Rabu, 23 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Pasca Penurunan Tipe RS, Dokter Mulai Ramai Pindah Praktik

Pasca Penurunan Tipe RS, Dokter Mulai Ramai Pindah Praktik

admin Jumat, 13 September 2019 09:43 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Pasca ditetapkan penurunan kelas (tipe) sebanyak 615 rumah sakit (RS) di Indonesia oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terutama menjadi kelas C dan D, membuat para dokter berbenah.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan dr Wijaya Juwarna SpTHT-KL mengakui sebagai dampaknya, para dokter mulai beramai-ramai pindah untuk berpraktik ke rumah sakit kelas B.

"Karena turun kelas ini banyak dokter yang ingin berpraktik di RS tipe B. Terutama yang tempat praktiknya mengalami penurunan kelas dari C dan D," kata dr Wijaya, Rabu (11/9).

Menurut Wijaya, dengan penurunan kelas yang terjadi pada rumah sakit tempatnya berpraktik, maka jasa medis yang diterima dokter pun akan ikut juga turun. Padahal di satu sisi, dokter tetap dituntut bekerja secara profesional, walaupun jasa yang didapatkan dianggap tidak sesuai.

"Dengan resiko yang besar dokter akan mendapatkan jasa medis yang minim. Apalagi rumah sakit tempat praktiknya turun kelas ke D. Sehingga mau tidak mau, untuk menafkahi keluarga, dokter harus mencari penghasilan yang lebih besar, yakni di rumah sakit kelas B," jelasnya.

Namun begitu, Wijaya menyampaikan, dokter yang pindah ke RS kelas B tidak serta merta meninggalkan tempat praktiknya, karena satu orang dokter secara aturan diizinkan berpraktik di tiga tempat. Hanya saja, sambung dia, aktivitas dokter di kelas D tentunya akan berkurang, karena lebih fokus untuk praktik di RS kelas di atasnya.

"Jadi kalau dia PNS di rumah sakit daerah, dan rumah sakitnya sudah turun kelas ke D, maka dia pun sifatnya hanya akan setor wajah saja. Selebihnya dia akan lebih memilih berpraktik di rumah sakit kelas B misalnya," terangnya.

Tak hanya itu, ujar Wijaya, dokter yang sudah di kelas D pun bila menerima pasien, kemungkinan akan lebih memilih untuk merujuk pasiennya ke rumah sakit kelas B. Rumah sakit rujukan itu bisa saja dokter tersebut juga yang menjadi dokternya, tetapi dengan jasa medis yang lebih tinggi serta peralatan yang lebih lengkap.

"Jadi bukan berarti meninggalkan idealisme kedokterannya. Tapi di satu sisi ada keluarga yang harus dinafkahi. Ini kan nggak bisa kita nafikan juga," pungkasnya. (M17/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments