Minggu, 27 Sep 2020
  • Home
  • Headlines
  • Masuk Kawasan Hutan, 500 an KK Masyarakat Desa Meranti Utara Mulai Resah

Masuk Kawasan Hutan, 500 an KK Masyarakat Desa Meranti Utara Mulai Resah

* Tiran Siagian : Sejak Zaman Belanda, Kakek Saya Sudah Kepala Nagari di Sini. *Selain Basecamp PLTA Asahan III, Juga Berdiri Pos Polisi, Sekolah dan Gereja
Selasa, 28 Januari 2014 11:16 WIB
SIB/Int
Ilustrasi
Tobasa (SIB)- Sekira 500-an KK masyarakat Desa Meranti Utara, Kecamatan Pintu Pohan Meranti Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumut,  bingung dan resah sejak berdirinya basecamp proyek PLTA Asahan III.

Padahal daerah tersebut dinyatakan masuk kawasan hutan seperti tertuang dalam SK 44. Sesuai pengamatan SIB, Senin (27/1), di lokasi berdirinya basecamp PLTA Asahan III  itu juga telah berdiri kantor pos polisi, sekolah dan gereja.

Mendengar kabar bahwa bupati Tobasa diperiksa oleh Polda Sumut terkait jual beli lahan di mana berdirinya basecamp PLTA Asahan III tersebut, semakin membingungkan masyarakat.

Kebanyakan masyarakat yang dikonfirmasi SIB terkait hal ini mengatakan, kenapa setelah peletakan batu pertama dan peresmian basecamp PLTA Asahan III  dan peresmian kantor pos polisi, baru muncul istilah kawasan hutan.

Padahal sudah ratusan tahun  nenek moyang mereka mendiami daerah tersebut. Bahkan tokoh masyarakat Desa Meranti Utara Tiran Siagian, mengaku bingung karena sejak dulu tidak ada sosialisasi tentang daerah tersebut dinyatakan masuk kawasan hutan.

Menurut Tiran sejak zaman Belanda kakeknya sudah menjabat sebagai kepala nagari yang ketika itu daerah tersebut masih bernama Negeri Meranti.

Bahkan sejak tahun 1980 an, saat masih bergabung dengan Kabupaten Taput, hingga tahun 2002 sudah banyak masyarakat yang mengurus surat sertifikat tanah. “Yang pasti masyarakat menolak daerah ini masuk kawasan hutan. Secara pribadi, hidup mati saya ada di sini”, tegasnya.

Tiran Siagian juga mengaku bahwa tanah tempat berdirinya basecamp PLTA Asahan III dibeli Kasmin Simanjuntak Bupati Tobasa, dari empat kepala rumah tangga, termasuk dirinya.

Kemudian lahan tempat berdirinya kantor pos polisi dihibahkan keluarga Tiran kepada Polres Tobasa. Menurut Tiran, pembangunan pos polisi itu dibiayai oleh PLTA Asahan III.

Sementara itu Kepala Desa Meranti Utara Tupan Hutagaol, mengatakan, masyarakat Meranti Utara sudah sejak dulu kala mendiami daerah tersebut, bahkan bila dihitung sudah memasuki lebih dari 17 keturunan.

Menurutnya, jika sekarang Desa Meranti Utara dinyatakan kawasan hutan itu menunjukkan bahwa selama ini penduduk Meranti Utara disamakan dengan orang utan. Hal ini dikatakan Tupan juga ketika Dinas Kehutanan Provsu melakukan survey ke desa itu.

Diutarakannya juga bahwa sejak kecil dirinya sudah melihat orang tuanya telah mengurus surat sertifikat tanah sejak tahun 1980 an. Hal ini bisa dibuktikannya jika suatu saat diminta pihak-pihak terkait guna memperjelas sejarah kehidupan masyarakat Desa Meranti Utara.

”Mayoritas masyarakat Desa Meranti Utara sudah membuat sertiffikat tanah. Di desa ini telah berdomisili lebih dari 500 KK atau ribuan jiwa”, tegasnya.

Tupan Hutagaol mengharapkan adanya ketegasan dari pemerintah, khususnya pemerintah pusat, terkait status tanah di daerahnya guna menghindari dampak negatif bagi kehidupan bermasyarakat.

Ditegaskannya pula sudah pasti masyarakat Desa Meranti Utara menolak jika daerah tersebut masuk dalam kawasan hutan karena bisa berdampak kepada kesengsaraan hidup masyarakat desa.

”Selama ini hidup kami sudah tenang, kenapa tiba-tiba ada istilah kawasan hutan. Kami juga heran, kenapa bupati dilibatkan sementara tanah itu dibeli dari orang lain”, katanya.

Manager Proyek PLTA Asahan III, Sutan Hutasoit, saat dikonffirmasi SIB, Senin (27/1), di ruang kerjanya di Dusun Batu Mamak Desa Meranti Utara, terkait berdirinya basecamp dan kantor pos polisi di sekitar proyek Asahan III sepertinya enggan berkomentar dengan alasan masih ada Humas PLN yang berkantor di Medan. ”Silahkan bapak konfirmasi ke Humas PLN  Medan saja, ya”, ujarnya.(BR6/ r)
T#gs Hutan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments