Selasa, 07 Jul 2020
PalasBappeda
  • Home
  • Headlines
  • Meninggal Setelah Operasi di Penang, Keceriaan Jose Simangunsong Tinggal Kenangan

Meninggal Setelah Operasi di Penang, Keceriaan Jose Simangunsong Tinggal Kenangan

redaksi Rabu, 04 Desember 2019 13:45 WIB
SIB/Dok
Jose selama hidupnya
Tobasa (SIB)
Selaku orang tua, tentunya berbagai upaya akan dilakukan, ketika seorang anaknya mengalami gangguan kesehatan, melalui pengobatan medis dengan harapan, anak akan pulih kembali kesehatannya. Bukan justru kepergiannya untuk selamanya.

Apalagi, sesaat sebelum menjalani operasi, sang anak masih ceria. Tapi usai operasi, keadaannya tak pernah lagi normal, hingga akhirnya meninggal dunia.

Seperti yang diutarakan Ultri Sonlahir Simangunsong, Selasa (3/12) ayah dari Jose Simangunsong siswa SD HKBP 1 Balige, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa, yang kurang lebih 2 bulan lalu meninggal dunia setelah menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Penang Malaysia.

Ultri yang dijumpai SIB di rumahnya di Jalan Sutomo Pagarbatu Balige didampingi isterinya Tetty Elisa Sormin, mengatakan, anak bungsunya yang pintar nyanyi ini, masih begitu ceria saat akan berangkat dan juga sebelum menjalani operasi.

Tapi usai operasi, keadaannya tak pernah lagi normal, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Jose divonis mengidap tumor jinak otak (Craniopharingioma). Adanya masalah pada anaknya, mulai terdeteksi ketika terlihat salah satu matanya mulai tidak sinkron dengan yang lainnya.

Sempat dibawa ke dokter mata dan diberi terapi. Tapi kondisi matanya makin parah. Hingga akhirnya diputuskan untuk memeriksa lebih intens. Lalu pada bulan Agustus 2019, dilakukan MRI otak dan Jose didiagnosa menderita Craniopharingioma (tumor jinak otak).
Awalnya, pada proses-proses terapi, MRI, hingga persiapan ke Penang, Jose tetap terlihat ceria. Memang dari informasi yang diperoleh, bahwa Craniopharingioma merupakan jenis tumor jinak, yang tidak membahayakan, kalau ditangani dengan tepat.

Usai segala persiapan, anaknyapun dibawa ke Penang. 10 September 2019 tiba di Penang, mereka diarahkan kepada dokter spesialis anak. Pada saat itu, dokter spesialis anak merujuk dokter saraf. Oleh dokter saraf, mereka ditawarkan untuk operasi dengan biaya 40 ribu RM (semacam paket operasi). Dokter dimaksud juga menjanjikan kesembuhan dalam waktu 2-3 hari setelah operasi.
Menurut Ultri, sebelum dilakukan operasi, tidak ada keraguan dokter itu tentang kondisi anaknya. Bahkan dokternya begitu yakin.

Bahkan keluarga (ibu Jose red) minta agar dilakukan MRI ulang di Penang, sebelum operasi. Namun oleh dokter, menyebutkan tidak perlu.

"Jadi sebelum operasi dilakukan besok harinya, 11 September, tidak dilakukan MRI ulang. Padahal kita sudah sampaikan agar dilakukan MRI ulang. Tetapi tidak dilakukan lagi MRI ulang, " timpal Tetty Sormin ibu Jose.

Usai operasi, tepatnya tanggal 12 September 2019, pada pukul 01.00 dini hari waktu setempat, Jose sudah kejang-kejang dan terjadi henti napas. Hingga hari-hari selanjutnya, kondisi Jose tidak pernah pulih sebagaimana sebelum masuk meja operasi.
Memang, kata ayah Jose, pada tanggal 14 September 2019, dokter menginformasikan, air dalam otak telah ter-sirkulasi dengan baik. Lalu tidak perlu dipasang selang external drainage (dilepaskan).

Sementara kondisi Jose tetap tidak ada perkembangan signifikan ke arah perbaikan. Meski demikian, dokter pengganti (dokter yang menangani operasi, lagi cuti) tersebut tetap menjanjikan bahwa pasien akan selamat.

Kondisi Jose tidak ada perubahan, hingga akhirnya pada tanggal 26 September 2019, dinyatakan meninggal. Tentu saja semua keluarga sangat terkejut mendengar berita kematian ini. Keluarga hanya ingat, bahwa sebelum operasi kondisi Jose sangat ceria. Dan dokter selaku pihak rumah sakit juga mengatakan, semua akan baik-baik saja.

"Usai operasi, kondisi Jose tidak pernah pulih, bahkan akhirnya meninggal dunia. Tidak pernah ada informasi sedikit pun yang diberikan oleh dokter bahwa ada risiko terburuk, yaitu kematian yang harus dihadapi oleh pasien. Makanya kami sangat terkejut."
"Pada 27 September 2019 sebelum kita bawa 'pulang' Jose, kami hampir 2 jam berkomunikasi dengan dokter yang melakukan operasi, dokter Sopion dan manajer rumah sakit serta humasnya. Dan disebutkan dr Sopion bahwa mereka tidak mengetahui penyebab kematiannya. Dia sebutkan, walau jarang ada data bahwa hal ini pernah terjadi dimana tidak ada pasokan oksigen ke otak. Hal ini membuat kecurigaan kita semakin besar bahwa ada dugaan kelalaian dokter atau pihak rumah sakit dalam melaksanakan SOP operasi," kata Ultri.

Terkait hal ini, Ultri menyebutkan, keluarga sudah memberikan kuasa kepada dr Timbul Tampubolon dan rekan. Untuk kiranya peristiwa yang mereka alami dapat menjadi pelajaran berharga bagi dokter dan Rumah Sakit di Indonesia untuk meningkatkan mutu pelayanan. Juga kepada bapak/ ibu yang mau berobat ke luar negeri supaya semakin berhati-hati dan mendapat perlindungan hukum. "Cukuplah, kami mengalami hal ini supaya ke depan ada perlindungan hukum," urai staf ahli Bupati Tobasa ini. (H01/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments