Rabu, 20 Nov 2019

Uang Pemprovsu Rp1,6 M Raib

PDIP Sumut: Kemampuan Kepolisian Diuji

* Polrestabes Medan Periksa ASN Pembantu PPTK dan Honorer
admin Jumat, 13 September 2019 09:32 WIB
SIB/Roy Surya Damanik
USAI DIPERIKSA: Usai diperiksa penyidik Unit Pidum Sat Reskrim Poltabes Medan, ASN yang menjabat sebagai PPTK di BPKAD Sumut M Aldi Budianto dan honorer Indrawan Ginting berjalan bersama Adi Ginting (Abang Indrawan) yang juga ASN di Biro Keuangan BPKAD Sumut, keluar dari Mapolrestabes Medan, Kamis (13/9).
Medan (SIB) -Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sumut menilai peristiwa raibnya uang Rp1,6 miliar lebih milik Pemprovsu dari dalam mobil terparkir di halaman parkir dekat pos sekuriti Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro, cukup ganjil.

"Memang cukup ganjil peristiwa ini, jumlah uang yang cukup besar dibawa dalam bentuk tunai tanpa pengawalan dan dilakukan oleh pegawai salah satunya honorer. Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pengesahan P-APBD 2019 dan R-APBD 2020 yang penuh kontroversial," kata Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Dr Aswan Jaya, Kamis (12/9).

Ia mengatakan uang berjumlah Rp1,6 miliar itu bila pecahan Rp100.000 maka diperlukan satu koper besar atau 1,5 kardus air mineral. "Tidak mudah membawanya bila tak ingin terlihat oleh orang lain. Berarti orangyang telah mencuri uang dari mobil Avanza tersebut sangat terlihat membawa bungkusan besar," ujarnya.

"Apakah ada hubungannya dengan kedua peristiwa tersebut, hanya Allah yang maha tahu," ketus Aswan. Lepas dari kontroversi dan keheranan semua pihak, beberapa hal berikut patut untuk bersama dicermati.

Yaitu dimulai dari petugas sekuriti. "Mengapa dimulai dari petugas sekuriti, karena mobil Avanza yang digunakan untuk mengangkut uang Rp 1,6 miliar di parkir dekat di pos sekuriti. Pertanyaannya adalah apakah sekuriti di kantor gubernur tidak melihat ada mobil Avanza warna silver sedang dibobol maling atau mereka melihat tapi tak mencurigai bahwa sedang terjadi tindak kejahatan pencurian. Atau apakah petugas sekuriti tidak di tempat pada saat kejadian," ungkap Aswan dengan penuh tanda tanya.

Menurutnya, apabila petugas sekuriti melihat ada orang yang membuka mobil tersebut, lalu membawa bungkusan besar dan tidak mencurigainya sebagai tindakan kejahatan. Maka asumsinya petugas sekuriti mengenal atau setidaknya mengetahui orang yang membawa bungkusan besar tersebut dari mobil Avanza berwarna silver.

Kalau petugas sekuriti tidak melihat atau tidak mengetahui ada kejadian pencurian uang, maka muncul pertanyaan berikutnya apakah benar ada mobil Avanza berwarna silver membawa uang Rp1,6 miliar parkir di dekat pos sekuriti.

"Bila petugas pos sekuriti ternyata tidak di tempat saat kejadian berlangsung, tentu ini merupakan tindakan indisipliner petugas sekuriti dan harus dilakukan upaya-upaya sanksi dalam rangka penegakan disiplin petugas sekuriti kantor Gubernur Sumut," tutur Aswan lagi.

SEJAK KAPAN CCTV TAK BERFUNGSI
Sisi lain, Aswan mempertanyakan sejak kapan CCTV tersebut mati atau tak berfungsi. Apakah tidak ada anggaran perawatan. Mengetahui sejak kapan CCTV tidak berfungsi sangat penting, untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Bila CCTV tak berfungsi beberapa saat sebelum kejadian, maka patut ada kecurigaan kesengajaan untuk sebuah pemufakatan jahat.

Bila CCTV sudah lama tak berfungsi, mengapa bisa demikian. Di era modern saat ini keberadaan CCTV sangat penting, apalagi untuk instansi sekelas kantor gubernur. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pemeriksaan kepada petugas atau instansi yang bertanggung jawab terhadap keberadaan CCTV.

Periksa anggaran terkait dengan itu, bila ada maka asumsinya telah terjadi tindak pidana korupsi terkait pengadaan pemeliharaan CCTV kantor Gubernur Sumut. "Pun bila tak ada anggaran, maka hal ini merupakan sebuah kelalaian besar dari panitia anggaran," sebutnya. Ia mengatakan uang miliaran rupiah tersebut milik negara dan sedang dipegang oleh orang yang tidak berhak.

Yang perlu dilakukan adalah segera mengungkap siapa pencurinya dan menyelamatkan uang negara. Peristiwa ini momentum besar bagi kepolisian untuk membuktikan profesionalisme dengan mengungkap sebenar-benarnya kejadian. Bila kepolisian gagal maka kepercayaan publik akan hilang.

BERBENAH
Pengamanan di wilayah kantor Gubernur Sumut yang lemah (petugas sekuriti), perangkat pengamanan yang tak berfungsi (CCTV) dan pegawai yang lalai. Tiga faktor ini yang menyebabkan uang negara digondol orang.

Ini bukan persoalan kecil, tapi persoalan besar. Kehilangan uang negara sebesar Rp1,6 miliar sesungguhnya sudah masuk ke ranah KPK bila itu merupakan tindak pidana korupsi. Walau saat ini masih dalam ranah pidana bukan tidak mungkin akan bergeser ke ranah korupsi.

Dengan demikian gubernur sebagai penanggung jawab anggaran harus segera berbenah. Evaluasi kembali pengamanan di sekitar kantor gubernur, perbaiki seluruh sistem pengamanan dan pencegahan tindak kejahatan dan minimalisir watak lalai pegawai serta Aparatur Sipil Negara (ASN). "Watak lalai inilah yang menjadi salah satu sebab lambatnya pelayanan di kantor Gubernur Sumut untuk semua urusan," ketus Aswan lagi.

PEMERIKSAAN
Di tempat terpisah, Penyidik Unit Pidum Sat Reskrim Polrestabes Medan telah melakukan pemeriksaan terhadap ASN yang menjabat sebagai Pembantu Pejabat Pembuat Transaksi Keuangan di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (PPTK BPKAD) Sumut, M Aldi Budianto (40) dan honorer, Indrawan Ginting (36), Kamis (13/9) pagi hingga sore.

Pantauan wartawan di depan ruang penyidik Pidum lantai 2, terlihat ASN dan honorer sedang diperiksa. Sementara abang kandung dari honorer tersebut, Adi Ginting yang juga ASN di Biro Keuangan BPKAD Sumut duduk di depan ruang penyidik dan tampak kasak kusuk melihat kehadiran para awak media. Sesekali Adi masuk ke dalam ruangan penyidik untuk menemui adiknya.

Terlihat sejumlah ASN datang dan bertanya-tanya kepada Adi terkait hasil pemeriksaan. Adi menjelaskan kepada rekan-rekannya agar awak media tidak mendengar pembicaraan mereka. Sekira pukul 13.45 WIB, M Aldi Budianto Indrawan Ginting keluar dari ruang penyidik dan langsung disambut Adi. Ketiganya dengan buru-buru meninggalkan lokasi.

Para wartawan berupaya menghampiri ASN dan honorer tersebut guna wawancara, namun keduanya bungkam. Di luar gedung, para awak media kembali bertanya kepada keduanya, namun Adi berusaha menghalang-halangi wartawan dan meminta honorer tersebut untuk bungkam. Sedangkan M Aldi Budianto tampak bertelepon dan menghindari kamera wartawan. Hingga keluar dari Mapolrestabes, keduanya tetap bungkam.

Salah seorang penyidik yang diwawancarai wartawan membenarkan jika ASN dan honorer tersebut sudah diperiksa dan dimintai keterangannya terkait pencurian uang Rp 1,6 miliar lebih. Ketika ditanya lebih jauh, penyidik tak berkomentar sama sekali.

Sebelumnya, uang sebesar Rp 1,6 miliar lebih milik Pemrov Sumut yang diletakkan di dalam mobil terparkir di halaman parkir dekat pos sekuriti Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro, Kecamatan Medan Polonia, disebut disatroni kawanan pencuri, Senin (9/9) sekira pukul 17.05 WIB.

Hilangnya uang yang rencananya untuk menggaji honorer Pemrov Sumut tersebut langsung dilaporkan ke Polrestabes Medan pada Senin malam.

Informasi yang dihimpun wartawan dari berbagai sumber, Selasa (10/9) sore menyebutkan sebelum pencurian terjadi, ASN Pemprov Sumut, Budianto (40) warga Jalan Karya Dharma, Medan Johor dan honorer Biro Perbekalan Pemrov Sumut, Indrawan Ginting (36) warga Jalan Seriti 1 Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan, Senin sekira pukul 16.00 WIB, mengambil uang dari Bank Sumut Jalan Imam Bonjol Medan sebesar Rp 1,6 miliar lebih.

Setelah mengambil uang, keduanya menuju ke lokasi parkiran bank dan meletakkan tas berisi uang di kursi belakang mobil Toyota Avanza warna silver BK 1875 ZC. Selanjutnya PNS dan hononer tersebut meninggalkan lokasi menuju Kantor Gubernur Sumut. Setibanya di tujuan, keduanya memarkirkan mobil di plataran parkiran kantor yang posisinya dekat pos sekuriti.

Budianto dan Indrawan keluar dari mobil, lalu mengunci pintu dan berjalan menuju masjid di samping kantor untuk melaksanakan Sholat Ashar. Usai sholat, keduanya kembali ke parkiran untuk mengambil uang yang rencananya untuk menggaji honorer. Namun lubang kunci pintu didapati sudah rusak. Selanjutnya keduanya mengecek dan ternyata uang sudah raib digondol maling.

Kejadian itu lalu dilaporkan ke atasan Budianto dan diteruskan ke Polrestabes Medan. Tak lama personil Sat Reskrim dan Tim Inafis tiba di lokasi untuk melakukan penyelidikan serta identifikasi. Setelah itu PNS dan honorer diarahkan untuk membuat laporan ke Polrestabes Medan. Sedangkan mobil yang membawa uang tersebut juga dibawa ke Mapolrestabes guna dijadikan barang bukti.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira yang dikonfirmasi membenarkan adanya laporan terkait pencurian uang itu. "Laporannya sudah kita terima, dan kita masih melakukan penyelidikan," ujarnya.

Sat Reskrim Polrestabes Medan masih melakukan pencarian rekaman CCTV yang terpasang di seputaran kantor Gubernur Sumut.
Rekaman CCTV yang merekam aksi pencurian itu tentunya sangat penting dan menjadi kunci utama dalam mengungkap kasus pencurian tersebut.

Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira saat dikonfirmasi wartawan apakah pihaknya sudah menemukan rekaman CCTV di lokasi, Rabu (11/9). Putu menegaskan jika kasusnya masih diselidiki.

"Kita masih mencari rekaman CCTV di lokasi kejadian. Kasusnya masih kita kembangkan," ujarnya. (M17/M16/q)
T#gs Polrestabes Medan Uang Rp16 M RaibPDIP Sumut
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments