Sabtu, 14 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Pimpinan KPK Diteror, Jokowi: Cari Pelakunya Agar Jelas dan Gamblang

Pimpinan KPK Diteror, Jokowi: Cari Pelakunya Agar Jelas dan Gamblang

* Teror di Rumah Ketua KPK Bom Palsu
admin Jumat, 11 Januari 2019 10:28 WIB
Jakarta (SIB) -Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengusut teror ke rumah dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif. Dia meminta pelakunya dicari agar jelas dan gamblang.

"Kemarin sudah saya perintahkan langsung ke Kapolri untuk menindak dan menyelesaikan ini dengan tuntas karena menyangkut intimidasi kepada para penegak hukum kita. Saya kira tidak ada toleransi untuk itu, kejar dan cari pelakunya," kata Jokowi di gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1).

Dia mengaku sudah memerintahkan agar keamanan penyidik dan komisioner KPK dijaga. Tapi ternyata teror masih terjadi.

"Tapi kalau masih ada kejadian, ya cari agar semua jadi jelas dan gamblang siapa pelakunya. Tapi saya yakini pemberantas korupsi tidak kendor atas teror-teror seperti ini," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, tas berisi benda diduga bom pipa paralon tercantol di pagar rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Jatiasih, Kota Bekasi. Sedangkan kediaman Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, dilempari dua bom molotov.

Peristiwa ini terjadi pada hari yang sama, yaitu Rabu (9/1). Benda-benda yang meneror itu tengah diteliti di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor). Selain itu, polisi langsung membentuk tim yang di dalamnya ada Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Bom Palsu
Sementara itu Polri menyatakan benda mirip bom pipa di rumah Agus Rahardjo merupakan bom palsu (fake bomb). Kepastian ini didapat dari hasil identifikasi laboratorium forensik (Labfor).

"Hasil dari Puslabfor, benda mirip bom di kediaman pimpinan KPK di Bekasi, di rumah Pak Agus firm adalah fake bomb alias bom palsu. Ada memang paralon, paku, kabel, tapi tidak tersambung. Ditemukan juga serbuk putih, setelah kita periksa secara klinis, laboratoris, itu semen biasa," kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal kepada wartawan.

Iqbal menegaskan polisi terus melakukan penyelidikan ini untuk mengungkap pelaku teror. Selain meminta keterangan saksi, polisi mendapatkan rekaman CCTV dari area dekat rumah Agus Rahardjo.

"Kami sudah menemukan petunjuk keterangan CCTV dan lain-lain. Bahkan hari ini tim kembali ke lokasi untuk kembali mendalami, ini upaya untuk membuat terang suatu perkara. Kita sudah hitung dalam jarak berapa kilo siapa saja yang lalu lalang di situ," papar Iqbal.

Dijaga Ketat Polisi
Pengamanan di rumah Agus Rahardjo di Jatiasih, Kota Bekasi, diperketat. Rumah Agus kini dijaga polisi.

Pantauan, pukul 10.00 WIB, terdapat satu mobil dari Polsek Jatiasih terparkir di depan rumah Agus. Tiga polisi masuk ke rumah Agus, sedangkan dua polisi lainnya berjaga di ujung jalan.

Hal serupa terlihat di rumah Laode M Syarif. Rumahnya disambangi anggota patroli Polsek Pancoran.

Dua polisi masuk ke rumah Syarif. Mereka disambut seorang pria berbaju batik.

"Kita patroli saja, gantian patroli tadi pagi juga ada," kata seorang polisi yang meminta namanya tidak disebutkan.

Ingin Dilengkapi Senjata
Pascateror bom palsu dan molotov di rumah pimpinan KPK, muncul wacana melengkapi semua personel KPK dengan senjata.

"Kita sedang mengevaluasi, misal kan nanti petugas KPK akan dilengkapi dengan senjata tertentu. Ini nanti kita akan bicarakan hari-hari ini," ujar Agus Rahardjo di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Evaluasi keamanan personel KPK ini, disebut Agus, terkait dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan.

"Harus ditingkatkan. Waktu kasus Saudara Novel langsung ada langkah-langkah pengamanan," kata Agus.

Tapi Agus menekankan KPK tetap bekerja optimal. KPK disebut juga tetap membutuhkan dukungan masyarakat.

"Jangan membuat kita takut terus melangkah berjuang. Dukungan dari Anda masyarakat sangat dibutuhkan," tuturnya.

Sedangkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis berkoordinasi dengan KPK terkait penyelidikan teror tersebut. Polri menawarkan pembentukan tim gabungan menyelidiki teror.

"Dari hari pertama saya sudah perintahkan Pak Kapolda bila mungkin KPK membentuk tim yang bergabung dengan kita untuk ungkap kasus ini," kata Tito kepada wartawan di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.

Menurut Tito, tim gabungan bisa membuat proses penyelidikan berjalan transparan. "Supaya penanganan kasusnya betul-betul bisa transparan," sambungnya.

Petunjuk Menarik
Pada kesempatan itu, Tito menyebut ada petunjuk yang didapat terkait penyelidikan kasus teror. Petunjuk itu diharapkan bisa mempermudah pengungkapan kasus ini.

"Kita berdoa ya mudah-mudahan cepat terungkap. Ada beberapa petunjuk yang menarik," kata Tito.

Tito mengaku langsung memerintahkan Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto, Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis dan Kadensus 88 Antiteror Irjen M Syafii ketika tahu peristiwa teror tersebut.

Dia juga menyampaikan rasa prihatin atas teror yang menimpa Ketua KPK Agus Rahardjo serta wakilnya, Laode M Syarif.

"Saya pertama turut prihatin dengan adanya peristiwa 'teror' terhadap rekan-rekan saya, Bapak Agus Rahardjo dan Bapak Laode. Saya begitu mendapat informasi langsung perintahkan Kabareskrim, kemudian Kapolda Metro Jaya, lalu Kadensus untuk ke TKP (tempat kejadian perkara)," jelas Tito.

Selain itu, Tito meminta agar pengungkapan kasus teror dilakukan secepat mungkin. "Saya pun langsung koordinasi dengan Pak Agus Rahardjo dengan Pak Laode," sambung Tito. (detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments