Jumat, 24 Jan 2020

Polda Sumut Geledah Rumah Mewah di Cemara Asri

* Pengusaha Terkenal Tansri Chandra Diadili di PN Medan
redaksi Kamis, 09 Januari 2020 10:21 WIB
sumutpos.co
Ilustrasi
Medan (SIB)
Penyidik Subdit II/Harda-Bangtah Direktorat (Dit) Reskrimum Polda Sumut menggeledah sebuah rumah mewah di Kompleks Cemara Asri milik Tony Harsono, Selasa (7/1). Penggeledahan dilakukan untuk mencari barang bukti terkait kasus dugaan keterangan palsu yang dilaporkan Kuasa Hukum Tansri Chandra ke Polda Sumut bulan Juli 2019 lalu. Namun, barang bukti akta notaris yang dicari petugas tidak ditemukan dari rumah mewah berlantai 5 tersebut. Selanjutnya, petugas akan kembali melakukan pencarian barang bukti tersebut.

"Kosong barang buktinya. Selanjutnya akan kita cari sampai dapat," tegas Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian, Rabu (8/1) malam melalui pesan WhatsApp nya.
Penggeledahan dilakukan setelah memeroleh surat izin sita dari pengadilan. "Surat izin sitanya sudah keluar dari pengadilan," pungkasnya.

Pantauan di lapangan, sejumlah petugas memasuki rumah mewah tersebut, hingga pukul 17.30 WIB, petugas belum meninggalkan rumah itu.
Sementara itu, Taufik Siregar selaku Kuasa Hukum Tansri Chandra mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kasus itu ke Polda Sumut sejak pertengahan tahun 2019 dengan terlapor Tony Harsono dan kawan-kawan.
"Kita sudah laporkan ke Polda Sumut sekitar bulan Juli. Laporan pengaduan yang dibuat terkait dugaan keterangan palsu pada suatu akta (surat perjanjian) bersama," ujarnya ketika dihubungi via telepon seluler.

Dijelaskan, dalam surat pernyataan bersama tersebut terlapor menyatakan, ada terima uang pinjaman dari Tansri Chandra miliaran rupiah. Namun, ketika ditagih ternyata terlapor berkilah uang yang diterima dari Tansri Chandra itu adalah uang yang dipinjamkan kepada yayasan.

"Keterangan terlapor tidak benar yang menyatakan uang yang diterima dari klien kami itu adalah yang dipinjamkan dari yayasan. Sebab, yayasan tidak pernah mengeluarkan uang kepada mereka," tegasnya.

Dengan kata lain, sambung Taufik, terlapor mengelak untuk membayar uang yang diterima dengan dalih uang tersebut adalah uang mereka yang dulu dipinjamkan kepada yayasan.

"Dalih mereka sama sekali tidak ada kaitan. Artinya, mereka mencari-cari alasan untuk tidak membayar pinjaman. Jadi, keterangan mereka itulah di dalam suatu surat perjanjian bersama yang dilaporkan ke Polda Sumut," terang dia.

Dia menyebutkan, keterangan palsu di dalam surat perjanjian bersama itu jelas sangat merugikan Tansri Chandra. Bahkan, surat pernyataan tersebut dijadikannya bukti di Pengadilan Negeri (PN) Medan untuk mengelak membayar dari pinjaman tersebut.
"Kita berharap penyidik Polda Sumut yang menangani kasus ini dapat bertindak profesional, karena negara kita negara hukum. Artinya, tidak ada yang kebal hukum dan tak pandang bulu," ungkap Taufik.

Dia menambahkan, diharapkan juga kasus ini bisa terungkap jelas dan diproses sesuai hukum yang berlaku. "Semoga kasus ini bisa cepat selesai dan ditetapkan siapa tersangkanya," pungkas Taufik.

Diadili
Sementara itu, seorang pengusaha terkenal asal Medan Tansri Chandra alias Tan Ben Chong (73), penduduk Jalan Gandhi, Kelurahan Sei Rengas I, Kecamatan Medan Kota Medan mulai diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (8/1) sore. Dia diadili akibat memposting sebuah unsur penghinaan di Grup WhatsApp (WA) Yayasan Sosial Lautan Mulia.

Postingannya, "INGAT G6. MERAMPOK UANG IT&B JUMLAH RP 2.400.000.000" dinilai mengandung unsur penghinaan sekaligus mengantarkannya ke 'kursi pesakitan' di Ruang Cakra 6 PN Medan.

Tan Ben Chong dijerat pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Jaksa penuntut umum (JPU) Edmond N Purba dalam dakwaannya menguraikan, secara bertahap tertanggal 16 Maret 2019, 21 Maret 2019, 16 April 2019 dan tanggal 22 April 2019 di Jalan Kolonel Yos Sudarso, Lingkungan 14, Glugur Kota, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan membuat posting berupa tulisan/gambar.

Antara lain berisikan, Tony Harsono, wataknya prima, IQ tinggi, alias aseng tukang bakar, kalau pake di jalan jadi professor, merampok uang IT&B Rp 300.000.000, kalau dilihat tampangnya seperti SUHU, dia tahu kalau uang ini Rp300.000.000 uang haram, jadi takut dihukum, maka diutus sekretaris nona cantik yang ambil uang haram Rp300.000.000 untuk muat berita di Koran seharusnya TONY HARSONO DKK, (karena tan posing suka tonjol di depan, jadi dibujuk pake nama tan poseng), si TONY HARSONO tahu IT&B, ini kampus untuk anak2 tuntut ilmu.

Jadi sekolah diganggu tidak etis, untuk jaga nama baik TONY HARSONO (aseng tukang bakar) dan juga sebagai ketua yayasan elit dan juga ketua tempat ibadah Buddha, jadi si tan poseng dipasang untuk hadang supaya IT&B jatuh/bangkrut, padahal IT&B lama tambah maju dan tambah prima dan kuat. Sekarang IT&B ditingkatkan ranking, oleh menteri pendidikan dari setingkat S1, dinaikkan tingkatan menjadi INSTITUT (dapat program S2).

Ini suatu penghargaan tertinggi dari Menteri Pendidikan, kalau G6. Ada maksud jahat tidak dapat melawan orang yang patriot, ingat orang jahat yang merampok uang IT&B , tidak bisa dapat dukungan masyarakat, merampok uang IT&B bersumpah di pengadilan itu diambil dari uang pinjaman sehingga HAKIM pun percaya, karena yang bersumpah itu adalah biksu/suhu. Hakim hanya melihat itu kepala botak.

Mungkin HAKIM keliru yang botak itu biksu, ingat yang mau menjatuhkan IT&B, ada 6 orang (G6), yaitu saksi korban Tony Harsono, saksi Tedy Sutrisno Alias Tan Cong Bin, saksi Gani Alias Tan Cang Ching, saksi James Tantono Alias Tan Po Seng, saksi Anwar Susanto dan Tamin Sukardi nanti masyarakat akan menilai apa dikerjaan G6 yang watak jahat.

Selanjutnya, di tanggal 16 April terdakwa mengirim gambar/tulisan kalimat "INGAT G6. MERAMPOK UANG IT&B JUMLAH RP 2.400.000.000 (dua koma empat miliar rupiah) di grup WhatsApp YS Lautan Mulia. YA CUKUP BELI MOBIL MEWAH".

Tertanggal 22 April 2019, terdakwa kembali mengirim beberapa gambar dengan tulisan antara lain, G6. merampok uang IT&B. Rp2.400.000.000 (dua koma empat miliar rupiah) Lalu, liat foto nampak uang muka ketawa, G6 sesudah jabat ketua pengurus 1,5 tahun dan minta mundur dari pengurus, sampai ini hari belum kasih tanggung jawab dan melarikan diri ke XIA MEN."
Postingan terdakwa yang terbaca anggota Grup WA lainnya, yakni saksi Tedy Sutrisno alias Tan Cong Bin, Gani alias Tan Cang Ching, James Tantono alias Tan Po Seng, Anwar Susanto dan saksi Jesicca.

James Tantono kemudian mengirimkan screenshot pesan dan gambar yang dikirimkan oleh akun WhatsApp milik terdakwa kepada saksi korban Tony Harsono. Merasa dirugikan, Tony Harsono kemudian melaporkan perkara tersebut ke Mapoldasu hingga kasus ini pun berujung ke pengadilan.
Usai pembacaan dakwaan, Majelis Hakim diketuai Erintuah Damanik melanjutkan persidangan pekan depan. (T04/M14/f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments