Selasa, 17 Sep 2019
  • Home
  • Headlines
  • Masyarakat Karo Unjuk Rasa di Depan Istana Negara Menuntut Jalan Tol

Merasa Dianaktirikan

Masyarakat Karo Unjuk Rasa di Depan Istana Negara Menuntut Jalan Tol

* Drs Daniel Pinem : Semua Stakeholder Harus Lebih Intens Berjuang ke Pusat
admin Jumat, 16 Agustus 2019 10:40 WIB
SIB/Firdaus Peranginangin
UNJUK RASA : Masyarakat Karo yang tergabung dalam JPS unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta, Rabu (14/8), menuntut Presiden Jokowi segera merealisasikan pembangunan jalan tol Medan-Berastagi, untuk mengatasi kemacetan yang semakin parah.
Medan (SIB) -Masyarakat Karo yang tergabung dalam JPS (Jambur Pergerakan Sienterem) dengan memboyong seperangkat alat music tradisional Karo, unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta, Rabu (14/8) menuntut Presiden Jokowi segera merealisasikan pembangunan jalan tol Medan- Berastagi, guna mengatasi kemacetan.

Menurut tokoh masyarakat Karo, Sudarto Sitepu didampingi aktivis perjuangan masyarakat Karo, Julianus Sembiring dan Yoki Pranata Sinulingga kepada wartawan, Kamis (15/8) melalui telepon, aksi unjuk rasa yang mereka lakukan sebagai bentuk kekecewaan masyarakat Karo atas dibatalkannya rencana pembangunan jalan tol maupun jembatan layang oleh Kementerian PUPR.

"Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan kita mendengar penjelasan Staf Ahli Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian PUPR, Achmad Gani Ghazali Akman, yang mengatakan pembangunan tol (bebas hambatan) maupun jembatan layang di jalur Medan–Berastagi belum bisa dilaksanakan," ujar Sudarto.

Sudarto yang juga mantan anggota DPRD Sumut itu menegaskan, masyarakat Karo meminta kepada Presiden Jokowi untuk mendengar tangisan dan jeritan masyarakat Kabupaten Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Samosir, Humbang Hasudutan, Simalungun, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Tengah yang sangat merindukan pembangunan jalan tol Medan– Berastagi, untuk menghindari kemacetan.

"Ribuan ton buah-buahan dan sayur-sayuran dari berbagai kabupaten rusak dan membusuk sehingga tidak laku lagi di Pasar Induk Medan, akibat terjebak kemacetan berjam-jam di tengah jalan. Kejadian seperti itu bukan sekali dua kali, tapi sudah teramat sering. Untuk mengatasinya, hanya membangun jalan tol," ucapnya.

Dalam tuntutannya, masyarakat Karo menilai, Kementerian PUPR sepertinya hanya memprioritaskan pembangunan tol di daerah-daerah tertentu, bahkan ada yang sepertinya dipaksakan. Sementara Jalan Medan–Berastagi sudah bertahun-tahun darurat macet dan seperti kisah horor yang sangat menakutkan, terkesan diabaikan.

"Apabila jalan tol belum dapat direalisasikan pemerintah pusat, kita meminta sesuai dengan usulan Ikatan Cendekiawan Karo (ICK) Sumut, yaitu dengan membangun jalan layang sejajar dengan jalan sekarang sepanjang 1,6 Km dengan dana Rp400 miliar di daerah Bandarbaru dan sepanjang 700 meter di tikungan PDAM Tirtanadi dengan dana Rp200 miliar, " ungkap Sudarto.

Konsep ICK yang berbasis ilmiah dengan penjiwaan karakter medan jalan yang berkelok-kelok serta bertebing-tebing, tambah Julianus, diyakini solusi cerdas menjawab seringnya di kedua lokasi itu macet parah akibat longsor maupun mobil-mobil berbadan besar yang rusak di tengah badan jalan.

Berkaitan dengan itu, Sudarto dan Julianus mengingatkan pemerintah pusat untuk segera menyahuti aspirasi masyarakat Karo dengan sesegera mungkin mengalokasikan anggaran pembangunan jalan tol Medan-Berastagi di APBN 2020, agar masyarakat di bagian utara KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) Danau Toba tidak merasa dianaktirikan.

"Untuk itu, kami meminta Presiden Jokowi jangan menganaktirikan Kabupaten Karo dalam pembangunan infrastruktur modern berskala nasional, walau bagaimana pun Jokowi dalam dua kali Pilpres menang di atas 93 persen di Karo," beber Sudarto sembari meminta Presiden menginstruksikan kepada Menteri PUPR, agar pembangunan jalan tol Medan–Berastagi diprioritaskan dalam APBN 2020.

Jika usulan masyarakat Karo tetap diabaikan, tambah Julianus, massa JPS akan terus bergerak dengan massa yang lebih besar lagi, karena masyarakat sangat resah atas kondisi jalan yang satu-satunya menghubungkan ke Kota Medan, dengan sejumlah kabupaten, baik di Sumut maupun Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ini nyaris tiap hari terjadi kemacetan.

"Sebagai pintu gerbang KSPN Danau Toba bagian Utara, betapa pentingnya dilakukan peningkatan Jalan Medan–Berastagi, berupa pembangunan jalan tol maupun jembatan layang, guna meningkatkan daya saing sejumlah daerah di bagian utara KSPN Danau Toba tersebut," ucap Julianus.

Harus Lebih Intens
Belum bisa direalisasikannya jalan Tol Medan-Berastagi sedikit banyaknya pasti mengecewakan masyarakat Karo. Jalan bebas hambatan itu sudah lama didambakan masyarakat karena hal itu bisa meningkatkan perekonomian rakyat.

"Apalagi di kawasan Berastagi selama ini dikenal sebagai salah satu objek wisata. Kalau pada hari libur dan Minggu, biasanya jalanan padat sehingga bisa mengurangi minat para wisatawan datang ke sana," ujar Drs Daniel Pinem yang juga Anggota DPRD Medan kepada SIB, Selasa (13/8) di kantor dewan Medan.

Disebutkannya, untuk bisa merealisasikan keinginan masyarakat terkait jalan Tol Medan-Berastagi, hendaknya para pengusung lebih intens memperjuangkannya ke pemerintah pusat.

Selain pihak Pemprovsu, hendaknya perwakilan di DPR RI dan semua pihak yang terkait, sama-sama berjuang lebih keras hingga bisa terwujud. Jalan Tol itu sangat vital bagi masyarakat, karena jalur itu dipakai masyarakat Karo, Dairi, Pakpak Barat hingga ke Aceh Tenggara.

"Begitu pentingnya infrastruktur jalan itu bagi masyarakat, karena jalan itu merupakan satu-satunya akses dari Medan-Berastagi. Sedangkan kalau melalui Pematangsiantar, akan semakin jauh dan mengakibatkan waktu tempuh yang lama," ujarnya.

Disebutkannya, sudah sejak lama diusulkan adanya pembangunan jalan Tol Medan-Berastagi, namun selalu saja gagal. Sudah seharusnya pemerintah mendengarkan keluhan masyarakat Karo yang mendambakan jalan bebas hambatan itu.

Dengan jarak Medan-Berastagi tidak sampai 65 Km, jarak tempuhnya bisa mencapai 1,5-2 jam. Kalau pembangunan jalan tol itu direalisasikan, diyakini jarak waktu tempuh bisa sekitar 45 menit.

"Bayangkan saja susahnya pengunjung ke Berastagi kalau melintas saat hari besar ataupun libur, bisa mencapai 5 jam atau lebih. Bahkan pada tahun baru, pernah waktu tempuh sampai 8 jam dari Berastagi sampai Medan," sebutnya.

Untuk itu diharapkan pemerintah bisa merealisasikan jalan tol tersebut karena akan memperlancar semua urusan, bisa meningkatkan perekonomian rakyat, meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tanah Karo dan lainnya. (M03/M13/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments