Kamis, 22 Agu 2019

Belajar Akuntansi Forensik

Penyidik - Penyelidik KPK Dikirim ke Inggris

* Kantongi Bantuan Inggris, KPK Segera Tuntaskan Kasus Emirsyah Satar
admin Selasa, 12 Februari 2019 09:20 WIB
Ant/Rivan Awal Lingga
WAKIL DUBES INGGRIS TEMUI KPK: Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif (kiri) berjabat tangan dengan Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia Rob Fenn (kanan) seusai melakukan pertemuan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (11/2). Pertemuan tersebut membahas program kerja sama Inggris dan KPK di bidang pemberantasan korupsi dan digital media training.
Jakarta (SIB) -KPK bakal mengirim penyelidik dan penyidiknya untuk belajar ke Serious Fraud Office (SFO) Inggris. Menurut KPK, para penyelidik dan penyidik yang dikirim akan belajar soal akuntansi forensik dan hal lain yang jadi keahlian Inggris dalam pemberantasan korupsi.
"Penyidik-penyidik KPK dan penyelidik ingin belajar ke Inggris, khususnya tentang forensic accounting atau hal-hal lain yang kami anggap lebih advance di sana," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Syarif menyampaikan hal itu usai bertemu dengan Wakil Dubes Inggris untuk Indonesia RobFenn. Dia juga menyebut saat ini KPK juga sedang menjalin kerja sama dalam penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi.

"Terus terang, pada saat yang sama kami banyak melakukan penyelidikan dan penyidikan bersama dengan KPK-nya Inggris, Serious Fraud Office," ucap Syarif.

Sementara itu, Rob Fenn bicara soal adanya pusat koordinasi penegak hukum di bidang pemberantasan korupsi yang ada di Inggris yang berisi penegak hukum dari Australia, AS, Kanada dan Singapura. Nantinya, penyidik dan penyelidik KPK juga bakal mendapat penjelasan tentang institusi tersebut.

"Inggris menjadi tuan rumah untuk pusat koordinasi antikorupsi internasional yang baru dibuat, pusat ini menyatukan petugas penegak hukum spesialis dari negara-negara seperti Australia, Kanada, AS dan Singapura untuk menangani tuduhan korupsi besar. KPK akan mengirimkan delegasi ke London bulan depan untuk memahami institusi ini dapat mendukung investigasi Indonesia," ucap Rob Fenn.

Rob Fenn selanjutnya bicara tentang aturan beneficial owner di Inggris. Dia menyebut Inggris adalah negara pertama yang membuat situs berisi beneficial owner perusahaan di negaranya dengan tujuan mencegah pelaku korupsi menyembunyikan uang hasil kejahatannya.

"Inggris adalah negara pertama di dunia yang membentuk situs khusus beneficial owner untuk publik. Pada tahun pertama situs ini diakses lebih dari dua miliar kali. Ini berarti para penjahat dan koruptor tidak dapat menyembunyikan hasil korupsi mereka di tempat terpencil," ucap Rob Fenn.
Terakhir, Rob Fenn juga sempat memuji Indonesia sebagai negara yang serius memberantas korupsi. Dia menyebut Indonesia bisa memperjuangkan pentingnya pemberantasan korupsi di kawasan dan dunia.

"Saya pikir Indonesia adalah negara yang serius memberantas korupsi. Reputasi ini tidak didapat dengan mudah, ini penuh perjuangan," ujarnya.

Tuntaskan Kasus Emirsyah
Sementara itu, KPK telah mendapatkan semua dokumen yang dibutuhkan berkaitan dengan perkara suap yang menjerat mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dari Serious Fraud Office (SFO) di Inggris. KPK pun siap menuntaskan kasus itu agar segera diadili.

"Saya berterima kasih karena semua dokumen yang diminta ke SFO sudah berada di tangan KPK. Jadi saya minta Anda tunggu saja, kasus Garuda akan segera disidangkan," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif.

Syarif menyebut KPK akan menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Inggris khususnya terkait pelatihan terkait beneficial owner atau pemilik manfaat dari perusahaan.

"Kami bicarakan ada beberapa hal. Ada yang lebih teknis misal pelatihan yang berhubungan dengan beneficial owners, pelatihan berhubungan dengan pengadaan barang melalui elektronik, pelatihan lain, korupsi di private sector," ucap Syarif.

Menurut Syarif, saat ini sudah ada peraturan presiden yang mengatur semua perusahaan harus mencantumkan siapa beneficial owner di Indonesia. Menurutnya, peraturan ini merupakan hasil pembelajaran dengan melihat legislasi yang ada di Inggris.

Urusan beneficial owner juga menjadi fokus KPK dalam kasus Emirsyah. Tersangka yang diduga penyuap Emirsyah, Soetikno Soedarjo, disebut sebagai beneficial owner Connaught International Pte Ltd. Soetikno diduga memberi suap kepada Emirsyah terkait pengadaan pesawat Airbus SAS dan mesin pesawat Rolls-Royce untuk PT Garuda Indonesia.

Jumlah duit suap yang diduga diberikan Soetikno kepada Emirsyah sebesar 1,2 juta euro dan USD 180 ribu atau setara Rp 20 miliar. Emirsyah juga diduga menerima suap dalam bentuk barang senilai USD 2 juta yang tersebar di Indonesia dan Singapura.

Selain soal pengadaan mesin dan pesawat Garuda, KPK kini juga mendalami soal pemeliharaan pesawat juga. Kasus ini sudah masuk tahan penyidikan sejak 2017 namun hingga kini belum selesai. (detikcom/d)
T#gs Indonesia Inggris KPKPenyidik
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments