Senin, 16 Sep 2019

PBNU: Dai Harus Berempati, Berjiwa Negarawan

JK: Dakwah Harus Damai
admin Jumat, 23 Agustus 2019 10:43 WIB
Abdul Somad (UAS)
Jakarta (SIB) -Ustaz Abdul Somad (UAS) dipolisikan sejumlah pihak terkait video viral dirinya membahas salib karena menjawab pertanyaan jemaah dalam sebuah pengajian. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan seorang penceramah atau dai untuk lebih hati-hati ketika menyampaikan materi dakwah.

"Saya ingin tekankan dulu bahwa jejak digital tidak akan pernah hilang. Sekali kita lakukan sesuatu baik tulisan maupun rekaman ataupun gambar, selamanya akan terekam. Di situ kita bicara pentingnya kehati-hatian. Apalagi bila yang berbicara itu seseorang yang diikuti orang banyak," kata Wasekjen PBNU KH Masduki Baidlowi saat dihubungi, Selasa (20/8) malam.

Sebab menurutnya mayoritas masyarakat Indonesia punya ciri patron-klien. Masyarakat Indonesia mengikuti tokoh yang dianut.

"Kalau tokohnya baik, memberikan keteladanan maka otomatis umatnya akan baik. Tapi sebaliknya, kalau tidak hati-hati, itu akan memicu hal yang berdampak kurang baik di masyarakat," tuturnya.

Menurutnya, untuk masalah ini perlu ditangani hati-hati agar tak memperuncing masalah. Sebab, isu keagamaan merupakan isu sensitif yang bisa menyebabkan masyarakat terbelah.

Masduki mengatakan PBNU bersama Muhammadiyah, MUI, dan semua tokoh agama tengah merawat kondisi masyarakat pasca-Pilpres 2019. Dia berharap semakin banyak masyarakat yang ikut mendinginkan suasana. Dia berharap pihak-pihak tak mendahulukan penyelesaian masalah dengan cara melapor ke polisi.

"Jangan yang didahulukan pengedepanan hukum, politik. Tapi yang harus dikedepankan itu adalah silaturahim antarkelompok masyarakat, antarpemuka agama. Banyak pihak yang ingin Indonesia bubar, baik dari ekstrem kiri maupun kanan," tuturnya.

"Kita harus dinginkan suasana. Semua elemen untuk menahan diri untuk tidak datang ke polisi karena itu tidak menyelesaikan masalah. Walaupun dengan alasan ini negara hukum, maka harus diproses hukum, memang tidak masalah, tapi tidak akan selesai masalahnya," tambah Masduki.

PBNU mengimbau kepada dai untuk mempunyai sikap empati dalam berdakwah agar tidak menyebabkan umat agama lain tersinggung. Menurutnya, dai juga harus punya jiwa negarawan agar dakwah yang disampaikan memperkuat ikatan masyarakat.

"Imbauan kepada para dai, mari kita sebagai dai dari tokoh-tokoh muslim, berempati juga. Dalam artian, kebenaran dalam agama belum tentu berdampak bagus dalam kondisi kebangsaan dan kenegaraan. Oleh karena itu kebenaran dalam agama harus disesuaikan dengan konteks kebangsaan dan bernegara, dan juga kebinekaan. Artinya, seorang dai harus mempunyai jiwa kenegarawanan. Kalau belum ke sana, setidaknya sudah punya bibit negarawan," ungkapnya.

Mari Memaafkan
Sementara itu, PP Muhammadiyah juga mengatakan sebaiknya ceramah dilakukan secara hati-hati.

"Ya kita tidak usah membicarakan orang lainlah, kita bicara tentang diri kita sendiri saja. Diperkuat kepercayaan pada Tuhan masing-masing. Untuk itu ke depan supaya kita lebih menjaga kehati-hatian, kalau sekarang itu zamannya media sosial itu tidak ada yang tertutup," kata Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad saat dihubungi, Selasa malam.

Dia mengatakan dalam pengajian tertutup, sebetulnya menjelaskan teologi berdasarkan rujukan kitab agama masing-masing. Namun, hal ini menjadi masalah karena video tersebut terekspos dan menyinggung orang lain.

Namun, Dadang mengatakan pelaporan Somad ke polisi bukan solusi. Dia yakin UAS tidak benar-benar berniat melakukan penghinaan terhadap agama lain.

Hingga kemudian ada juga pihak yang melaporkan balik kepada pihak yang mempolisikan UAS. Dadang melihat aksi saling lapor ini bukan solusi.

"Ini (ceramah UAS) tidak khusus. Kalau kita saling lapor, dampaknya bisa saling cari kesalahan. Ini bentuk intoleransi. Kalau ada kesalahan dari tokoh itu semestinya kita saling memaafkan. Saya yakin itu tidak sengaja," kata Dadang.

Wapres Jusuf Kalla (JK) ikut mengomentari video UAS. JK meminta UAS mengklarifikasi ucapannya untuk mencegah melebarnya masalah. Dadang setuju dengan usulan JK. Namun, Dadang melihat masyarakat Indonesia akan mau memaafkan karena punya toleransi yang tinggi.

"Saya kira ada atau tidak ada penjelasan Ustaz Somad, bagi kita, orang beragama di Indonesia kan saling memaafkan adalah kebiasaan sejak dulu. Sekarang kenapa harus melalui hukum dan lainnya? Kedua, memang bagus saja kalau Ustaz Somad membuat klarifikasi untuk menjernihkan suasana," ujarnya.

"(UAS) Perlu (minta maaf) kalau memang ada yang tersinggung, memohon maaf ini kan di kalangan terbatas. Tapi kalau orang baik, orang hebat, dia akan memaafkan tanpa ada lebih dulu permintaan maaf. Dan orang Indonesia kenapa sampai hari ini sangat damai? Karena toleransi, karena sikap memaafkan yang sudah dipunya sejak dulu," sambung Dadang.

Atas video tersebut, beberapa pihak melaporkan UAS ke polisi. Setidaknya ada empat pihak yang telah melaporkan UAS, yaitu Horas Bangso Batak (HBB), seorang dosen universitas swasta di Jakarta bernama Manotar Tampubolon, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Presidium Rakyat Menggugat (PRM).

JK: Dakwah Harus Damai
Wakil Presiden yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) mengimbau para ulama agar menciptakan suasana damai dalam berdakwah. JK mengingatkan Indonesia memiliki beragam kepercayaan, tapi tidak boleh menyalahkan satu sama lain.

"Dakwah memang harus damai, tidak ada dakwah yang menyebabkan perselisihan dan menyebabkan berbeda pandangan. Kita boleh berbeda sikap tapi kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain," ujar JK di Masjid Istiqlal, Gambir, Jakarta Pusat.

JK mengingatkan kepada para pemuka agama untuk menyampaikan pesan damai dalam berdakwah. Ia juga mengimbau agar selalu menciptakan suasana sejuk.

"Kemarin saya sudah sampaikan dakwah juga harus damai. Harus menjadikan seluruh negeri ini rahmatan lilalamin (rahmat bagi semesta)," ucap JK.

JK mengatakan, perbedaan merupakan sesuatu yang wajar. Semua agama memang berbicara tentang keyakinannya, namun ia kembali mengingatkan hati-hati dalam berdakwah.

"Boleh, pasti berbeda tidak mungkin sama, pasti berbeda, memang yang kemarin itu momennya bagaimana? Momennya di mana, otomatis memang masing-masing orang berbicara pasti bicara tentang keyakinannya. Tidak mungkin sama, cuma bagaimana dakwah itu. Selain itu jangan jadi melebar. Jangan sering tabrakan," kata JK. (detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments