Selasa, 22 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Polri: 60 Orang Jadi Tersangka Karhutla, 1 dari Korporasi

Polri: 60 Orang Jadi Tersangka Karhutla, 1 dari Korporasi

* Gubernur Kalteng Duga Kebakaran Hutan Dilakukan Terorganisir dan Masif * Kabut Asap 'Serang' Rantauprapat, Langit Seperti Mendung, Anak-anak Batuk
admin Kamis, 15 Agustus 2019 11:04 WIB
SIB/Ant/Nathan
PEMADAMAN KARHUTLA: Asap membumbung tinggi dari lahan yang terbakar di Muara Medak, Bayung Lincir, Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Rabu (14/8). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mengoperasionalkan tiga helikopter untuk memadamkan kebakaran tersebut.
Jakarta (SIB) -Polri menyebut titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan mulai berkurang. Meski begitu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan tetap dilakukan dengan ditetapkannya 60 tersangka.

"Sampai hari ini alhamdulillah untuk titik panas, hotspot di tiap-tiap polda sudah mengalami penurunan. Artinya, setiap langkah-langkah secara sistematis sudah dilakukan oleh polda-polda, bekerja sama dengan TNI, kemudian badan penanggulangan bencana dan pemda setempat, stakeholder terkait pemadaman api," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Grand Kemang, Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Rabu (14/8).

Dedi mengatakan hingga kini ada 60 tersangka dari 68 kasus. Satu korporasi juga sudah dijadikan tersangka.

"Penegakan hukum terus sampai hari ini. Ada 68 kasus, 60 tersangka, 1 korporasi yang ditangani Polda Riau, yang lain masih proses," ungkapnya.

Selain itu, Kapolri sudah membentuk tim pemantau penanganan karhutla. Tim tersebut mulai bekerja dan akan mengevaluasi penanganan karhutla di Sumatera dan Kalimantan.

"Pak Kapolri sudah menerbitkan surat perintah, sudah ada 6 tim yang ditunjuk untuk melakukan asistensi, kepada Polda Riau, Sumsel, Jambi, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Tim ini hari ini sudah bergerak semuanya untuk mengecek dan evaluasi sejauh mana penanganan karhutla di tiap-tiap provinsi," ucap Dedi.

Satgas Karhutla juga tetap mengantisipasi kembali meningkatnya titik panas yang memicu kebakaran. Hal itu mengingat faktor iklim dan musim kemarau yang masih berlangsung.

"Ini kan karena musim kemarau Elnino, Elnino ini kan kering dan panjang. Dikhawatirkan September sampai Oktober menjadi puncak dari musim kemarau Elnino. Itu terus kita antisipasi di bulan-bulan yang punya tingkat kekeringan yang sangat tinggi, itu sangat diantisipasi," pungkasnya.

Terorganisir dan Masif
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran menegaskan pihaknya meminta aparat penegak hukum menindak tegas para pelaku pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja. Sebab, diduga kebakaran itu disengaja dan masif.
"Harus dituntaskan, siapa pelaku di balik ini, harus ditangkap. Saya sudah laporkan kepada pemerintah pusat untuk dikawal. Kejadian ini diduga terorganisasi, disengaja, dan masif," katanya di Palangka Raya.

Sabran selaku Gubernur Kalteng ingin kasus-kasus pembakaran lahan dituntaskan hingga diberikan hukuman sebagai efek jera. Menurutnya, ada indikasi mirip seperti kasus pembakaran sekolah yang pernah terjadi, saat ini Palangka Raya dikelilingi oleh api.

Semestinya titik api tidak akan seperti sekarang jika semua pihak memiliki kesadaran yang tinggi bahwa dampak asap merugikan masyarakat di Kalteng dan Indonesia. Kondisi seperti ini tentu dinilai negatif oleh dunia internasional.

"Okelah kalau tidak ada yang senang dengan wali kota maupun gubernur, tapi jangan sampai korbankan masyarakat dengan kondisi seperti ini," jelasnya kepada para awak media.

Sugianto memaparkan, pada Selasa (13/8) sore, Wali Kota Palangka Raya melapor kepada dirinya bahwa Satuan Polisi Pamong Praja setempat berhasil mengamankan terduga pelaku pembakaran lahan dengan cara disengaja.

Ada beberapa orang yang diduga membakar lahan, tapi hanya satu yang bisa ditangkap. Terduga pelaku itu sudah menyebutkan nama bosnya. Untuk itu, pihaknya ingin kasus ini ataupun kejadian lain bisa dibongkar dan diselesaikan.

"Siapa pun pelakunya harus ditangkap dan dituntaskan. Jangan sampai terduga disebut gila, kalau sedikit-sedikit pelaku seperti itu gila, tentu akan sulit," paparnya.

Lebih lanjut ia mengimbau sekaligus meminta masyarakat tidak membakar lahan, terlebih kondisi saat ini musim kemarau kering. Sebab, dampak asap yang ditimbulkan sangat merugikan dalam berbagai sektor.

Pihaknya juga meminta seluruh lapisan masyarakat lebih peduli dan membantu pemerintah daerah dan aparat menjaga lingkungan sekitar. Agar kebakaran lahan bisa diminimalkan dan jika ada pelaku lain bisa segera ditangkap.

Kabut Asap 'Serang' Rantauprapat
Di tempat terpisah kabut asap 'menyerang' Rantauprapat dan seluruh wilayah Kabupaten Labuhanbatu, Rabu. Sehari penuh matahari tidak terlihat. Langit Rantauprapat seperti mendung, dan tidak hujan. Anak-anak juga sudah mulai batuk-batuk.

"Jelas terlihat kasat mata mulai pagi hingga malam. Kabut asap ini sangat meresahkan masyarakat. Kita khawatir kabut asap ini menimbulkan berbagai macam penyakit, apalagi anak-anak sudah mulai batuk-batuk," sebut Lina, warga Rantauprapat.

Menurutnya, sudah 2 minggu kabut asap menggeluyut langit Rantauprapat. Sudah ada juga anak-anak yang sesak nafas.

Sejumlah penyakit berbahaya akibat terpapar kabut asap, seperti asma, penyakit paru, jantung, iritasi pada mata, hidung, serta menyebabkan sakit kepala dan alergi, serta infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). ISPA selama ini banyak menjangkit anak-anak dan kaum manula.

"Karena kan anak-anak yang sekolah setiap hari diantar dan dijemput pakai sepedamotor pula. Jelaslah terpapar kabut asap. Makanya, serba salah ini. Nggak mungkin anak-anak tak sekolah," sebut Ika, warga Rantau Utara.

Kabut asap ini diduga kiriman dari Provinsi Riau yang dibawa angin. Selain itu, di daerah Panai Tengah juga ada kebakaran hutan lindung.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang dan Kapolsek Panai Tengah AKP Rudi Hartono Lapian dan tim Manggala Agni turun ke lokasi untuk memadamkan api tersebut.

Kapolres menyebut kebakaran pada titik kordinat N.2.52088-E.100.26033 di Desa Telagasuka Kecamatan Panai Tengah, seluas 0,5 hektar.

Kata Kapolsek, mereka berhasil memadamkan api yang membakar hutan tersebut menggunakan mesin mark dan mesin robin PT HPP. (detikcom/BR6/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments