Kamis, 13 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • Mayoritas Mahasiswa Ingin Kembali Kuliah Tatap Muka

Mayoritas Mahasiswa Ingin Kembali Kuliah Tatap Muka

Jumat, 10 Juli 2020 09:37 WIB
(Foto: DW (News)/detikNews

Ilustrasi kuliah 

Jakarta (SIB)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar survei soal evaluasi pembelajaran daring atau belajar jarak jauh untuk mahasiswa. Hasilnya, 90 persen mahasiswa menyatakan lebih menyukai kuliah langsung dibandingkan kuliah daring.

"Meskipun tadi kita lihat ketercapaian pembelajaran cukup baik, tapi ketika kita tanya apakah memilih daring atau lebih memilih luring (luar jaringan), 90 persen mengatakan masih lebih baik luring. Jadi pertemuan langsung dengan dosen lebih bagus dibandingkan dengan melalui daring," kata Plt Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud, Nizam, dalam rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (9/7).

Survei Kemendikbud terkait pembelajaran daring atau belajar jarak jauh dilakukan terhadap 230 ribu mahasiswa yang tersebar di 32 provinsi pada akhir Maret 2020. Mahasiswa responden dari tahun masuk kuliah 2015 hingga 2019. Namun, tak dijelaskan lebih lanjut soal metode survei maupun pemilihan responden.

"Yang mengatakan lebih suka daring adalah mereka yang memang sudah siap secara teknologi dan sarana-prasarananya," ungkap Nizam.

Mahasiswa mengeluhkan soal koneksi internet selama kuliah daring. Di sisi lain, Nizam menyebut meski kuliah daring, materi pembelajaran bisa tersampaikan dengan baik.

"Dari survei tersebut kita lihat transformasi pembelajaran daring dengan sangat cepat, dan ternyata kualitas pembelajaran cukup tersampaikan, baik dari sisi materi pembelajarannya maupun alat pembelajarannya," ujarnya.

"Faktor yang mendukung keberhasilan adalah selain kesiapan dosen adalah kesiapan mahasiswa. Yang menjadi masalah adalah koneksi internet yang buruk dan kekurangsiapan dosen di dalam menyiapkan modulnya," sambung Nizam.

Lebih lanjut, Nizam mengatakan pihaknya akan terus melakukan perbaikan kuliah daring. Mutu belajar hingga penggunaan teknologi yang efisien menurutnya masih harus ditingkatkan.

"Teknologi daring ini kita yakini masih banyak yang dapat dan harus kita tingkatkan. Karena ini bisa memperluas jangkauan dan meningkatkan mutu pendidikan karena mahasiswa bisa mengambil mata kuliah lintas perguruan tinggi. Aspek-aspek seperti bahan ajar, metode perkuliahan, dan kerja sama antara perguruan tinggi perlu kita dorong dan tingkatkan," tandasnya.

Sulit Memahami
Kemendikbud juga menggelar survei kepada guru, kepala sekolah, orang tua, dan para siswa terkait evaluasi belajar dari rumah. Hasilnya, mayoritas siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam memahami pelajaran.

"Mayoritas mengalami kesulitan memahami pelajaran, kurang konsentrasi, tidak dapat bertanya langsung kepada guru, sehingga kebiasaan-kebiasaan dari tatap muka bisa interaksi langsung, memahami mata pelajaran langsung dari guru, ketika belajar dari rumah itu membutuhkan perjuangan yang cukup tinggi. Dan anak memang mengaku kesulitan memahami pelajaran ini cukup banyak," kata Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno dalam rapat tersebut.

Anak-anak perempuan mengaku lebih kesulitan dalam pembelajaran daring, meskipun anak perempuan dinilai memiliki kemampuan belajar mandiri lebih baik dibandingkan anak laki-laki. Para siswa, disebut Totok, mayoritas juga tidak setuju dengan metode belajar jarak jauh.

"Persepsi siswa tentang belajar dari rumah ini pada umumnya tidak setuju. Mayoritas tidak setuju. Konsisten dengan mahasiswa tadi, mereka tetap lebih senang belajar tatap muka di sekolah, meski kalau laki-laki lebih dari 40 persen bahwa belajar dari rumah lebih menyenangkan," ujarnya.

Selain itu, Totok mengungkapkan ada kekhawatiran dari para guru di Papua soal belajar jarak jauh. Para guru khawatir para siswa tidak mau lagi kembali ke sekolah setelah metode belajar dari rumah (BDR) ini.

"Yang kami terima informasi dari Papua ketakutan akan kemungkinan putus sekolah. Para guru khawatir setelah BDR ini anak tidak kembali lagi ke sekolah. Ini salah satu isu kebijakan yang perlu kita tangani atau kita cegah sebelum ancaman putus sekolah ini betul-betul terjadi," ungkap Totok. (detikcom/f)

T#gs KemendikbudKuliah Tatap Mukamahasiswakuliah daring
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments