Senin, 09 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • PDAM Tirta Malem Karo Nunggak Rp 1 Miliar, PLN Putus Aliran Listrik

PDAM Tirta Malem Karo Nunggak Rp 1 Miliar, PLN Putus Aliran Listrik

redaksi Selasa, 03 Desember 2019 15:14 WIB
Tribunnews.com
Pompa air milik PDAM Tirta Malem yang arus listriknya diputus pihak PLN, di Jalan Lau Bawang, Desa Laudah, Kabanjahe, Senin (2/12/2019).
Tanah Karo (SIB)
Aliran listrik mesin pompa sedot mata air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Malem Karo diputus oleh PLN Kabanjahe.

Pasalnya perusahaan BUMD milik Pemkab Karo itu tidak membayar tagihan listriknya. Akibatnya, ribuan pelanggan tidak dapat menikmati air bersih.

Menurut keterangan salah seorang warga Kapten Bangsi Kabanjahe Raja Ginting (28) sudah 2 hari terakhir air tidak mengalir ke rumahnya.

"Biasanya air hidup 2 hari sekali, tapi belakangan udah 2 hari ini air gak hidup lagi," jelasnya kepada wartawan, Senin (2/12).
Ia menambahkan kalau dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan membeli air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.

"Terpaksa beli air bersih bang setiap harinya 5 drum dengan rata rata biaya per drum Rp 6 ribu. Sehingga mengeluarkan biaya Rp 30 ribu setiap harinya. Mau gak mau harus dibeli karena kan kita butuh," ujarnya.

Terpisah, Plt Direktur PDAM Tirta Malem Kabanjahe Jonara Tarigan, saat ditanyai mengenai air yang tidak mengalir ke rumah warga, mengaku kalau pendistribusian air mengalami kendala akibat aliran listrik diputus oleh PLN. Pemutusan ini dikarenakan pihaknya belum membayarkan tagihan listrik selama 8 bulan sejak April 2019 hingga Nopember 2019, dengan total sekira Rp 1 miliar.

Menurutnya tidak dibayarnya tagihan listrik tersebut dikarenakan pelanggan tidak membayarkan tagihan air. Sesuai data tunggakan tagihan air pelanggan Rp 5 miliar, sejak tahun 2000an.

"Gimana mau kita bayar tagihan listrik kita, pelanggan saja tidak mau bayar tagihan airnya. Itu ada Rp 5 miliar tunggakan pelanggan, ada sekitar 12 ribuan lebih pelanggan kita. Perbulannya itu sekitar Rp 180 juta tagihan untuk mesin itu aja," ungkapnya.

Saat ditanyai apakah tidak ada bantuan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Karo, dirinya mengaku kalau bantuan yang diberikan bersifat fisik dan bukan tunai.

"Kita udah minta bantuan sama Pemda, tapi mereka hanya bisa bantu fisik, karena memang begitulah peraturannya. Kita memang di bawah Pemda, tapi kita sudah mandiri. Regulasinya memang seperti itu, Biaya perawatan, perbaikan, dan lain-lain itu uangnya dari pelanggan semua, tidak ada bantuan dana segar dari pemerintah," jelasnya.

Lanjutnya kalau PLN memutus aliran listrik mesin pompa sedot air di mata air Lau Bawang, Kabanjahe. Yang dari aliran air tersebut mendistribusikan 7000 lebih pelanggan di Kecamatan Kabanjahe, Karo.

"Yang diputus itu aliran listrik untuk mesin sedot dari mata airnya yang di Lau Bawang. Itu untuk 7000 lebih lah ke pelanggan. Sisanya ada 4 mata air lagi yang masih bisa difungsikan," terangnya.

Untuk sementara ini, untuk tetap memberikan pelayanan air kepada pelanggan, pihaknya mengoptimalkan 4 mata air untuk mendistribusikan air kepada pelanggan.

Saat ditanyai apakah sudah memohon keringanan kepada PLN agar tidak dilakukan pemutusan, dirinya mengaku sudah berkali-kali mengajukan penundaan pemutusan.

"Kalau kita mohon untuk ditunda pemutusan, udah berkali-kali lah. Pemutusan sementara itu, 31 Oktober kemarin. Karena gak terbayar juga, kemarin 29 Nopemberlah diputus total," jelasnya. (BR2/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments