Sabtu, 15 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • Menko Mahfud: Hati-hati, Djoko Tjandra Berpeluang Ajukan PK Lagi

Menko Mahfud: Hati-hati, Djoko Tjandra Berpeluang Ajukan PK Lagi

Tak Cukup Dicopot, Jaksa Pinangki Harus Dipidana
redaksisib Sabtu, 01 Agustus 2020 09:24 WIB
Agung Pambudhy

Djoko Tjandra ditangkap 

Jakarta (SIB)
Menko Polhukam Mahfud Md mengingatkan seluruh pihak untuk hati-hati terhadap proses hukum yang akan ditempuh oleh terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra. Mahfud menilai setelah peninjauan kembali (PK) Djoko Tjandra tidak diterima di PN Jakarta Selatan, bisa saja Djoko Tjandra mengajukannya kembali.

"Kita harus hati-hati dengan trik hukum Djoko Tjandra. Dengan resminya menjalani pidana maka dia berpeluang untuk mengajukan PK lagi. Itu mungkin saja dilakukan karena PN Jakarta Selatan kemarin baru menetapkan bahwa permohonan PK Djoko Tjandra tidak dapat diterima bukan ditolak," kata Mahfud kepada wartawan, Kamis (30/7).

"Jika permohonan tidak dapat diterima karena tidak memenuhi syarat prosedural-administratif maka pemohon bisa mengajukan permohonan lagi," lanjutnya.

Mahfud mengatakan jika nantinya Djoko Tjandra akan mengajukan permohonan PK kembali, maka proses itu akan melewati
Mahkamah Agung. "Kalau ini benar-benar ditempuh oleh Djoko Tjandra maka urusannya ada di Mahkamah Agung," ujarnya.

Dia menyebut pemerintah tidak bisa ikut campur lagi dalam hal ini. Oleh karena itu, Mahfud mengingatkan agar pimpinan MA untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dia juga meminta masyarakat untuk memelototi jalannya proses hukum tersebut.

"Pemerintah tak bisa ikut campur. Kita berharap agar pimpinan Mahkamah Agung memperhatikan ini secara sungguh-sungguh.

Masyarakat juga harus memelototi jalannya drama Djoko Tjandra ini selama proses di MA jika dia melanjutkan permohonan PK-nya," katanya.

Harus Dipidana
Mahfud juga meminta aparat penegak hukum segera memproses Pinangki secara pidana.

"Yang diinternal pemerintah di mana ada indikasi keterlibatan pejabat-pejabat dan pegawai itu di Polri polisinya sudah ditindak dipidanakan, kemudian juga di kejagung yang diduga juga melibatkan orang di sana itu sudah mulai bertindak dengan mencopot si Pinangki dan itu harus segera diselidiki itu proses pidananya karena itu telanjang sekali, ada permainan hukum pidana di sini," kata Mahfud .

Untuk itu, Mahfud meminta Pinangki tak hanya dicopot tapi juga ditindak secara pidana. Serta mencari tahu orang-orang yang terlibat di ruang lingkup kejaksaan.

"Jadi si Pinangki itu tidak cukup hanya dia dicopot tapi harus segera dicari proses pidananya dan digali siapa lagi di kejaksaan agung yang terlibat," ujarnya.

Lebih lanjut, Mahfud menyerahkan proses hukum itu kepada aparat penegak hukum dalam hal ini Jaksa Agung dan Kapolri. Dia yakin keduanya serius dalam menegakkan hukum demi membersihkan marwah institusinya.

"Dan saya percaya dalam hubungan saya dengan dua pejabat di penegak hukum selama ini jaksa agung dan kapolri ini orangnya cukup serius dan lurus untuk menegakkan hukum untuk membersihkan institusinya dari tikus-tikus yang menggerogoti dirinya," ujarnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap jaksa Pinangki terkait dugaan pertemuan dengan Djoko Tjandra alias Joko Soegiarto Tjandra. Kejagung memutuskan membebastugaskan Pinangki dari jabatannya.

"Wakil Jaksa Agung telah memutuskan, sesuai keputusan Wakil Jaksa Agung Nomor Kep/4/041/B/WJA/07/2020 tanggal 29 Juli 2020 tentang penjatuhan hukuman disiplin tingkat berat berupa pembebasan dari jabatan struktural. Artinya dinon-job-kan kepada terlapor (jaksa Pinangki)," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setiyono, di Kejagung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/7).

Hari menyebut Pinangki terbukti melanggar disiplin. Yaitu, sebut dia, dengan pergi ke luar negeri sebanyak 9 kali selama 2019 tanpa izin tertulis pimpinan, salah satunya bertemu dengan Djoko Tjandra. (detikcom/c)
T#gs Ajukan PKDjoko TjandraJakartaMenko MahfudTak Cukup Dicopotheadline
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments