Jumat, 13 Des 2019

Jelang Pemilu 2019

Sejumlah Tokoh Etnis di Sumut Serukan Persatuan

* Ungkapan Perbedaan Pilihan di Masyarakat Sudah Berlebihan
admin Jumat, 08 Maret 2019 10:18 WIB
SIB/Dok
SILATURAHMI: H Syamsul Arifin SE foto bersama dengan sejumlah tokoh etnis di Sumut antara lain Sanggam SH Bakkara seusai Silaturahmi di Medan, Kamis (7/3).
Medan (SIB) -Sekitar 90 orang tokoh dari 24 etnis se-Sumatera Utara menyatakan sepakat bersatu, dalam menghadapi suasana dan situasi menjelang Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif (Pilpres dan Pileg) 2019.

Kesepakatan tersebut lahir dalam pertemuan silaturahmi diprakarsai Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PB MABMI), yang berlangsung di sebuah restoran di Medan, Kamis (7/3).

Kesepakatan itu diambil setelah mendengar paparan pemrakarsa pertemuan, H Syamsul Arifin tokoh Melayu "Sahabat Semua Suku", serta masukan dan buah pikiran dari sedikitnya 12 orang diantara para tokoh yang hadir.

Selaku pemrakarsa, Ketua Umum PB MABMI H Syamsul Arifin SE memimpin pertemuan didampingi pengurus lainnya seperti Dr M Takari, Syahril Tambuse SH, Drs Azrin Marydha dan Ketua Umum PB AMMI Faizal A Djalil SP.

Awalnya Syamsul Arifin menyampaikan, gagasan pertemuan ini lahir dari keprihatinan terhadap perkembangan suasana kehidupan kemasyarakatan khususnya dalam menghadapi Pilpres dan Pileg pada 17 April mendatang.

UNGKAPAN BERLEBIHAN
Pengungkapan perbedaan pilihan dinilai banyak yang sudah berlebihan, saling ejek, saling menjelekkan bahkan saling fitnah. Suasana seperti ini jelas tidak sehat, bahkan dikhawatirkan dapat mengarah pada timbulnya perpecahan. Selain itu, kondisi di masyarakat juga sudah menunjukkan semakin terkikisnya sikap tenggang rasa, disiplin dan saling menghargai.

"Silaturahmi sudah semakin menipis. Sekarang, kebanyakan kita tak peduli pada orang lain, bertanya sendiri dijawab sendiri sehingga ya salah sendiri," ujar mantan Gubernur Sumut yang juga mantan Ketua KNPI Sumut itu.

Dalam menghadapi Pilpres dan Pileg agar ekspresi perbedaan pilihan dinyatakan secara wajar sesuai hak dan kewajiban, tetapi tidak saling menjelekkan, tidak saling mengejek apalagi saling memfitnah.

"Jadi, menghadapi Pilpres dan Pileg kita sepakat bersatu dalam membangun persatuan dan kesatuan di masyarakat, jangan sampai terpecah-belah. Soal siapa yang akan dipilih, itu terserah masing-masing. Pertemuan silaturrahmi kita ini tidak ada hubungannya dengan Capres-Cawapres segala. Ini semata-mata sebagai upaya memperbaiki kehidupan bermasyarakat, bahkan bukan sekedar selama Pilpres dan Pileg melainkan terus untuk selanjutnya," tegas Syamsul Arifin yang disetujui oleh semua hadirin.

Atas dasar itu, sehari sebelum pertemuan ia mencoba berdiskusi dengan tokoh etnis Batak Toba Sanggam Bakkara dan tokoh etnis Mandailing Rahmat Hasibuan, menyampaikan kegundahan dan gagasan untuk melakukan silaturahmi membicarakan buah pikiran untuk solusi permasalahan tersebut. Keduanya menyatakan mendukung, sehingga "secara kilat" dipersiapkanlah pertemuan ini.

Karena itu, Syamsul Arifin menegaskan harapannya agar pertemuan ini dapat dijadikan titik awal memupuk silaturahmi, meningkatkan komunikasi antar sesama diawali oleh antar para tokoh etnis atau pimpinan organisasi etnis yang bergerak dengan adat dan budaya.

Paparan ini mendapat sambutan positif dari hadirin dan menyampaikan buah pikirannya, diantaranya, Sanggam SH Bakkara, CP Nainggolan, disambung oleh Ustadz Sampurna Silalahi, Tar M Samalanga, Ir Hakim Bako, Janipo Saragih, Drs Atmar Djas, dr Wahidin, Kombes Pol Joko Susilo, Sutan Nasution, H Faridanda Putra Sinik SE serta dari Maluku dan India.

Semua pembicara sependapat dengan realita di masyarakat, seperti yang dipaparkan oleh Syamsul Arifin. Semua juga sependapat perlunya sikap bersama, bila perlu dalam bentuk deklarasi bersatunya semua tokoh etnis, untuk membangun persatuan dan kesatuan yang lebih kuat dan tidak goyah oleh upaya-upaya memecah belah dalam bentuk apa pun.

Inti dari semua masukan dan buah pikiran itu lah, dilahirkan kesepakatan untuk bersatu. Yaitu bersatu tekad tidak akan terpecah-belah, serta mengkomunikasikan ke lingkungan komunitas masing-masing bahwa pemupukan rasa persatuan dan kesatuan adalah hal paling utama.

Tindak lanjut dari kesepakatan ini, dibentuk tim perumus yang akan menyusun buah pikiran dan sikap dari pertemuan ini. Hasil rumusan, setelah matang, mungkin saja disampaikan kepada pihak pemerintah sebagai masukan atau setidaknya menjadi bahan para tokoh etnis dalam mensosialisasikan perlunya peningkatan persatuan dan kesatuan serta disiplin bermasyarakat di lingkungan etnis masing-masing. (Rel/R5/h)
T#gs Tokoh Etnis di SumutJelang Pemilu 2019
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments