Rabu, 19 Jun 2019

Silaturahmi AHY ke Jokowi-Mega

Memutus Sejarah Ketegangan Mega-SBY

* PDIP: Bukan Momen Kalkulasi Politik
admin Sabtu, 08 Juni 2019 09:18 WIB
SIB/Dok
SILATURAHMI: Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) serta keluarga bersilaturahmi ke kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang didampingi Puan Maharani, Rabu (6/6).
Jakarta (SIB) -Komandan Kogasma Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beserta adiknya yang juga kader PD, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), bersilaturahmi ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Silaturahmi itu dinilai memutus sejarah ketegangan politik antara Megawati dan Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono.

"AHY ingin memutus dendam atau ketegangan politik sejarah SBY dengan Mega," ujar pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Arie Sujito saat dihubungi, Kamis (6/6).

Arie menekankan ada dua makna penting dari silaturahmi AHY ke Jokowi dan Megawati pada momentum Lebaran kali ini. Yang pertama sebagai proses rekonsiliasi politik pasca-Pilpres 2019.

"Politik yang kemarin menegangkan, (saat) Pemilu 2019 dengan formasi politik yang ada, Demokrat ini kan sedang menghadapi situasi tidak jelas, di persimpangan. Dulu 2014 juga mengalami itu. Nah, 2019 ini adalah pelajaran bagi Demokrat. Jadi menurutku, jalan yang ditempuh oleh AHY mendekati Jokowi itu bagian dari upaya untuk membangun rekonsiliasi," katanya.

Menurut Arie, politik SBY bukanlah politik oposisi dan bukan juga politik konfrontasi. Untuk itu, wajar jika AHY menempuh jalur rekonsiliasi dengan menemui Jokowi dan Megawati.

Sementara itu, pernyataan Prabowo Subianto yang mengungkit pilihan politik Ani Yudhoyono saat melayat ke kediaman SBY telah dirasakan sebagai sebuah pukulan bagi keluarga Yudhoyono. Pernyataan Prabowo itu telah dirasa secara psikologi politik bagi oleh SBY. Hal ini menjadi makna kedua yang penting dari pertemuan AHY dengan Jokowi dan Megawati.

"Itu kemarin itu pukulan yang cukup telak pada keluarganya SBY. Nah, itu menjadi alasan mengapa dua hal itu dijadikan sebagai alasan oleh AHY untuk silaturahmi ke Presiden Jokowi sama Ibu Mega," tuturnya.

Arie menilai pertemuan AHY dengan Jokowi dan Mega telah membuat ketegangan politik Mega dengan SBY hanya menjadi sebuah fakta historis politik yang tidak berlanjut. Dia pun menilai Megawati dan SBY telah merasa ketegangan politik keduanya menjadi kontraproduktif bagi karir politik anak-anaknya.

"Karena itu, menurut saya, penasihatnya AHY itu memanfaatkan pertemuan SBY dengan Mega waktu melayat (pemakaman Ibu Ani) itu, itu sekaligus ditambah Jokowi sangat welcome, untuk membangun rekonsiliasi dan memutus ketegangan politik sejarah yang pernah dibuat orang tuanya," imbuhnya.

"Karena itu, mungkin bakal sering ketemu AHY sama Puan Maharani, nanti pasti ke depan (akan sering ketemu)," lanjutnya.

PDIP: Bukan Kalkulasi Politik
Sementara itu, PDIP menilai silaturahmi AHY ke Jokowi-Mega bukan momen kalkulasi politik.

"Ini momen Idul Fitri, saling silaturahmi, saling bermaaf-maafan. Jadi yang dibangun arsitektur jiwa, modal spiritualitas, bukan momen kalkulasi politik," ujar Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno kepada wartawan, Rabu (5/6).

Hendrawan mengatakan silaturahmi tersebut menunjukkan saat ini sudah tak ada hambatan dan beban psikologis bagi Jokowi, Mega, maupun AHY dan Ibas untuk membangun komunikasi yang lebih baik untuk kepentingan bangsa.

"Yang penting, sudah tak ada hambatan dan beban psikologis untuk membangun komunikasi yang lebih produktif dan sinergistik untuk kepentingan bangsa yang lebih besar dan mendasar," katanya.

Selain itu, menurut Hendrawan, pertemuan tokoh-tokoh politik juga menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki DNA sebagai bangsa yang besar, terutama setelah panasnya situasi politik bangsa pada Pilpres 2019.

"Yang jelas, pertemuan-pertemuan antartokoh politik mengguratkan optimisme bahwa sebagai bangsa kita memiliki DNA sebagai bangsa yang besar. Itulah cita-cita para pendiri bangsa yang harus kita pegang teguh," ujar Hendrawan.

Pramono: Buka Komunikasi
Sementara itu, Politikus PDI Perjuangan Pramono Anung menyebut Megawati dan AHY bersilaturahmi untuk membuka komunikasi.

"Ya itu tadi bahwa itu semua silaturahmi, membuka komunikasi. Kalau komunikasi, mempermudah untuk saling mengerti. Saya yakinlah apa yang menjadi ketegangan pada saat pemilu kemarin," kata Pramono kepada wartawan di kediaman Megawati.

Pramono menyebut Menko PMK Puan Maharani juga mendampingi Megawati dalam pertemuan. Namun pertemuan tersebut terpotong karena kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tapi Pramono memastikan tak ada pembahasan soal politik antara Megawati dan AHY dalam pertemuan itu.

PD: Ini Pertanda Baik
Partai Demokrat juga mengatakan, kunjungan AHY tersebut tak berkaitan dengan politik.

"Kunjungan Lebaran itu adalah kunjungan silaturahmi balasan dan kunjungan silaturahmi ucapan terima kasih atas apa yang dilakukan oleh Pak Jokowi sebagai presiden saat pemulangan jenazah Ibu Ani dari Singapura hingga pemakaman yang cukup baik dan terima kasih atas kehadiran Ibu Mega saat pemakaman Ibu Ani," kata Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean kepada wartawan, Rabu (5/6).

"Inilah tata krama dan etika yang ditunjukkan oleh AHY dan EBY. Mereka menghargai perbuatan baik," lanjutnya.

Menurut Ferdinand, kunjungan AHY dan Ibas itu pun sebagai bagian dari upaya merajut kembali silaturahmi antarelite politik di Indonesia pasca-Pilpres 2019, terutama bagi Partai Demokrat.

"Tentu ini adalah pertanda baik bagi silaturahmi politik elite bangsa. Ke depan tentu akan semakin baik lagi, karena DNA politik Partai Demokrat adalah tidak ada musuh dalam politik, tapi hanya ada kontestasi demokrasi dan setelah itu kita membangun bangsa bersama-sama," tutur Ferdinand.

"Ya, Demokrat tidak mengenal permusuhan dalam politik. Demokratisme kami istilahkan sebagai sikap Demokrat. Dan itulah demokratisme, membangun bangsa di atas kedamaian," sambung dia.

Bamsoet: Perlancar Komunikasi Politik
Sementara itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) juga menilai kedatangan AHY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) ke kediaman Megawati adalah hal baik. Dia menilai lebaran digunakan untuk memperlancar komunikasi politik.

"Ini peristiwa yang sangat baik dan ini menyenangkan. Artinya momentum lebaran ini dipakai untuk melancarkan komunikasi politik," kata Bamsoet di kediamannya.

Dia mengatakan saat lebaran, tak ada gengsi yang dipikirkan oleh para tokoh untuk saling bertemu. Dia menyebut saat lebaran, orang yang lebih muda ke pihak yang lebih tua adalah hal wajar.

"Jadi karena lebaran nggak ada lagi pikiran soal gengsi. Coba kalau nggak lebaran, pasti akan gengsi bertandang ke rumah A, si B. Kalau lebaran yang muda datang ke yang lebih tua, itu wajar," ucapnya.

Selain bicara soal pertemuan itu, Bamsoet juga menyampaikan harapannya ke partai yang mendapat kursi di DPR. Dia berharap semua pihak bekerja sama demi pembangunan bangsa.

"Di DPR. Kita berharap tidak ada lagi sekat-sekat, tidak ada lagi jarak antara, kemarin, 02 01, tidak ada lagi. Jadi yang ada adalah kita sampaikan bersama-sama," ucapnya

Bamsoet juga mengapresiasi semua elite politik yang berupaya mendinginkan suasana pasca pemilu lewat momentum lebaran. Dia mendukung tindakan yang baik dari para elite itu.

"Saya hanya melihat suasananya. Apapun yang dilakukan para elite politik untuk mendinginkan suasana itu harus kita berikan apresiasi, harus kita dukung, dan kita angkat tangan. Angkat tangan bukan menyerah, salut ya," jelasnya.

Ngabalin: Skenario Tuhan
Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin justru memaknai pertemuan itu merupakan campur tangan Tuhan untuk mendamaikan Indonesia.

"Skenario Tuhan untuk membuat Indonesia damai dan teduh itu luar biasa. Karena, dari pertemuan anak-anak para tokoh, para petinggi kita, itu jadi isyarat tentang Indonesia mau difitnah seperti apa pun, kita punya Pancasila, kita punya tokoh-tokoh yang beradab, kita punya kultur," kata Ngabalin di Jalan Widya Chandra III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (5/6).

Ngabalin mengatakan momen Lebaran ini memang menjadi pintu gerbang pertemuan para tokoh politik. Apalagi setelah situasi politik yang memanas di antara dua kubu paslon presiden-wapres pada Pilpres 2019.

"Tadi saya bilang Lebaran itu jadi pintu gerbang pertemuan para tokoh setelah pertarungan politik yang sangat tajam terbelah. Hari Lebaran menjadi satu titik mereka bertemu. Tidak ada lagi penuh dengan kebencian, sirik, semua bertemu dalam suasana kebatinan yang teduh. Indonesia itu luar biasa ya. Allah berikan semua kemudahan-kemudahan," ujarnya.

Politikus Golkar itu pun berharap pada momen Lebaran ini tokoh-tokoh sentral, yakni Prabowo Subianto dan Jokowi, dapat segera bertemu. Pertemuan itu tak lain untuk membuat Indonesia menjadi semakin teduh.

"Kita harap dalam waktu dekat ini tokoh sentral yang diharapkan oleh rakyat Indonesia, membuat suasana lebih teduh bagi bangsa Indonesia," kata Ngabalin.

Ngabalin lalu mengingatkan, kekompakan suatu bangsa diperlukan agar terhindar dari konflik seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. "Jangan lupa Libya, Libanon, Syria itu bukan orang luar yang merusak mereka, tapi internal dalam negara yang tidak bisa kompak. Kita bersyukur kepada Allah karena Indonesia punya Pancasila, seluruh etnis, baik Jawa, Sunda, Papua, Maluku, Timor, Kupang, Batak ada," ucap Ali.

"Dan jangan lupa kita kaya karena kita punya Islam, kita punya Kristen, kita punya Katolik, kita punya Buddha, kita punya Konghucu, Hindu. Seluruh etnis ada di Indonesia," imbuh Ali. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments