Rabu, 11 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Polisi akan Cocokkan DNA Pasutri WNI Bomber Gereja Filipina

Polisi akan Cocokkan DNA Pasutri WNI Bomber Gereja Filipina

admin Kamis, 25 Juli 2019 09:35 WIB
polisi
Jakarta (SIB) -Polisi mengatakan Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, pasutri yang diduga menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina, merupakan WNI warga Sulawesi Selatan (Sulsel). Densus 88 Antiteror saat ini sedang berupaya mengambil DNA keluarga kedua pelaku untuk dicocokkan dengan DNA dari jasad pelaku yang disimpan oleh pihak Kepolisian Filipina.

"Warga Sulawesi Selatan. Dari sisi scientific, Densus 88 sudah bekerja sama dengan Kepolisian Filipina. Dari data tes DNA beberapa potongan tubuh yang didapat di TKP, nanti akan dicocokkan dengan pihak keluarga yang ada di Sulawesi," jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/7).

Dedi menyampaikan pasutri ini telah mengikuti program doktrinisasi atau cuci otak yang dilakukan oleh terduga teroris asal Makassar yang saat ini berada di Filipina Selatan, Andi Baso. Pasutri tersebut juga telah menyatakan kesanggupan melakukan bom bunuh diri.
"Sebelumnya, rekam jejak yang bersangkutan juga mengikuti doktrinisasi, brain wash, penanaman nilai-nilai dari paham radikal ekstrem tersebut. Dan ada juga kesanggupan yang bersangkutan untuk menjadi pengantin suicide bomber," ujar Dedi.

Dedi menerangkan, setelah berhasil merekrut pasutri ini, Andi Baso mengabari Saefulah, terduga teroris yang menjadi penampung dana dari jaringan teroris luar negeri. Saefulah kemudian memberikan dukungan dana untuk keberangkatan pasutri itu ke Filipina.

"Pola perekrutannya yang dilakukan oleh Andi Baso ini dan Andi Baso juga menginformasikan ke mastermind-nya, Saefulah. Setelah pasutri siap, maka ada komunikasi dengan jaringan yang ada di Filipina. Setelah jaringan Filipina melakukan pemetaan, baru mereka dipersiapkan untuk jadi pengantin suicide bomber," ungkap Dedi.

Rullie dan Ulfah meninggalkan Tanah Air sejak Desember 2018. Dengan dibantu Andi Baso, pasutri ini masuk ke Filipina secara ilegal. Pasutri ini merupakan deportan dari Turki pada Januari 2017.

Menlu Koordinasi ke Kapolri
Sementara itu, Menlu Retno LP Marsudi berkoordinasi dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk memastikan identitas pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina. Retno ingin proses identifikasi pelaku bom bunuh diri tidak keliru.

"Kan begini, untuk kemudian menyampaikan bahwa it is confirm itu kan harus melalui proses agar tidak salah. Itu adalah pekerjaan dari polisi dan saya terus kontak dengan Pak Kapolri," kata Retno saat ditemui wartawan di Gedung Pancasila, Kompleks Kemlu, Jalan Pejambon Raya, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (24/7).

Retno mengatakan pihaknya sedang melakukan rekonfirmasi untuk memastikan identitas pelaku bom bunuh diri. DNA pasutri bomber gereja di Filipina itu akan dicocokkan dengan DNA yang lain.

"Berita itu adalah dugaan, masih belum confirm. Sekarang proses rekonfirmasi sedang dilakukan dengan penelitian-penelitian yang terkait lagi dengan DNA, DNA orang yang dicurigai adalah pelaku. Oleh karena itu, sekarang sedang dilakukan proses. Satu lagi proses untuk merekonfirmasi dengan penelitian DNA pembanding dan lain sebagainya," ujar Retno.

Sumbar Tetap Aman
Terkait rilis Mabes Polri tentang adanya teroris bernama Novendri ditangkap Densus 88 Anti Teror di Padang Sumatera Barat beberapa hari lalu di sebut-sebut akan meledakkan bom di 8 markas polisi wilayah Sumatera Barat.

Kapolda Sumbar, Irjen Fakhrizal mengaku kaget dan menepis anggapan bahwa Sumbar tak aman. Dia memastikan wilayahnya tetap kondusif.

"Saya juga putra daerah Sumbar, dan saya yakin tidak mungkin orang Sumbar mengebom daerahnya sendiri. Kita lihat semua, Sumbar sampai sekarang kan kondusif pasca Pileg, Pilpres ini. Sangat tenang masyarakat, kondusif tidak terjadi apa-apa. Jadi saya juga mengimbau kepada masyarakat terkait pemberitaan ini (teroris) tidak usah resah. Kapolda menjamin situasi Sumbar aman," ujar Kapolda, Rabu (23/7).

Fakhrizal menjamin kondisi Sumbar yang kondusif tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak mungkin orang asli Sumbar melakukan aksi peledakan bom di daerahnya sendiri.

Menurut Fakhrizal, dari laporan anggotanya tidak ditemukan bom dan senjata api dari penangkapan terduga teroris Novendri.
"Saya juga kaget dengan berita itu. Karena setelah penangkapan itu, saya juga langsung menanyakan ke Dirintel dan Dirkrimum, gimana proses penangkapannya," tuturnya. (detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments