Jumat, 06 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Ombudsman Temukan 4 Potensi Maladministrasi Izin Senpi Sipil

Ombudsman Temukan 4 Potensi Maladministrasi Izin Senpi Sipil

admin Rabu, 23 Januari 2019 12:59 WIB
Jakarta (SIB)-Ombudsman menemukan adanya potensi maladministrasi dalam proses perizinan senjata api (senpi) non-organik untuk masyarakat sipil.

"Kami menemukan ada beberapa hal yang terjadi potensi maladministrasi. Ada empat potensi yang mungkin terjadi," kata anggota Ombudsman Adrianus Meliala dalam jumpa pers di kantor Ombudsman, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (22/1).

Potensi maladministrasi ini ditemukan Ombudsman setelah berinisiatif melakukan kajian dengan mendatangi Polda Sumut, Polda Jateng, dan Polda Metro Jaya. Adrianus mengatakan maladministrasi pertama terkait izin perpanjangan yang tidak melalui proses uji menembak dan psikologis.

"Seharusnya dilakukan juga tes menembak, psikologi, seperti persyaratan awal. Hal itu kami rasa penting karena orang harus sehat secara psikologis dan jasmani," jelas Adrianus.

Selain itu, menurut Adrianus, pembayaran izin seharusnya dilakukan secara nontunai untuk menghindari potensi pelanggaran.
Adrianus juga mengungkap soal penarikan senpi dengan pemilik yang sudah pindah rumah dan masalah pergudangan yang layak menampung senjata api.

"Empat hal tersebut kami sudah mengajukan saran kepada Kapolri merevisi peraturan Kapolri Nomor 18 Tahun 2015, khususnya mengenai 4 hal, komponen standar agar menyesuaikan ketentuan Pasal 21 UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang (Pelayanan Publik)," ujar Adrianus.

Sementara itu, Inspektur Wilayah III Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri Brigjen B Suharno mengapresiasi kajian dari Ombudsman sebagai masukan untuk Polri.

"Mudah-mudahan nanti ke depan Polri jadi lebih baik. Yang menyangkut senpi non-organik, nanti akan kami bahas, untuk perkap pasti menunggu tidak akan cukup 60 hari, mungkin yang bisa lebih cepat SOP," imbuhnya. (detikcom/h)
T#gs Ombudsman Temukan 4 Potensi Maladministrasi Izin Senpi Sipil
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments