Kamis, 06 Agu 2020

Presiden Jokowi Jengkel

* Minta Pandemi Covid-19 Ditangani Serius
redaksisib Senin, 29 Juni 2020 09:23 WIB

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan perasaan jengkelnya soal kinerja dan kebijakan yang masih biasa-biasa saja di tengah pandemi Corona. Jokowi menekankan dalam situasi saat ini harus ada kerja yang extra ordinary.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Kamis (18/6) lalu. Video saat Jokowi menyampaikan arahan itu baru diunggah di akun Sekretariat Presiden, Minggu (28/6).

Awalnya, Jokowi menyinggung data Bank Dunia yang kemungkinan minus 5 persen. Pada saat itu, Jokowi menekankan agar situasi sekarang tidak dianggap normal.

"Bank Dunia menyampaikan bisa minus 5 persen. Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal," ujar Jokowi.

"Lha kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extra ordinary," tambah dia.

Jokowi meminta untuk menyamakan perasaan terkait kondisi sekarang. Jokowi ingin para menteri di kabinetnya agar tidak ada perbedaan.

"Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya. Jadi, tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, kebijakan-kebijakan kita, suasananya harus suasana krisis. Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja menganggap ini sebuah kenormalan. Apa-apaan ini?" katanya.

Jokowi menekankan lagi untuk tidak menerapkan kebijakan yang standar pada suasana krisis. Manajamen dalam situasi krisis, lanjut Jokowi, seharusnya sudah berbeda.

"Kalau perlu kebijakan perppu, ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu perpres, ya perpres saya keluarkan. Kalau sudah ada peraturan menteri keuangan, keluarkan. Untuk menangani negara tanggung jawab kita kepada 267 juta rakyat kita. Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa nggak punya perasaan? Suasana krisis," ujarnya lagi.
Jokowi juga meminta para menteri mengeluarkan kebijakan yang ekstra-luar biasa.

Namun Jokowi mengaku masih melihat banyak pejabat yang melihat situasi ini sebagai situasi normal. Padahal, kata dia, kerja pemerintah harus ekstra-luar biasa.

Ancam Bubarkan Kabinet
Tak tanggung-tanggung pada kesempatan itu, Jokowi juga mengancam akan membubarkan lembaga dan perombakan kabinet apabila tidak ada program yang signifikan dalam menangani pandemi virus corona (Covid-19).

"Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat Perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak, bapak ibu tidak merasakan itu sudah," katanya.

Jokowi lagi-lagi menegaskan bahwa langkah yang ekstra harus dilakukan. Sambil mengangkat tangan Jokowi meminta jajarannya untuk memahami dan mengerjakan instruksi yang dia sampaikan.

"Artinya tindakan-artinya yang extraordinary keras akan saya lakukan. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan. Saya betul-betul minta pada bapak ibu dan saudara sekalian mengerti memahami apa tadi saya sampaikan," ungkapnya.

Selain itu, Jokowi meminta kerja keras dan kerja cepat sangat diperlukan. Dia juga menegaskan bahwa hukum perlu disiapkan dalam melakukan manajemen krisis.

"Kerja keras, dalam suasana seperti ini sangat diperlukan. Kecepatan dalam suasana seperti ini sangat diperlukan. Tindakan-tindakan di luar standar saat ini sangat diperlukan dan manajemen krisis. Sekali lagi kalau payung hukum masih diperlukan saya akan siapkan. Saya rasa itu," jelasnya.

Pertaruhkan Reputasi Politik!
Jokowi meminta jajarannya serius dalam menangani dampak Covid-19, termasuk di bidang ekonomi. Jokowi, dengan nada meninggi, menyatakan siap melakukan hal yang diperlukan demi negara ini.

"Di bidang ekonomi juga sama. Segera stimulus ekonomi bisa masuk ke usaha kecil, usaha mikro Mereka nunggu semuanya. Jangan biarkan mereka mati dulu baru kita bantu, nggak ada artinya," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, usaha mikro, usaha kecil, menengah, usaha besar, perbankan, dan segala yang terkait ekonomi harus diprioritaskan agar tak ada PHK. Jokowi menegaskan langkah yang diambil harus signifikan.

"Hanya gara-gara urusan peraturan, urusan peraturan. Ini extra-ordinary. Saya harus ngomong apa adanya. Nggak ada progres yang signifikan. Nggak ada," kata Jokowi.

Jokowi pun siap mengeluarkan perppu yang terkait. Dia siap mempertaruhkan reputasi politiknya.

"Kalau mau minta Perppu lagi saya buatin perppu. Kalau yang sudah ada belum cukup. Asal untuk rakyat, asal untuk negara. Saya pertaruhkan reputasi politik saya," tegas Jokowi.

"Sekali lagi tolong ini betul-betul dirasakan kita semuanya, jangan sampai ada hal yang justru mengganggu," tegas Jokowi.

Bertambah
Sementara itu, secara terpisah dilaporkan, jumlah penderita Covid-19 di Sumatera Utara (Sumut) sudah mencapai 1.467 orang. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut dr Aris Yudhariansyah MM menyampaikan hal itu, Minggu (28/6) berdasarkan rangkuman yang telah dilakukan terhadap jumlah penderita positif melalui hasil pemeriksaan swab Polymerase Chain Reaction (PCR).

Dibandingkan data sebelumnya, jumlah ini mengalami peningkatan 20 kasus. "Pasien positif hari ini kembali naik dari 1.447 menjadi 1.467 orang," kata Aris Yudhariansyah kepada wartawan.

Aris Yudhariansyah menjelaskan, pasien sembuh juga kembali bertambah 10 orang, sehingga totalnya sudah menjadi 383 orang.
Begitu juga Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mengalami peningkatan satu kasus menjadi 203 orang. Untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) mengalami penurunan lima orang menjadi 1.102 orang.

"Sedangkan untuk pasien meninggal tidak ada, yakni akumulasinya masih berjumlah 92 orang," sebut Aris Yudhariansyah.
Aris juga menyampaikan, Kota Medan masih menjadi wilayah kasus positif terbanyak, yakni 960 kasus. Namun begitu angka kesembuhannya juga masih tertinggi, yakni sebanyak 242 orang.

Selanjutnya Kabupaten Deliserdang yang angka positifnya sebanyak 188 kasus. Sementara untuk angka kesembuhannya, mencapai sebanyak 61 orang.

"Untuk wilayah yang kasus positifnya masih nihil ada di lima Kabupaten/Kota, masing-masing Kabupaten Nias, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Nias Utara dan juga Nias Barat," pungkasnya.

Aris mengatakan, dengan masih bertambahnya pasien Covid-19, gugus tugas mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. "Menjadi perhatian kita bersama bahwa protokol kesehatan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dan sesuatu yang harus dipatuhi secara bersama-sama. Karena inilah yang kemudian bisa kita gunakan untuk mengendalikan sebaran Covid-19 ini diSumut," ucapnya. (detikcom/M11/M17/d)
T#gs COVID-19covid 19Ditangani SeriusJengkelPresiden JokowiheadlineJakarta
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments