Jumat, 10 Jul 2020
  • Home
  • Headlines
  • Militer Tembak Pesawat Ukraina, Demonstran Tuntut Para Pemimpin Iran Mundur

Militer Tembak Pesawat Ukraina, Demonstran Tuntut Para Pemimpin Iran Mundur

* Trump Peringatkan Pemimpin Iran: Jangan Bunuh Demonstran
redaksi Selasa, 14 Januari 2020 09:24 WIB
AFP/GETTY IMAGES
DEMO : Massa demonstran yang kebanyakan mahasiswa menggelar aksi di depan Amir Kabir University,Teheran,Minggu (12/1) memprotes para pemimpin Iran atas penembakan pesawat sipil Ukraina.
Teheran (SIB)
Warga Iran masih menggelar unjuk rasa memprotes pemerintah terkait insiden jatuhnya pesawat maskapai Ukraina karena ditembak rudal Iran. Muncul seruan agar para pemimpin Iran mengundurkan diri usai terungkap ada penyangkalan selama beberapa hari sebelum Iran akhirnya mengakui kesalahannya.

Seperti dilansir Reuters dan Channel News Asia, Senin (13/1), unjuk rasa terjadi sejak Sabtu (11/1) usai militer Iran mengakui tidak sengaja menembak pesawat Ukraine International Airlines yang membawa 176 penumpang dan awak. Unjuk rasa itu berlanjut hingga Minggu (12/1) waktu setempat. "Mereka berbohong bahwa musuh kita adalah Amerika, musuh kita ada di sini," teriak sekelompok demonstran Iran yang berkumpul di luar satu universitas di Teheran, menurut video yang diposting ke Twitter.

Postingan media sosial menunjukkan para demonstran Iran juga berkumpul di luar satu universitas lainnya dan sekelompok demonstran bergerak ke Alun-alun Azadi. Sejumlah video lainnya juga menunjukkan demonstran menggelar aksi di beberapa kota Iran lainnya. Beberapa media lokal yang terafiliasi pemerintah Iran melaporkan unjuk rasa itu. Aksi protes pada Sabtu (11/1) waktu setempat diwarnai tembakan gas air mata terhadap ribuan demonstran di Teheran. Banyak demonstran meneriakkan 'Matilah diktator' yang ditujukan bagi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam unjuk rasa pada Minggu (12/1) waktu setempat, sejumlah warga Teheran menuturkan kepada Reuters bahwa polisi kalah jumlah dari demonstran. Sejumlah demonstran di Alun-alun Azadi bahkan menyerukan kepada personel kepolisian untuk bergabung dengan mereka dalam aksi protes.

Para demonstran Iran terus meluapkan kemarahan kepada pemerintah, dengan banyak demonstran, seperti dilaporkan media lokal Iran, masih meneriakkan sejumlah slogan antipemerintah yang salah satunya berbunyi 'Jatuhkan diktator' yang masih merujuk pada Khamenei.

Kemarahan publik Iran memuncak usai pemerintah menyangkal, selama beberapa hari, soal kesalahan pihak militer telah secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat maskapai Ukraina. Iran tetap menyangkal bahkan setelah negara-negara Barat, seperti Kanada dan Amerika Serikat (AS) menyebut rudal Iran menjatuhkan pesawat itu. "Minta maaf dan mundur," tulis surat kabar moderat Iran, Etemad, dalam headline-nya pada Minggu (12/1) waktu setempat.

Ulasan surat kabar itu menyebut 'tuntutan rakyat' adalah meminta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kesalahan yang membuat pesawat maskapai Ukraina itu jatuh, mengundurkan diri. Diketahui bahwa sebagian besar korban pesawat jatuh itu merupakan warga Iran dan warga Kanada keturunan Iran. "Saya hanya bisa mengatakan bahwa penyangkalan dan menutup-nutupi kebenaran selama tiga hari terakhir semakin menambah penderitaan dan rasa sakit keluarga dan saya sebagai warga Iran. Ini membuat saya semakin sedih," ucap Zahra Razeghi yang merupakan warga Teheran, seperti dilansir Associated Press.

Otoritas Iran pada Sabtu (11/1) menyebut ditembak jatuhnya pesawat maskapai Ukraina itu sebagai human error atau kesalahan. "Itu bukan human error. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Khamenei dan rezimnya harus pergi," ucap putra salah satu shah Iran yang lengser, Reza Pahlavi, dalam komentar via Twitter.

Trump Peringatkan
Sementara itu, presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan terbaru untuk pemimpin Iran terkait aksi ribuan demonstran Iran yang memprotes pemerintah usai pengakuan ditembak jatuhnya pesawat maskapai Ukraina.

Trump memperingatkan otoritas Iran untuk tidak membunuh para demonstran antipemerintah. "Untuk para pemimpin Iran - JANGAN BUNUH DEMONSTRAN KALIAN. Ribuan orang tewas atau dipenjarakan oleh kalian dan dunia mengawasi," tulis Trump via akun Twitternya, seperti dilansir AFP dan CNN, Senin (13/1). "Yang lebih penting, AS mengawasi," tegasnya. "Aktifkan kembali internet Anda dan biarkan wartawan bebas berkeliaran! Hentikan pembunuhan rakyat Iran yang hebat!" imbuh Trump.

Komentar Trump via Twitter itu diposting beberapa jam setelah Trump menyampaikan dukungan pemerintah AS untuk para demonstran Iran. Dalam pernyataan dukungannya, Trump mengklaim dirinya telah 'berdiri' bersama rakyat Iran sejak dia menjabat Presiden AS sekitar tiga tahun lalu. "Pemerintahan saya akan terus mendukung kalian. Kita semua mengikuti unjuk rasa kalian secara saksama, dan terinspirasi dengan keberanian kalian," demikian pernyataan Trump dalam bahasa Inggris dan Farsi.

Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu (11/1) waktu setempat, Trump menyerukan agar pemerintah Iran 'mengizinkan kelompok-kelompok HAM untuk memantau dan melaporkan fakta-fakta dari lapangan soal aksi protes warga Iran yang sedang berlangsung'. "Tidak akan ada lagi pembantaian demonstran yang beraksi secara damai, maupun pemutusan akses internet. Dunia sedang mengawasi," cetusnya.

Diketahui bahwa unjuk rasa memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada November 2019 lalu diwarnai kerusuhan berdarah. Laporan tiga pejabat Kementerian Dalam Negeri Iran kepada Reuters menyebut sekitar 1.500 orang tewas dalam kerusuhan yang terus berlangsung selama dua pekan di wilayah Iran.

Membelot
Lewat media sosial Kimia Alizaedh menjelaskan alasannya menanggalkan kewarga-negaraan Iran. Atlet taekwondo yang memenangkan medali perunggu pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016 itu sedang mencari suaka di Eropa. "Tidak ada yang mengundang saya ke Eropa dan saya tidak juga mendapat tawaran (bermigrasi). Tapi saya menerima rasa sakit akibat rindu tanah air karena saya tidak ingin lagi menjadi bagian dari hipokrisi, kebohongan dan ketidakadilan ini."

Tanpa gereget, pemerintah Iran bereaksi santai pada kabar muram dari Alizadeh. Kesaksiannya itu diumbar ketika otoritas Teheran sedang sibuk menghadapi kisruh politik di luar dan dalam negeri. "Saya belum membaca unggahan Kimia," kata Mahin Farhadizadeh, Wakil Menteri Olahraga Iran, kepada kantor berita ISNA. "Sejauh yang saya tahu dia memang selalu berambisi melanjutkan studinya di bidang Fisioterapi."

Alizadeh menuding pemerintah Republik Islam Iran mengurung atlet perempuan lewat serangkaian aturan berpakaian dan penampilan yang ketat. "Saya adalah satu dari jutaan perempuan Iran yang ditindas yang selama bertahun-tahun menjadi mainan pemerintah," tukasnya dalam unggahan di Instagram.

"Saya mengenakan apapun yang mereka perintahkan dan mengulangi apa yang mereka inginkan. Saya mengulangi setiap kalimat yang mereka wajibkan kepada saya," tulis Alizadeh lagi. "Tidak seorangpun dari kami yang berharga di mata mereka. Kami hanya alat."

Dia meyakini pemerintah Iran hanya berniat mengeksploitasi prestasi olahraganya untuk kepentingan politik. Sudah begitu, Alizadeh kerap menjadi korban ujaran merendahkan oleh pejabat yang gemar melontarkan komentar seperti, "adalah tidak bermoral bagi perempuan untuk merenggangkan kakinya!"

Alizadeh mengaku medali perunggu yang dia raih untuk cabang taekwondo kelas 57kg di Brazil merupakan hadiah bagi perempuan Iran. Dalam surat pernyataannya, sang atlet sempat meragukan keputusannya sendiri. "Haruskah saya memulai dengan halo, selamat tinggal atau ucapan duka? Halo perempuan Iran yang tertindas, selamat tinggal bangsa yang bermartabat, turut berbela sungkawa bagi mereka yang selalu berduka."

Alizadeh menjadi atlet ketiga Iran yang undur diri dan pindah kewarganegaraan. Desember silam Federasi Catur Iran melaporkan juara dunia Alireza Firouzja memutuskan berhenti mewakili negeri sendiri dalam turnamen internasional karena dilarang berkompetisi melawan pecatur Israel. Tiga bulan sebelumnya Federasi Judo Internasional mengabarkan atlet Iran Saeid Mollaei menolak pulang ke kampung halaman karena mengkhawatirkan keselamatan sendiri. Dalam satu turnamen dunia dia mengabaikan perintah federasi nasional untuk membatalkan pertandingan melawan atlet Israel. (Rtr/AFP/dtc/DWI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments