Kamis, 21 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Peneliti LIPI: Media Sosial Dapat Mematikan Peran Pakar

Peneliti LIPI: Media Sosial Dapat Mematikan Peran Pakar

admin Rabu, 18 September 2019 09:48 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Berkembangnya media sosial (Medsos) memberi dampak positif pada keterbukaan informasi, tetapi juga secara perlahan mematikan peran pakar yang kian kalah dengan buzzer medsos.

"Tumbuhnya medsos internet memunculkan figur-figur baru micro-celebrity, inilah buzzer. Kemudian mengakibatkan sejumlah orang dalam ahli tertentu tenggelam di tengah kuatnya medsos," kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wahyudi Akmaliyah, dalam bedah buku berjudul Politik Sirkulasi Budaya Pop, di Jakarta, Senin (16/9).

Dalam konteks media sosial, buzzer adalah orang yang mempromosikan, mengampanyekan atau mendengungkan sesuatu, baik itu produk atau isu tertentu melalui postingan di akun media sosialnya.

Wahyudi menyebutkan fenomena saat ini, buzzer yang laksana selebritas memiliki pengikut yang banyak dan setiap postingan-nya lebih diperhatikan follower mereka.

Parahnya, lanjut dia, dengan kedalaman kompetensi buzzer yang kurang, justru pendapatnya lebih banyak dipercaya publik daripada pemikiran para pakar yang derajat keilmuannya lebih tinggi.

Sementara para pakar, kata Wahyudi, biasanya kurang aktif di media sosial dan tidak populer karena kesibukannya. Ketika para ahli menuliskan pendapatnya biasanya bukan lewat medsos, tetapi dalam jurnal, opini di media, dan semacamnya. "Ketika para pakar ini menulis biasanya di media massa. Masyarakat tentu lebih tahu pendapat dan media terkait dibanding pribadi pakar," kata dia.

Hal itu, lanjut dia, berbeda dengan postingan buzzer yang sifatnya memiliki kedekatan dengan pengikutnya karena ada interaksi langsung.

"Kalau status di medsos, orang tidak hanya membaca isinya, tetapi kemudian dia menjadi ramah dan tahu siapa yang menuliskannya, menjadi lebih bersahabat postingan-nya karena follower tahu dan secara interaksi lebih dekat. Orang yang punya follower banyak itu jauh lebih didengarkan," jelas dia.

Atas fenomena tersebut, Wahyudi mengajak para pakar, peneliti, dan akademisi untuk juga aktif di media sosial guna mengimbangi dampak sosial dari buzzer awam.

Menulis dalam dunia dalam jaringan (daring), tambah dia, dapat mencegah kepunahan pakar di tengah tumbuhnya para buzzer yang bicara banyak isu tanpa pengetahuan mendalam.

MENJADI TANTANGAN
Sementara itu, Ilham Akbar Habibie mengakui bahwa hoax atau berita bohong dan sejenisnya menjadi tantangan seiring kian populernya penggunaan medsos di masyarakat.

"Masyarakat sebagai konsumen atau pembaca harus lebih jeli dalam mengkurasi, mencerna, dan memahami setiap informasi yang didapatkan dari medsos," kata putra sulung Presiden ketiga RI, almarhum BJ Habibie itu.

Menurut dia, pelarangan medsos akan menjadi langkah yang kontraproduktif, mengingat pemerintah dan masyarakat juga perlu masukan atau informasi dari berbagai sumber di era keterbukaan informasi seperti sekarang. (KJ/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments