Selasa, 10 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Putra-Putri Raja Sisingamangaraja XII Layak Diajukan Jadi Pahlawan Nasional

Putra-Putri Raja Sisingamangaraja XII Layak Diajukan Jadi Pahlawan Nasional

redaksi Rabu, 13 November 2019 10:34 WIB
Sib/Horas Pasaribu)

Medan (SIB)
Pakar sejarah dan budaya di Sumut, Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak yang populer dengan sebutan Pak BAS, menegaskan para putra dan putri Raja Sisingamangaraja XII, yaitu Patuan Anggi, Patuan Nagari dan Putri Lopian, layak diajukan dan ditetapkan pemerintah atau negara menjadi pahlawan nasional di masa mendatang.


"Kita semua tahu, dan sejarah mencatat, putra-putri Raja Sisingamangaraja XII , turut menyertai ayahnya Raja Sisingamangaraja XII dalam perjuangan melawan bangsa penjajah atau kolonialis Belanda. Bahkan, putrinya Lopian gugur tertembak sebelum Raja Sisingamangaraja XII akhirnya juga tewas tertembak. Sudah saatnya pemerintah segera menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada putra-putri pahlawan dan pejuang dari Tanah Batak itu. Terlebih untuk Puteri Lopian, dia harus sejajar dengan pahlawan nasional lainnya dari kalangan wanita herois Indonsia yang diingat dan dihargai sepanjang masa, seperti Cut Nyak Dien dari Aceh, RA Kartini dari Jawa, dan lainnya," cetusnya di Medan, Jumat (8/11).


Bungaran mencetuskan hal itu ketika tampil sebagai pembicara pertama pada seminar nasional dengan tema 'Mengenal lebih dekat perjuangan dan kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII di Adventis Convention Hall Jalan Kartini Medan.

Seminar yang diselenggarakan DPP Horas Bangso Batak (HBB) itu dipandu moderator Pdt Dr Riris Johana Siagian MSi dan dihadiri kalangan organisasi masyarakat (Ormas) Batak, komunitas adat dan budaya Batak seperti Parmalim Hutatinggi, pimpinan rumpun atau punguan marga-marga, mahasiswa, LSM, dan lainnya dari kalangan massa Batak.


Bersama pembicara lain di sesi pertama, Dr HJ Magdalena Sari boru Marbun Banjarnahor guru besar sejarah USU, Bungaran menyebutkan ada tiga alasan pentingnya putra-putri Raja Sisingamangaraja XII, yaitu: agar ada perlakuan dan penghargaan sama kepada para wanita pejuang seperti Cut Nyak Dien dan RA Kartini, agar orang Batak juga tahu bahwa dari Bangso Batak ini juga ada pahlawan wanita yaitu putri Lopian, dan agar ada alasan pemerintah untuk merevisi kurikulum menghidup kan kembali mata pelajaran sejarah lokal di setiap daerah, mulai dari tingkat SD hingga sekolah lanjutan.


Dari 10 pembicara yang direncanakan tampil di seminar, hanya tiga yang hadir, yaitu BAS sendiri, Monang Naipospos (pengagum Raja Sisingamangaraja XII dan pucuk pimpinian Komunitas Adat-Budaya Parmalim Hutatinggi), dan Thomson Hutasoit budayawan dan praktisi teater Batak di mancanegara.


Pembicara penggant lainnya adalah Dr Sulaiman Djuned (pegiat sastra Batak dari Aceh), April Marbun mewakili Sahala Panggabean calon produser pembuatan film (layar lebar) Raja Sisingamangaraja XII dalam waktu dekat ini, dan Magdalena Sari Marbun.

Sedangkan Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI Hilmar Farid PHd, hanya menitipkan rekaman tayangan di hadapan peserta seminar.


Pada tayangan singkat itu, Dirjenbud Hilmar Farid menegaskan Raja Sisingamangaraja XII adalah sosok pahlawan dan pejuang yang layak dan harus diteladani, serta menjadi panutan. Sembari bilang mohon maaf karena tak bisa mengikuti seminar, secara khusus dia juga menyatakan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan seminar tentang perjuangan dan kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII.


Seminar berlangsung lancar dan seru, khususnya ketika terjadi paparan atau dialog dari sejumlah pendeta peserta seminar. Seorang pendeta dari satu gereja mempertanyakan klaim atau status 'Raja' bagi Sisingamangaraja XII, alasan penyebutan Malim semacam nabi atau rasul dari kalangan Batak, dan juga sifat kesaktian Raja Sisingamangaraja XII semasa hidupnya.


"Kesaktian Raja Sisingamangaraja XII itu sifatnya 'sakti Ilahi' karena sumber kekuatannya dari Tuhan atau Mulajadi Nabolon, bukan kesaktian klenik yang bisa hilang karena terkena atau menyentuh objek pantangan atau 'subang'. Jadi, sebutan 'tarmudar' atau terkena darah putrinya Putri Lopian yang tertembak ketika itu, bukan dalam arti terkena pantangan, melainkan tarmudar dalam arti terhentak spontan (semacam shock) menyaksikan putri kandungnya yang tewas dalam pelukannya,' papar Monang Naipospos dalam paparannya yang cukup panjang dalam sesi dialog tersebut.


Hadir di acara itu Kepala Balai Arkeologi Sumut Ketut Suardana, mantan anggota DPRD Sumut Samsul Sianturi SH, ketua umum HBB L Sitompul SH, Sekum HBB Luhut Situmorang SH, ketua panitia Captain Tagor Aruan dan Jhon Tulus Sitompul SSos, ketua Muda-mudi dan Remaja Nasional Indonesia-Batak (Mudar Ni Batak) Meriandi Aritonang serta sekretarisnya Lorista H Limbong. (M04/c)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments