Rabu, 13 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • RUU PKS Kriminalisasi Siulan Menggoda, Bagaimana di Eropa?

RUU PKS Kriminalisasi Siulan Menggoda, Bagaimana di Eropa?

admin Selasa, 30 April 2019 09:15 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) menuai pro kontra di masyarakat. RUU PKS itu membuat rumusan pidana baru, dari bersiul, mengedipkan mata, mencolek pantat hingga meredifinisi perkosaan. Bagaimana di Eropa?

Dalam catatan wartawan, Senin (29/4), pelecehan seksual di jalanan, termasuk siulan yang menggoda, sudah termasuk dalam pelanggaran hukum di beberapa negara, antara lain Portugal dan Argentina.

Di Prancis, Menteri Kesetaraan Gender Prancis, Marlene Schiappa menyusun RUU yang diarahkan untuk memberantas kekerasan dan pelecehan seksual pada 2017. RUU yang disusun oleh Marlene Schiappa itu mengancam hukuman denda bagi orang yang melakukan siulan menggoda di tempat umum atau perilaku yang memperlihatkan nafsu di tempat-tempat umum.

Selain itu, seorang pria yang mengikuti seorang perempuan sampai beberapa blok jalan atau yang bertanya 'nomor telepon sampai 17 kali' akan digolongkan sebagai pelecehan seksual.

Dilansir Deutsche Welle (DW) dari pemberitaan 3 Agustus 2018, parlemen Prancis telah mengesahkan undang-undang baru tentang kekerasan seksual. Pemerintah menyatakan ini adalah tanda dari perubahan sosial yang mendasar pada negara Eropa.

Diberitakan New York Times pada 27 September 2018, pengadilan Prancis mendenda seorang pria 300 Euro karena membuat komentar cabul terhadap perempuan yang berada di bus di Paris. Pria itu juga dihukum sembilan bulan penjara, enam bulannya ditangguhkan, karena pria itu melakukan penyerangan terhadap perempuan dan pengemudi bus. Itu adalah kasus pertama setelah Undang-Undang itu disahkan.

Bagaimana di Indonesia? Siulan dan kedipan mata dimasukan dalam delik pelecehan seksual nonfisik. Tindakan nonfisik meliputi hal berikut ini, namun tidak terbatas pada:

a. siulan, kedipan mata;
b. gerakan atau isyarat atau bahasa tubuh yang memperlihatkan atau menyentuh atau mempermainkan alat kelamin;
c. ucapan atau komentar yang bernuansa sensual atau ajakan atau yang mengarah pada ajakan melakukan hubungan seksual;
d. mempertunjukkan materi-materi pornografi; dan
e. memfoto secara diam-diam dan atau mengintip seseorang.

"Bentuk ancaman dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal, secara langsung atau tidak langsung, atau melalui isyarat tertentu," ujar penjelasan RUU PKS.

Lalu bagaimana orang yang melakukan pelecehan seksual nonfisik, seperti siulan atau kedipan mata? Mereka dapat dipidana dengan derajat hukuman tergantung ringan/beratnya perbuatan, yaitu:

1.Setiap orang yang melakukan pelecehan seksual non-fisik yang mengakibatkan seseorang merasa terhina, direndahkan atau dipermalukan dipidana rehabilitasi khusus paling lama 1 bulan.

2.Apabila orang tersebut adalah orang tua/keluarga, penanggungjawab lembaga pendidikan, atasan, tokoh agama, maka hukumannya berupa rehabilitasi 1 bulan ditambah pidana kerja sosial. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments