Senin, 18 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Puan Maharani: Ada Wacana Pencapresan Mega dan Jokowi

Puan Maharani: Ada Wacana Pencapresan Mega dan Jokowi

* Kalangan PDIP Projo Menolak Keras * Tokoh Muda Seperti Ahok Moncer
Selasa, 11 Februari 2014 10:43 WIB
SIB/Int
Megawati dan Jokowi saat peringatan HUT PDIP di kantor DPP PDI-P Lenteng Agung, Jakarta beberapa waktu lalu
Jakarta (SIB)- Skenario duet Mega-Jokowi di Pilpres 213 kini santer terdengar di internal PDIP. Ketua DPP PDIP Puan Maharini mengakui bahwa wacana tersebut memang sedang berkembang.

"Memang ada wacana yang berkembang. Beberapa nama salah satunya ibu (Megawati), Jokowi, dan lain-lain. Itu muncul untuk maju dalam capres," kata Puan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakpus, Senin (10/2).

Puan menuturkan bahwa meski banyak skenario duet yang berkembang, capres dan cawapres PDIP hanya bisa ditentukan oleh Megawati selaku Ketua Umum. Namun ia mengaku tetap membuka telinga lebar-lebar akan masukan dari semua kader.

"Itu semua sudah jadi dinamika yang kami pertimbangkan. Suara-suara bukan kami matikan tapi akan kami jadikan pertimbangan," ujar Puan yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PDIP ini.

Menurut Puan, saat ini partainya akan fokus terlebih dahulu untuk memenangkan pileg. Baru setelah itu, pasangan capres dan cawapres akan diputuskan.
"Kami dalam posisi konsolidasi memenangkan pileg. Kalau tidak melebihi 20% kan mana mungkin PDIP bisa memajukan capres dan cawapres sendiri," pungkasnya.

Projo Tolak Duet Mega-Jokowi
Kalangan PDIP Pro Jokowi menolak keras skenario duet Mega-Jokowi dalam Pilpres 2014 karena dianggap akan menjadi lembaran yang memilukan bagi PDIP.

Ketua DPP PDIP Puan Maharani meminta semua pihak untuk menghormati keputusan Rakernas yaitu keputusan capres dan cawapres di tangan Ketum.

"Apapun yang disuarakan sudah punya kalkulasi tertentu. Tapi tidak demikian berarti bisa mendahului atau tidak memperhatikan aturan internal partai," kata Puan.

Puan menuturkan bahwa kesepakatan tentang penentuan capres dan cawapres PDIP ada di tangan Megawati sudah dilakukan saat Rakernas. Karena skalanya nasional, semua pihak berarti sudah setuju dan harus mau menjalankan keputusan tersebut. Bagaimana dengan kalangan PDIP Projo yang merasa digantung tanpa kejelasan terkait pencapresan Jokowi?

"Kenapa tidak ditanya ke Pak Jokowi. Kan katanya pendukung Jokowi," ujar Puan.

Kalangan PDIP Pro Jokowi mendesak agar skenario Mega-Jokowi dilupakan. Menurut mereka, PDIP akan jatuh ke jurang kekalahan bila wacana itu terwujud.

"Jangan benturkan Bu Mega dengan rakyat, lupakan skenario Mega-Jokowi," kata Koordinator Nasional PDI Perjuangan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi, dalam siaran pers.

Menurut Budi yang juga mantan pengurus PDIP DKI Jakarta ini duet Mega-Jokowi berbahaya karena bisa menambah rentetan kelam kekalahan PDIP di Pilpres.

"Jangan benturkan Ibu Mega dengan rakyat melalui berbagai skenario, manuver dan spekulasi. Sebab bila skenario ini dipaksakan akan menjadi lembaran sejarah hitam, kelam dan memilukan," katanya.

Ini Tanggapan Sekjen PDIP
Soal penduetan Mega-Jokowi, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo pun angkat bicara. "Dorongan itu (Mega-Jokowi) memang benar. Dorongan pun ada macam-macam. Semua ditampung," ujar Tjahjo.

PDIP Pro-Jokowi sangat keras menentang skenario duet ini. Namun Tjahjo enggan berkomentar soal ini. "Bukan kapasitas saya mengomentari soal itu juga soal skenario Mega-Jokowi. Saya kan Sekjennya Ibu (Mega). Saya taat saja sama keputusan Ibu," imbuh Tjahjo.

Tjahjo menegaskan bahwa keputusan pencapresan nantinya akan ditentukan oleh Megawati. Tjahjo berpendapat bahwa sebaiknya semua kader PDIP bersabar menunggu hasil pileg.

Ahok Akan Moncer
Sementara itu, Guru Besar UI menilai tokoh muda akan bermunculan jika Mega menggandeng Jokowi. "Kalau sampai duet itu diusung maka tokoh muda lain akan bermunculan. Misalnya Ahok, Risma, atau Anies Baswedan," kata Guru Besar Psikologi Politik UI Prof Hamdi Muluk.

Tokoh-tokoh muda itu nantinya bakal diusung partai lain di Pilpres. Memanfaatkan kekeceewaan masyarakat terhadap duet Mega-Jokowi.

"Suasana kebatinan masyarakat itu tidak mau lagi dengan tokoh-tokoh tua, sekarang semua orang bicara tokoh muda. Masyarakat tentu kecewa tokoh muda tidak diberi ruang oleh Mega," kata Hamdi.

"Kalau ada partai pinter nanti ambil Risma atau Ahok, bisa juga Anies Baswedan. Bisa jadi dapat porsi besar karena mempopulerkan orang muda dan bersih itu lebih mudah dibandingkan orang tua yang banyak dosanya," kata Hamdi.

Jadi kalau duet Mega-Jokowi tetap diusung maka masyarakat akan memilih capres lainnya. "Kalau Mega memaksakan itu tidak populer, walaupun wakilnya Jokowi. Masyarakat kecewa tokoh muda tidak diberi ruang, harusnya Mega negarawan lah memberi ruang ke tokoh muda," pungkasnya. (detikcom/d)

T#gs Jokowi
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments