Minggu, 20 Sep 2020
  • Home
  • Headlines
  • Rupiah Menguat Luar Biasa, Omnibus Law Salah Satu Pemicunya

Rupiah Menguat Luar Biasa, Omnibus Law Salah Satu Pemicunya

redaksisib Senin, 20 Januari 2020 10:15 WIB
liputan6.com
Ilustrasi
Jakarta (SIB)
Meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China melalui negosiasi dagang fase pertama menjadi katalis positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

Pada tiga pekan pertama tahun ini, mata uang Garuda konsisten menguat berdasarkan data Refinitiv. Bila dilihat sejak awal tahun hingga 18 Januari 2020, rupiah sudah menguat 2,26% ke level Rp 13.630 per US$. Padahal, pada akhir Desember 2019 lalu, rupiah masih ditransaksikan di kisaran Rp 13.880 per dollar AS.

Hanya pada Jumat (18/1) pekan kemarin, rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,04% dari Rp 13.625 per dolar AS.
Meski demikian, penguatan ini mendapat atensi dari Presiden Joko Widodo. Kepala negara menilai, pergerakan kurs yang begitu cepat akan merugikan eksportir.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menjelaskan, rupiah bergerak menguat karena adanya sejumlah katalis positif baik dari eksternal maupun domestik.

Pertama, adanya potensi perbaikan dari harga-harga komoditas di tahun ini. Seperti diketahui, beberapa harga komoditas di tahun 2019 berada di bawah rata-rata seperti minyak sawit mentah (crude palm oil) yang turut menekan kinerja perusahaan industri sawit nasional.

"Ada potensi perbaikan harga-harga komoditas yang artinya perekonomian Indonesia membaik," kata Piter, Jumat (17/1).

Selanjutnya, kata Piter, negosiasi perdagangan fase antara AS dengan China juga menjadi katalis positif bagi rupiah. Kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Selain itu, ada faktor pendorong dari global terkait kondisi likuiditas yang longgar dan sejumlah kebijakan yang diinisiasi pemerintah tahun ini, yakni Omnibus Law.

"Sentimen positif meredanya perang dagang, diiringi harapan ekonomi Indonesia membaik karena rebound-nya harga komoditas plus kebijakan yang on the track," tandasnya. (CNBCI/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments