Kamis, 06 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • Prabowo Sebut 'Ndasmu' ke Pemerintah, PSI: Makin Nekat Bodohi Rakyat

Prabowo Sebut 'Ndasmu' ke Pemerintah, PSI: Makin Nekat Bodohi Rakyat

admin Minggu, 31 Maret 2019 12:20 WIB
SIB/INT
Ilustrasi

Jakarta (SIB)- PSI mengkritik pernyataan Prabowo Subianto yang terkesan merendahkan capaian pertumbuhan ekonomi RI. PSI menyebut Prabowo membodohi rakyat. "Ajakan Pak Prabowo untuk tidak mempercayai bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sebesar lima persen adalah sebuah pembodohan kepada rakyat," kata juru bicara PSI Dedek Prayudi kepada wartawan, Sabtu (30/3). Dedek yakin Prabowo tahubetul soal data pertumbuhan ekonomi RI.

Merujuk kepada catatan sejumlah lembaga nasional dan internasional, Dedek menyebut pertumbuhan ekonomi RI hingga 2018 sebesar 5,17 persen. "Kami meyakini bahwa Pak Prabowo tahu bahwa data nasional dan internasional dari lembaga-lembaga kredibel mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi kita meningkat terus dari tahun ke tahun dan 2018 lalu tercatat sebesar 5,17 persen.

Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi dunia, yakni 3,7 persen," ujarnya. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah termasuk yang tertinggi di kawasan ASEAN. Bahkan, Indonesia adalah satusatunya negara dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat di kawasan ASEAN," imbuh Dedek. Dia kemudian menyinggung sejumlah pernyataan Prabowo yang dinilai mengandung kebohongan. Dedek mencontohkan soal selang cuci darah RSCM yang disebut Prabowo dipakai berulang kali.

Pernyataan Prabowo itu telah dibantah RSCM. "Kami mencatat bahwa Pak Prabowo setidaknya sudah melakukan delapan kebohongan besar pada tahun 2018 lalu, dan beberapa kebohongan lainnya pada 2019, termasuk soal selang RSCM yang dipakai berulang kali," sebut Dedek.

Dedek juga menyinggung ucapan Prabowo yang kerap mengatakan utang pemerintah meningkat dan harga kebutuhan pokok melambung tinggi. "Bahwa harga naik, ini juga sangat terkendali. Saya yakin Pak Prabowo paham bahwa harga tidak mungkin tetap apalagi turun ditengah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pasti menyebabkan inflasi. Justru cuma di era Pak Jokowi inflasi rendah, stabil, dan terkendali, yakni tiga persen," ujar Dedek.

Ia pun mengatakan saat ini masyarakat hingga ke pelosok desa sudah punya akses yang lebih luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Dedek mencontohkan akses pendidikan dan internet. "Sekarang warga desa yang dulunya miskin sudah punya handphone, motor dan akses kepada internet. Ini bukan hanya soal kemampuan ekonomi, tapi juga program kesehatan yang semakin terjangkau, pendidikan gratis dan pemerintahan yang efektif," tegas dia.

Sebelumnya, Prabowo mengaku heran terhadap elite yang selalu mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus. Padahal, kata Prabowo, rakyat tak merasakan adanya pertumbuhan ekonomi. "Elite sana bilang ekonomi bagus. Pertumbuhan bagus. Jadi kalau mereka ngomong harus pakai logat asing gitu loh. Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5 persen.

Lima persen ndasmu!" kata Prabowo saat kampanye di area Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/3). GUYONAN POLITIK Sementara itu, Prabowo Subianto menyebut akan ada kecurangan untuk menggagalkan kemenangannya pada Pilpres 2019. KPU menganggap itu sebagai guyonan politik. "KPU dalam bekerja di Pemilu 2014 itu terukur, jadi akuntabel," ujar komisioner KPU Wahyu Setiawan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3).

"Sehingga menurut saya, mungkin yang dimaksudkan humor politik, ya," sambungnya. Wahyu mengatakan proses penetapan capres dilakukan hingga melalui Mahkamah Konstitusi.

Selain itu, dia menyebut KPU mengumumkan secara resmi hasil penetapan. "Terukur dan prosesnya juga sampai ke Mahkamah Konstitusi, mengambil keputusan juga melegitimasi hasil pemilu yang secara resmi diumumkan oleh KPU," ujar Wahyu. Prabowo sebelumnya menyebut ada pihak yang mengatakan dirinya akan memenangi Pilpres 2019, tapi yang dilantik adalah orang lain.

Menanggapi hal itu, Wahyu mengatakan dirinya sulit menafsirkan perkataan yang dimaksud Prabowo. "Saya sulit menafsirkan pernyataan Pak Prabowo, apakah itu pertanyaan humor politik ataukah pesan-pesan tertentu, saya tidak bisa menafsirkan itu," kata Wahyu.

Sebelumnya, Prabowo mengaku ada pihak yang mengatakan dirinya akan memenangi pilpres. Namun nantinya akan ada kecurangan untuk menggagalkan kemenangan itu. "Ada yang mengatakan kepada saya, 'Pak Prabowo yang menang, ini sudah dibicarakan, yang menang nanti Prabowo. Tapi ada rencana yang dilantik jadi presiden orang lain,'" kata Prabowo saat berkampanye di Lapangan Galuh Mas, Karawang, Jawa Barat, Jumat (29/ 3).

CEGAH GESEKAN Di bagian lain, KPU meminta masing-masing pendukung capres/cawapres tidak saling mencela. "Boleh saja kita punya hubungan politik pada kandidat tertentu, silakan memuji kandidat masing-masing, tetapi jangan mencela kandidat lain. Sebab, kalau sudah mencela kandidat lain, itulah benih-benih masalah," ujarnya.

Wahyu menyebut saling cela dapat menimbulkan konflik. Dia mengatakan para pendukung tiap capres-cawapres harus saling menghormati agar partisipasi politik warga makin besar. "Kandidat lain kan juga punya pendukung, nanti akhirnya menimbulkan konflik di tengah masyarakat," ujar Wahyu.

"Ya KPU mengingatkan bahwa dalam Pemilu 2019, tentu saja KPU berharap partisipasi politik warga seluas mungkin. Tetapi partisipasi politik warga itu kan juga harus saling menghormati, saling menghargai," sambungnya. Selain itu, Wahyu meminta elite parpol memberikan pesan damai kepada para pendukung masing-masing.

Menurutnya, pesan damai yang disampaikan secara terus-menerus dapat mempengaruhi sikap pendukung. "Kemudian para elite politik juga mohon untuk membawa pesan-pesan damai, kepada masyarakat. Sebab, pesan damai yang disampaikan kepada masyarakat itu secara konstruktif akan mempengaruhi semua pendukung.

Jadi kita harap tokoh-tokoh nasional memberikan pesan damai," tuturnya. Sebelumnya, sempat viral di media sosial yang memperlihatkan emak-emak pendukung Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo- Sandiaga terlibat adu mulut, bahkan saling dorong. Dalam video tersebut tampak ada dua orang ibu-ibu berpakaian serbaputih yang merupakan pendukung Prabowo.

Mereka bertemu dengan sejumlah orang yang merupakan pendukung Jokowi, yang juga berbaju putih. Menurut keterangan video, keributan itu terjadi di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. (detikcom/l/d)

T#gs PSI: Makin Nekat Bodohi Rakyat
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments