Rabu, 21 Agu 2019

Rektor: Di USU Ada Dosen yang Radikal

* Dugaan Pelecehan, Mahasiswi Diminta Buat Laporan
admin Rabu, 12 Juni 2019 09:01 WIB
SIB/Dok
ACUNGKAN JEMPOL: Rektor USU Prof Runtung Sitepu bersama Ketua Dewan Guru Besar USU Prof Gontar Siregar, Dr Kerista Sebayang dan Roy Fachraby Ginting SH MKn mengacungkan jempol pada acara halal bi halal, Selasa (11/6).
Medan (SIB) -Rektor USU Prof Dr Runtung Sitepu menyatakan setuju dengan instruksi Menristekdikti agar Rektor menjaga kampus dari radikalisme dan diskriminasi. Sebab dua hal itu tidak sesuai dengan Pancasila. Kampus harus dijaga dan NKRI harga mati. "Kalau ada dosen dan mahasiswa yang radikal tinggal di hutan lah. Dosen itu kan digaji pemerintah," kata Runtung menjawab wartawan di sela-sela acara halal bi halal di rumah dinas rektor Jalan Universitas kampus USU Medan, Selasa (11/6).

Dikatakannya, dulu ada info dari Menkumham dan disampaikan bahwa di USU itu ada yang radikal."Kemudian saya telusuri dan dilakukan pendekatan di fakultas tertentu di USU. Hasilnya menggembirakan, dalam arti ada perubahan, dosen-dosen yang dinilai radikal itu sudah mau datang bila ada upacara di USU dan kita harapkan mereka itu tidak radikal lagi, katanya.

Terhadap dosen USU Himma Dewiyana Lubis yang telah divonis hukuman 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun, kata Rektor akan diberi peringatan agar tidak lagi membuat ujaran kebencian dan semoga memahami bahwa perbuatannya dulu itu keliru dan kini kembali ke kampus.

"Dengan hukuman setahun masa percobaan 2 tahun, diharapkan dosen ini tidak lagi mengulangi perbuatannya. Terhadap dosen boru Lubis ini akan dilakukan pembinaan dan peringatan tertulis. Artinya dalam 2 tahun ini dia tidak boleh melakukan sesuatu tindak pidana, kalau melakukan tindak pidana, segera dihukum setahun," katanya.

Ditanya tentang adanya Peraturan Menristekdiktik (Permenristekdikti) No 5 tahun 2019 tentang program profesi Advokat yang diterbitkan pada Januari 2019 untuk menjadi Advokat harus menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi dengan beban 24 SKS, kata Prof Runtung Sitepu, dia belum ada mendengar untuk melaksanakan peraturan itu.

"Kenapa Menristekdikti mengatur itu, belum saya dengar itu. Cuma, saya kira tujuan dari Menristekdikti itu bagus. Artinya, para profesional itu harus diberi bobot pendidikan di kelas-kelas pendidikan tinggi," katanya.

BUAT LAPORAN
Sementara itu terkait dugaan pelecehan oleh dosen terhadap mahasiswinya, Runtung Sitepu juga mengatakan, supaya mahasiswi tersebut membuat laporan tertulis ke rektor. "Saya tidak akan melindungi dosen bila benar melakukan pelecehan atau perbuatan asusila. Tidak akan saya biarkan, namun si mahasiswi harus buat laporan tertulis ke saya," kata rektor menjawab wartawan.

Namun, katanya, mungkin ada orang merasa lebih penting pemberitaan dari pada penyelesaian. "Kan malu, masalah itu dibaca orang tua si mahasiswi dan orang banyak," kata Runtung.

Secara terpisah, Woman's March Medan konsern menyoroti kasus kekerasan seksual yang menimpa salah seorang mahasiswi USU, diduga pelaku HS dosen Departemen Sosiologi Fisip USU.

"Peristiwa pelecehan seksual itu terjadi pada 3 Februari 2018 terhadap korban berinisial D," ungkap Koordinator Woman's March Medan, Lely Zailani di Medan, Selasa (11/6).

Lely mengatakan, kekerasan seksual terhadap korban digolongkan 'kasus relatif ringan' dan hanya ditanggapi oleh dekan dengan teguran berupa peringatan tertulis, sehingga pelaku masih aktif mengajar sampai saat ini. Bahkan ada indikasi pelaku sedang mengupayakan damai dengan korban dan keluarga korban.

Untuk itu, Women's March Medan mendesak agar Rektor USU segera membentuk tim pencari fakta independen, dan segera menonaktifkan HS, dosen terindikasi pelaku.

Kemudian, mengimbau agar Fisip USU memastikan jaminan keamanan D sebagai survivor, dilindungi kerahasiaan identitasnya dan jaminan tidak ada tekanan dalam menyelesaikan skripsinya.

Menurut Lely, D bukanlah satu-satunya korban, dia hanya puncak gunung es yang terlihat dalam praktek kekerasan seksual dalam relasi kuasa yang timpang ini. Ada korban lain, tetapi mereka memilih untuk diam.

Peristiwa diduga terjadi, ketika korban bersama pelaku satu mobil untuk tujuan melakukan penelitian dan di mobil disebut si mahasiswi merasa dilecehkan. (M01/d)
T#gs Radikal USURektor
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments