 Juni 2019 09:57 WIB
Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
SILATURAHMI : Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (lima kanan) foto bersama sejumlah tokoh saling bergenggaman tangan saat Silaturahmi dan Halalbihalal bersama Presidium Alumni 212 di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (27/6).
Jakarta (SIB) -Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu melakukan pertemuan sekaligus silaturahmi dengan Presidium Alumni 212. Dalam sambutannya, Ryamizard mengajak semua pihak bersatu usai Pemilu.

Acara itu bertajuk "Rekat Anak Bangsa Menuju Indonesia Sejuk - Halalbihalal dan Silaturahmi Bersama Jend (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu". Ada logo Kemhan, Forum Rekat, dan Presidium Alumni 212 di acara tersebut. Tokoh yang hadir di antaranya Habib Umar Muhammad Al Hamid dan Nonop Hanafi.

"Pasca pemilu ini sudah selesai mari kita satukan perbedaan dan kita rajut kembali benang-benang perekat kesatuan demi mewujudkan kepentingan negara dan bangsa yang lebih besar yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," ujar Ryamizard di Ballroom Hotel Shangrila, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (27/6).

Ryamizard meminta seluruh rakyat Indonesia untuk menghilangkan perbedaan. Menurutnya, tidak ada lagi kelompok pendukung 01 dan 02.

"Mulai saat ini tidak ada yang namanya 01 dan 02 tapi kita semua bersaudara sebagai bangsa Indonesia yang utuh dan tidak pernah terpisahkan sepanjang masa," ucapnya.

"Mulai saat ini tidak perlu ada istilah Islam garis keras dan Islam moderat. Yang ada adalah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin. Islam membawa rahmat dan kedamaian di muka bumi terutama di muka bumi Indonesia," lanjut Ryamizard.

Indonesia, kata Ryamizard, merupakan negara yang besar. Oleh sebab itu, ia meminta seluruh rakyat untuk menjaga keutuhan negara, terutama para ulama yang memiliki peranan penting dalam negara ini.

"Kita bisa bayangkan Indonesia ke depan yang negaranya besar, rakyatnya juga sudah bertambah besar, dan memiliki jiwa yang besar. Maka tidak ada satu negara pun yang berani mengutak ngutik negara ini. Di sinilah para ulama dan saudara semua dituntut untuk mengambil peran penting, harus menjadi paling depan untuk terus menjaga keutuhan negara Indonesia ini," jelasnya.

Dalam acara ini, sejumlah tokoh membacakan petisi bersama Ryamizard. Berikut bunyi petisinya:

1. Kami bersepakat untuk menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia

2. Kami bersepakat bersama-sama menciptakan Indonesia damai, sejuk, tentram, dan aman

3. Kami bersepakat untuk menghormati dan menghargai perbedaan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika. (detikcom/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments